Hukum

Keluarga Sisca Yofie Temui Wakapolri

Monday, 30 September 2013 | View : 1336

JAKARTA-SBN.

Penyelidikan terhadap kasus pembunuhan wanita cantik, Kepala Cabang Bandung PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Franceisca Yofie alias Sisca (34) secara sadis dan keji di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) lalu dinilai mengandung banyak kejanggalan.

Kilas balik peristiwa kejadian, Senin (5/8/2013) silam atau bertepatan waktu buka puasa, dua pelaku menyergap Sisca Yofie di depan rumah tempat indekosnya, Jalan Setra Indah Utara No.11, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Sudah 1,5 tahun Sisca yang tercatat memiliki KTP Bandung ini indekos di rumah tergolong mewah milik Sinurat. Pelaku yang dibonceng menjambak dan menyeret tubuh Sisca Yofie sejauh satu kilometer sembari motor melaju kencang. Momen mengerikan itu terekam kamera closed circuit television (CCTV) yang terpasang di rumah warga. Kedua pelaku diduga pria itu kompak menggunakan helm full face. Korban tertelungkup tak berdaya serta bersimbah darah di tengah jalan berlapis beton, Jalan Cipedes Tengah, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Kisah tragis itu akhirnya merenggut nyawa wanita yang menjabat Branch Manager PT. Verena Multi Finance Tbk. di Jalan Pungkur, Kota Bandung. Hasil autopsi tim forensik Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Sisca Yofie mengalami luka lecet seluruh tubuh dan luka terbuka di dahi akibat senjata tajam. Dalam kasus pembunuhan sadis terhadap Sisca Yofie tersebut, penyidik Polrestabes Bandung telah menetapkan sejumlah tersangka, di antaranya D, E, K, dan D, serta dua orang eksekutor Sisca Yofie, Wawan dan Ade.

Sebanyak 5 anggota keluarga almarhumah Sisca Yofie beserta kuasa hukum mereka, Ramdan Alamsyah menemui Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi (Komjen. Pol.) Drs. Oegroseno, S.H., untuk meminta Polri mengusut tuntas kasus pembunuhan sadis yang menimpa Sisca Yofie, yang tewas setelah diseret sepeda motor dan dibacok oleh pelaku, pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) lalu di Cipedes, Sukajadi, Bandung, Jawa Barat. Keluarga almarhumah Sisca Yofie menyambangi Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) guna mendapat penjelasan dan keadilan. Keluarga korban pembunuhan di Cipedes, Kota Bandung pada 5 Agustus 2013 ini merasa masih ada yang janggal dalam penanganan kasus sadis tersebut. “Siang ini, 30 September 2013, pukul 14.00 WIB, keluarga Sisca Yofie akan mendatangi Mabes Polri untuk bertemu dengan Wakapolri Oegroseno,” kata kuasa hukum keluarga Sisca Yofie, Ramdan Alamsyah, di Jakarta, Senin (30/9/2013).

Ramdan Alamsyah mengatakan, rencananya ia akan mendampingi pihak keluarga Sisca Yofie saat menemui orang nomor dua di korps Bhayangkara tersebut. Adapun, tujuan kedatangan keluarga almarhumah dara cantik Sisca Yofie itu, yakni untuk meminta Polri melakukan pengusutan secara tundas, mendalam, dan terbuka, mengingat banyak kejanggalan-kejanggalan dalam pengungkapan perkara ini. Kepada wartawan, Ramdan Alamsyah selaku pengacara yang mendampingi keluarga Sisca Yofie, mengungkapkan maksud kedatangannya. Keluarga Sisca Yofie ingin bertemu dengan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Oegroseno supaya penanganan kasus pembunuhan sadis Sisca Yofie dijelaskan sesuai fakta yang benar. “Artinya keluarga menilai masalah ini sangat janggal,” terang Ramdan Alamsyah saat ditemui di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (30/9/2013). Keluarga korban pembunuhan sadis terhadap almarhumah Sisca Yofie mendatangi Markas Besar Kepolisian RI, untuk bertemu Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Oegroseno, Senin (30/9/2013).

