Opini

Kemajuan Biomedis Vs Etika

SBN

CBS 5 San Francisco pernah merilis berita tentang sembuhnya Timothy Ray Brown dari HIV/AIDS dan leukemia yang dideritanya sejak 1995 (functional cure), melalui teknik pencangkokan sumsum tulang (stem cells and bone marrow transplants). Kesuksesan teknologi biomedis dalam kasus Brown ini menyisakan banyak persoalan, terutama menyangkut etika.

Pada 2008, Brown tinggal di Berlin dan di sanalah ilmuwan melakukan cangkok tulang sumsum untuk mengobati leukemianya. Ilmuwan mengatakan, Brown mendapat sumsum dari donor yang termasuk dalam 1% Caucasians kebal HIV. 

Brown adalah orang pertama yang berhasil melenyapkan virus HIV dari tubuhnya melalui pencangkokan tulang sumsum. Menurut Jay A. Levy, profesor dan peneliti AIDS dan kanker dari University of California, San Francisco (UCSF), kesuksesan kasus Brown membuka pintu riset penyembuhan. Bahkan Paul A. Volberding, profesor ilmu medis, juga dari UCSF, percaya adanya satu elemen pengobatan yang memungkinkan virus keluar dari tubuh Brown.

Ini adalah bukti kemajuan biomedis dan teknologi yang melaju dengan sangat pesat dan spektakuler. Kemajuan bidang ini malah diprediksi telah melampaui konsep-konsep dalam sains, filosofi, maupun teologi. 

Namun, bagaimanapun juga keberhasilan “mengeluarkan” virus AIDS dari dalam tubuh Brown dengan cara pencangkokan tetap akan menimbulkan perdebatan moral dan etika di masa depan.

Kontroversi Biomedis 

Cara mengatasi masalah dalam kasus Brown ini juga tak jauh bedanya dengan teknik kloning, yang masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Dari segi etimologis, istilah cloning atau pengklonan berasal dari bahasa Yunani klonos yang artinya ranting, cabang kecil (twig). Jadi, teknik pengklonan manusia atau manusia “salinan” berarti menjiplak blueprint sel donornya atau kumpulan sel turunan dari sel induk tunggal dengan reproduksi aseksual untuk menghasilkan sama persis atau kembar identik dengan karakteristik donornya.

Herbert John Webber (1865-1946), plant physiologist dari Amerika Serikat adalah pencipta kata clone. Dalam catatan sejarah pengklonan, hanya domba Dolly yang sukses dari kemungkinan 277 sel yang dikembangkan oleh pakar rekayasa genetika, Ian Wilmut dan tim The Roslin Institute dari University of Edinburgh. Selebihnya, terjadi kelainan pertumbuhan dan itu harus dimusnahkan dari hasil teknik pengklonan domba Dolly pada 5 Juli 1996. 

Ini semakin membuktikan bahwa pada mamalia akan selalu mungkin terjadi keguguran spontan, janin tidak tumbuh, rusaknya sistem kekebalan tubuh, radang paru-paru, gagal fungsi hati, kelainan darah, kelainan fungsi jantung, umur pendek, tanda-tanda penuaan dini, dan berbagai pembentukan organ yang tidak sempurna. Dalam konteks human cloning, memusnahkan embrio berarti pembunuhan.

Panayiotis Michael Zavos, pakar kesuburan dan reproduksi dari Kentucky menyatakan, tahun 2002 sebagai “The Year of Human Clones” ketika saat itu dimulai rancangan manusia kloning pertama di dunia dengan menelan biaya US$ 1 juta. Pada 20 Mei 2003, Zavos mengumumkan ciptaan embrio manusia kloning. Pada April 2009, Zavos menegaskan telah mengklonkan 14 embrio manusia dan mentransfer, memindahkan, serta menempatkan 11 di antaranya ke rahim atau kandungan empat orang wanita (in-vitro fertilization). 

Namun, secara medis, pengklonan bukan tanpa masalah. J. Kerby Anderson, dalam karyanya “Genetic Engineering” mengungkapkan masalah serius yang diakibatkan penyambungan gen serta terapi batang sel. Masalah-masalah tersebut yakni pertama, adanya organisme yang lepas, menciptakan penyakit-penyakit baru, dan menciptakan ketidakseimbangan di dalam dunia mikro yang sudah tertata sangat halus.

Kedua, terkait problem sosial dan hukum. Ketiga, penyambungan gen serta terapi batang sel merupakan etika humanistik “tujuan membenarkan cara”. Allah membuat manusia “dalam peta dan teladan-Nya” (imago Dei). Penyambungan gen serta terapi batang sel merupakan campuran dari kategori manusia dan hewan yang bisa menghasilkan macam-macam organisme biologi yang baru dengan menyambung gen-gen yang satu kepada yang lain. 

Keempat, penyambungan gen manusia serta terapi batang sel memperlihatkan nafsu dan keinginan manusia untuk berdaulat atas ciptaan, yang berarti suatu penolakan terhadap Sang Pencipta serta suatu upaya yang merencanakan kembali alam.

Hormati Kekudusan 

Secara khusus Allah menciptakan manusia di dalam keserupaan-Nya. Allah memberikan perintah-perintah moral untuk menjaga martabat, menghormati kekudusan hidup, dan tanggung jawab manusia. Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah selamanya, bukannya malah mempermainkan Allah.

Kloning telah melanggar prinsip karena manusia bukanlah pencipta kehidupan, melainkan hanya pemelihara hidup manusia. Teknologi pengklonan mengabaikan cara-cara perkembangbiakan manusia yang telah ditetapkan Allah. Kloning manusia merusak struktur keluarga, tatanan rumpun, dan komunitas manusia. Melalui dan dalam kloning, seperti kata Teolog Pendeta Dr. Stephen Tong, manusia tidak bisa menggantikan pengalaman.

Jadi, intervensi medis seharusnya dan seyogianya bersifat memperbaiki hidup bukan berusaha merekonstruksi apa yang sudah diciptakan Allah apalagi menciptakan hidup. Biomedis dan teknologi harus melayani moral, bukan sebaliknya, diperalat untuk membenarkan hampir segala sesuatu yang ingin manusia implementasikan. (jos)

See Also

4 Alasan Mengapa Kita Perlu Berdoa Pada Waktu Menderita
Pemimpin Politik Berkarakter
Mengasihi Allah Dan Sesama Pada Masa Covid-19
Hidup Bersama Dalam Harmoni
Berdiri Di Dua Kaki
Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Autis Dan UN Habitat
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Sjahrir Dan Kisah Cintanya
jQuery Slider
Arsip :2021201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 9.344.038 Since: 05.03.13 | 0.1996 sec