Internasional

Hun Sen Bersedia Dialog Dengan Oposisi

Thursday, 01 Agustus 2013 | View : 1038

PHNOM PENH-SBN.

Pada hari Rabu (31/7/2013), penguasa Kamboja, Hun Sen menyatakan partainya siap berdialog dengan oposisi setelah kedua kubu sama-sama mengklaim keluar sebagai pemenang dalam Pemilihan Umum (Pemilu) pada hari Minggu (28/7/2013). “Dialog dibutuhkan untuk mencapai kompromi,” tandas Hun Sen. Namun, Hun Sen tetap menyebut dirinya sebagai Perdana Menteri (PM) terpilih.

“Kami membuka hati untuk berkompromi guna menciptakan kepemimpinan parlementer. Kami harus menghargai keputusan rakyat. Jika tidak dan itu berbuah kekerasan, seluruh negeri bisa kacau dan bukan itu yang diinginkan oleh rakyat,” tutur Hun Sen di sela inspeksi pembangunan sebuah jembatan di Phnom Penh.

Masa kampanye dan pemungutan suara pada Minggu (28/7/2013) itu secara umum berlangsung damai. Namun, situasi di ibu kota Phnom Penh tetap tegang. Walaupun aktivitas bisnis sudah kembali normal, polisi dan tentara masih berjaga di jalan-jalan.

Hun Sen yang berusia 60 tahun sudah menjadi Perdana Menteri selama 28 tahun. Di masa lampau, Hun Sen selalu memberangus perbedaan pendapat. Hun Sen tetap mengendalikan penuh Partai Rakyat Kamboja (CPP). Hun Sen pegang pula kendali atas jaringan bisnis, pemerintah, dan sekutu-sekutu di kalangan militer.

Rabu (31/7/2013) pagi waktu setempat, kubu oposisi Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP) mengklaim sebagai pemenang Pemilu. Pengacara dan Juru Bicara CNRP, Yim Sovann menyebutkan partainya meraih 63 kursi dari 123 kursi parlemen yang diperebutkan. Sedangkan, CPP meraih 60 kursi,” kata Yim Sovann. “Ini berdasarkan hasil-hasil suara yang kami kumpulkan dari berbagai provinsi. Angka-angka ini harus diinvestigasi,” ucap dia lagi.

Pada Minggu (28/7/2013) tengah malam waktu setempat, pemerintah Kamboja mengumumkan bahwa CPP meraih 68 kursi dan sedangkan, Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP) dilaporkan meraih 55 kursi. Partai Rakyat Kamboja (CPP) pimpinan Hun Sen pada Minggu (28/7/2013) tengah malam waktu setempat mengklaim perolehan 68 dari 123 kursi di majelis rendah parlemen. “Kami bisa mengatakan sebagai pemenang Pemilu ini,” ucap Juru Bicara Partai Rakyat Kamboja (CPP), Khieu Kanharith.

Perolehan kursi ini menunjukkan hasil Pemilu terburuk bagi CPP sejak Kamboja kembali menjadi negara demokrasi penuh pada tahun 1998. Jumlah perolehan kursi CPP versi pemerintah itu menunjukkan penurunan tajam dibandingkan hasil Pemilu yang sebelumnya. CPP sebelumnya menguasai sebanyak 90 kursi di parlemen. Dengan demikian, CPP kehilangan 22 kursi.

Kubu oposisi Kamboja, CNRP menolak hasil Pemilu Minggu (28/7/2013), yang memunculkan Perdana Menteri (PM) Hun Sen sebagai pemenang diumumkan oleh pemerintah Kamboja. Kubu oposisi, CNRP menduga terjadi kecurangan dan pelanggaran di mana-mana. CNRP menuding kemenangannya dirampok oleh kecurangan masif pada hari pemungutan suara. CNRP bertekad untuk berunjuk rasa di seluruh negeri kecuali kecurangan-kecurangan itu diinvestigasi.

Hun Sen mendukung penyelidikan tersebut. “Jika NEC menyatakan perlu bagi partai-partai politik, organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan untuk ikut serta, pemerintah dan CPP akan menyambut baik penyelidikan itu untuk menunjukkan transparansi,” tutur Hun Sen. “Selain itu, biar ada resolusi yang bisa diterima oleh seluruh rakyat,” tambah Hun Sen.