Keluarga Sisca Yofie tidak puas dengan hasil penyelidikan ini, keluarga Sisca Yofie mendatangi Mabes Polri. Mereka meminta bantuan kepada Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Oegroseno terkait ketidakpuasan pihak keluarga dengan kinerja kepolisian dalam mengungkap pembunuhan tersebut. Elvie, kakak kandung almarhumah Franceisca Yofie alias Sisca mengaku tidak puas atas hasil penyidikan Polda Jawa Barat terkait pembunuhan adik kandungnya. Elvie bersama kuasa hukumnya mendatangi Mabes Polri untuk meminta ketergasan Polri dalam mengusut kasus pembunuhan adiknya itu. “Kita datang ke Wakapolri untuk meminta ketegasan. Kita belum puas," kata Elvie, kakak kandung mendiang Sisca Yofie, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (30/9/2013).

Keluarga almarhumah Fransceisca Yofie alias Sisca, korban pembunuhan, menemui Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri), Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno di Mabes Polri, Jakarta, Senin (30/9/2013). Keluarga almarhumah mendesak Polri membuka fakta seluas-luasnya terkait kasus pembunuhan itu. Kuasa Hukum keluarga almarhumah Sisca Yofie, Ramdan Alamsyah, mengatakan pihaknya ingin masalah ini dibuka seluas-luasnya. “Keluarga ingin menemui Oegroseno. Kita meminta masalah ini dibuka seluas-luasnya, sesuai dengan fakta yang sebenar-benarnya. Artinya keluarga menilai masalah (kasus pembunuhan) ini sangat janggal,” ujar Kuasa Hukum Keluarga Sisca Yofie, Ramdan Alamsyah, kepada wartawan.

“Keluarga menilai masalah ini sangat janggal," ujar Ramdan Alamsyah kepada wartawan di Jakarta, Senin (30/9/2013). Pihak keluarga, tambah Ramdan Alamsyah, ingin masalah pembunuhan Sisca Yofie diungkap secara tuntas. Menurut Ramdan, analisa Kepolisian Resor Kota Besar Bandung belum mengungkap kasus secara sunguh-sungguh.

Keluarga Sisca Yofie menilai adanya kejanggalan dalam peristiwa ini. Sebab, pernyataan yang disampaikan polisi atas penelusuran kasus kematian adiknya berbeda satu sama lain. “Pertama (dikatakan) pembunuhan dan sekarang penjambretan. Kita mau minta pihak aparat hukum menolong kita dan membantu untuk mengungkap dengan baik,” tuturnya. Untuk itu, kata dia, pihak keluarga akan terus mencari kebenaran seutuhnya terkait pembunuhan Sisca Yofie. Itu karena, dengan luka-luka yang berada di tubuh Sisca Yofie sama sekali tidak menggambarkan bahwa Sisca terbunuh karena penjambretan biasa. “Ya itu kita cari kebenarannya, kita ingin sampai sejelas-jelasnya terungkap dengan benar dan bisa seusai dengan apa yang ada. Jangan sampai ada membuat kita merasa ada yang belum sampai,” tuturnya.

Kuasa hukum keluarga Sisca Yofie, Ramdan Alamsyah pun mengatakan, meninggalnya Sisca Yofie tidak mungkin hanya berupa pembunuhan biasa yang dilakukan perampok. Banyaknya hal yang janggal membuat pihaknya pun sudah mendatangi Kejaksaan Tinggi Bandung. Hal itu dimaksudkan agar Jaksa bisa melihat dan memberi masukan pada penyidik untuk mengungkap lebih dalam masalah ini.

Ramdan Alamsyah mengatakan ada beberapa kejanggalan di balik tewasnya Sisca Yofie. Pertama, katanya, adalah pertanyaan soal apakah benar rambut korban itu ditarik atau menempel pada gear motor. “Kedua, apakah dengan semudah itu dari orang-orang yang di BAP sebelum adanya perampokan? Masa iya pelaku itu menegur 'bu, bu,' itu kan satu hal yang tidak mungkin,” imbuhnya. Ketiga apa benar seorang perempuan mampu merangkul sebegitu erat dari jarak sekian meter tidak terputus. "Itu kan sangat janggal," tambah dia. Maka itu, kata Ramdan Alamsyah penyelidikan tidak dilakukan hanya sebatas yang dituturkan pelaku, tapi juga dari penuturan orang sekitar yang melihat Sisca Yofie ditarik dan dipegang dengan tangan. "Maka demikian, ini adalah perkara sagat besar. Keinginan keluarga ingin mendapatkan keadilan. Setidaknya ini dijelaskan secara gamblang. Apa motif sesungguhnya pembunuhan Sisca ini,” tukasnya.

Hal senada dikatakan Kuasa Hukum Keluarga Sisca Yofie, Ramdan Alamsyah. Menurut Ramdan Alamsyah, pihak keluarga menilai kasus ini sarat dengan berbagai kejanggalan. Untuk itu, ia meminta kepolisian membuka kasus ini sesuai dengan fakta sebenarnya. “Kita dampingi keluarga Sisca. Keluarga ingin menghadap Oegroseno. Kita ingin meminta masalah ini dibuka seluas-luasnya sesuai dengan fakta yang sebenar-benarnya. Artinya, keluarga menilai masalah ini sangat janggal,” tuturnya.

Kuasa hukum keluarga Sisca Yofie, Ramdan Alamsyah mempertanyakan analisa penyidik dari Polrestabes Bandung. Padahal pada mulanya, penyidik menyatakan adanya unsur pembunuhan berencana dalam kasus ini. Namun, kini hanya sampai pada penjambretan. “Sesuai dengan yang diomongkan penyidik pada saat awal adanya unsur pembunuhan berencana, maka kita minta Wakapolri menerima data-data yang kita miliki yang selama ini belum diteliti penyidik,” bebernya. Ramdan Alamsyah menambahkan, banyak analisa yang menyatakan kalau itu bukan pembunuhan biasa dengan motif perampokan.

Kakak korban, Elvi pun menyayangkan adanya peralihan dugaan dari kasus pembunuhan menjadi kasus perampokan. Keluarga Sisca Yofie menilai adanya kejanggalan dalam peristiwa ini. Sebab, pernyataan yang disampaikan polisi atas penelusuran kasus kematian adiknya berbeda satu sama lain. “Terakhir polisi hanya menyimpulkan adik saya hanya dijambret,” ungkapnya. Menurutnya, kasus yang menimpa adiknya itu murni pembunuhan. “Kita ingin sampai sejelas-jelasnya terungkap dengan benar. Jangan sampai ada yang membuat kita merasa ada yang belum sampai. Seperti awalnya pembunuhan sekarang sampai penjambretan. Kita minta pertolongan aparat yang berwenang untuk mengusut ini,” kata Elvi dalam kesempatan yang sama. Kakak kandung Sisca Yofie, Elvi, meyakini kasus yang menimpa adiknya tidak sekadar penjambretan. Keluarga meyakini adanya unsur pembunuhan berencana dalam kasus tersebut. “Kita ingin sampai sejelas-jelasnya terungkap dengan benar dan bisa sesuai dengan apa yang ada. Kayak awalnya pembunuhan sekarang sampai penjambretan. Kita mau minta pertolongan aparat yang berwenang untuk mengusut ini dengan baik," ujar Elvi di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (30/9/2013).

Artinya, keluarga yakin kasus ini adalah pembunuhan berencana? "Ya itu, kita cari kebenarannya. Yang terjadi itu seolah-olah penyederhanaan dari apa yang kita enggak tahu. Tapi kita mau benar-benar yang sesungguhnya terjadi," harap Elvi.

Disinggung dan ditanya mengenai apakah ada bukti lain atau bukti kuat yang dimiliki keluarga menyatakan terkait kejanggalan kasus tersebut atas tewasnya Sisca Yofie adalah pembunuhan berencana, Elvi hanya menyebut bila indikasi itu terlihat dari luka yang diderita Sisca Yofie dianggapnya menjadi petunjuk. “Ya bisa lihat dari luka-luka yang ada. Mungkin tidak dengan luka sebesar itu dengan kejadian ini, bisa dikatakan penjambretan biasa? Mungkin bapak bisa lebih menjelaskan daripada pihak keluarga," jawab Elvi.