Kubu oposisi Kamboja, CNRP yang mendapat sokongan besar selama kampanye dengan kembalinya Sam Rainsy dari pengasingan meminta pembentukan komite penyelidik beranggotakan semua partai politik, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), otoritas Pemilu, dan lembaga-lembaga non-pemerintah. Oleh sebab itu, CNRP meminta penyelidikan yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

CNRP mengklaim 1,25 juta pemilih terdaftar tidak bisa menggunakan hak suaranya. Pada saat yang sama, terdapat 1 juta lebih ‘pemilih siluman’ dan 200.000 pemilih ganda. “Ada 1,2 juta sampai 1,3 juta warga yang namanya tak tercantum di daftar pemilih tetap. Sebaliknya, ada nama-nama siluman di daftar pemilih itu,” tutur Sam Rainsy. “Mereka menghapus hak pilih kami. Jadi mana bisa mengakui hasil Pemilu ini?” ujar Sam Rainsy. CNRP juga mengklaim ribuan orang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), namun hak pilihnya sudah digunakan oleh orang lain.

Pemimpin CNRP, Sam Rainsy menyatakan partainya meraih 63 kursi dan bertekad membatalkan ‘kemenangan’ CPP. “Pemilu tersebut menunjukkan kemenangan bangsa dan siap berdialog dengan oposisi,” tandas Hun Sen.

Kelompok-kelompok HAM juga prihatin dengan kualitas tinta sebagai penanda pemilih sudah menggunakan hak suaranya. Tinta itu, menurut mereka, sangat mudah dihapus.

Hun Sen adalah mantan kader Khmer Merah yang kemudian membelot. Hun Sen bertekad untuk tetap langgeng berkuasa sampai usia 74 tahun.

Hun Sen memimpin transformasi Kamboja dari negara yang luluh lantak akibat era pembantaian pada akhir 1970-an menjadi negara dengan perekonomian termasuk paling bergairah di Asia Tenggara.  CNRP baru terbentuk tahun 2012 lalu sebagai hasil merger dua partai oposisi. Sam Rainsy baru kembali dari pengasingan pada 19 Juli 2013 setelah mendapat pengampunan dari monarki. Pengampunan itu direkomendasikan oleh Hun Sen dan diduga atas tekanan negara-negara donor yang menuntut Pemilu bebas serta adil.

Kubu oposisi merasa sebelum Pemilu berlangsung pun, kemenangan Hun Sen tak ada artinya karena Sam Rainsy tidak diperkenankan ikut mencalonkan diri. “Sangat sulit untuk menilai bahwa Pemilu berlangsung bebas dan adil,” kata Kol Preap, Direktur Eksekutif Transparansi Internasional Kamboja. “Saya piker tidak ada kesetaraan dalam prosesnya. Tidak ada akses yang sama kepada media,” tambah dia. “Pemimpin oposisi juga tidak diperbolehkan maju sebagai kandidat,” tukas Kol Preap, Direktur Eksekutif Transparansi Internasional Kamboja.

Komite Pemilu Nasional (NEC) Kamboja menampik terjadinya kecurangan-kecurangan itu. Komite Pemilu Nasional (NEC) Kamboja belum merilis hasil resmi Pemilu. NEC menyatakan hasil resmi belum akan keluar sampai setidaknya pertengahan Agustus tahun 2013. (afp/rtr)

See Also

SURVIVAL MINDSET
Malaysia Akan Cabut Lockdown Kalau Kasus Virus Corona Dibawah 4.000
Naftali Bennett Perdana Menteri Israel Yang Baru
Tabrakan 2 Kereta LRT Di Malaysia Jadi Insiden Pertama Sejak 23 Tahun
Perdana Menteri Malaysia Perintahkan Tabrakan 2 Kereta LRT Diusut
2 Kereta LRT Bertabrakan Di Malaysia
Tabrakan 2 Kereta LRT Di Malaysia
Penembakan Massal Terjadi Di Indianapolis
Thailand Dan Vietnam Segera Tarik Warganya Dari Myanmar
Banjir Di Vietnam Dan Kamboja Telan 40 Korban
PM Polandia Dikarantina Usai Kontak Dengan Pasien Covid-19
Kanselir Jerman Peringatkan Eropa Soal Situasi Serius Akibat Covid-19
Menteri Kerjasama Pembangunan Jerman Kritik Kurangnya Kesadaran Global Atasi Krisis Kelaparan
Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
jQuery Slider
Arsip :2022202120202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 9.517.560 Since: 05.03.13 | 0.1748 sec