Dikatakan Ramdan Alamsyah, keluarga Sisca Yofie ingin fakta yang ada serta analisa polisi dalam hal ini Polrestabes Bandung diungkap dengan sesungguhnya. Masih menurut Ramdan Alamsyah, sesuai dengan yang dikatakan penyidik pada saat awal, kepolisian menduga adanya unsur pembunuhan secara berencana.

Ramdan Alamsyah berharap, Wakapolri, Komjen. Pol. Oegroseno dapat menerima bukti-bukti terkait yang berasal dari pihak keluarga. Selama ini bukti-bukti itu belum menjadi bahan penyelidikan polisi. “Maka kita minta Wakapolri menerimanya dengan data-data yang kita miliki yang selama ini belum diteliti penyidik, seperti bagaimana ponsel/handphone dan nomor-nomor ponsel pada korban itu bisa dikeluarkan,” tuturnya.

Ramdan Alamsyah mengatakan, menurut keluarga, Sisca Yofie menjadi korban pembunuhan berencana, serta banyak bukti-bukti lain yang tidak diteliti secara mendalam oleh tim penyidik. Namun hal itu terkesan ditutup-tutupi untuk membongkar kejadian yang sebenarnya. Medio Agustus lalu, Kabagpenum Polri, Kombes Pol. Agus Rianto mengatakan, penyidik Polrestabes Bandung akan melimpahkan berkas kasus pencurian dengan kekerasan terhadap Sisca Yofie ke Kejaksaan.

Kuasa hukum keluarga Sisca, Ramdan Alamsyah menjelaskan beberapa keganjilan dalam kematian Sisca Yofie. Banyak fakta yang diabaikan oleh pihak kepolisian dalam mengusut kasus ini. Bahkan beberapa fakta dan data yang disampaikan kuasa hukum sama sekali tidak dipertimbangkan. "Di antaranya nomor telepon yang berkomunikasi dengan almarhumah. Ada beberapa analisa dari banyak pakar yang bisa dijadikan acuan namun diabaikan. Bahkan banyak hasil rekonstruksi yang ganjil," ujar Ramdan Alamsyah.

Menurut Ramdan Alamsyah, hingga saat ini pelaku pembunuhan belum terungkap. Selain itu, sejumlah barang bukti yang dihilangkan. “Sisca Yofie menjadi korban pembunuhan berencana, serta banyak bukti-bukti lain yang tidak di teliti secara mendalam oleh penyidik dan terkesan di tutup-tutupi kejadian yang sebenarnya. Selama ini belum diteliti penyidik di antaranya bagaimana nomor-nomor pada HP korban itu bisa dikeluarkan,” papar Ramdan Alamsyah. 

Kejanggalan lain yang dirasakan keluarga yakni mengenai rambut Sisca Yofie yang menempel di gir sepeda motor. Menurut pendapat ahli, lanjut Ramdan Alamsyah, secara teknis tidak mungkin motor pelaku dapat melaju beberapa ratus meter dengan rambut kepala menempel di gir motor. "Jangan kemudian (langsung) menerima apa yang jadi omongan pelaku, harusnya analisa lebih dalam, terinci dengan saksi dan alat bukti yang ada,” ucap Ramdan Alamsyah.

Disamping itu, saat rekonstruksi yang digelar beberapa waktu lalu, baik keluarga maupun tim kuasa hukum melihat banyak kejanggalan. "Apakah benar Sisca ditarik atau menempel di gear motor? Sebelum lakukan perampokan, masa iya pelaku menegur korban? Apa benar perempuan bisa merangkul begitu erat sekian meter, tidak terputus sebelum jatuh," tanyanya.

Atas dasar itulah, pihak keluarga bersikeras menemui Wakapolri Komjen Oegroseno untuk meminta penegasan kasus tewasnya Sisca Yofie. "Kepada siapa lagi kami mengadu. Mabes Polri adalah instansi tertinggi di kepolisian. Makanya kami datang ke sini," tegas Ramdan Alamsyah. Ia berharap Wakapolri bisa memberi dorongan agar penyidik Polda Jabar tak sebatas mengungkap data fakta dari versi pelaku. Tapi mengungkap lebih jauh motif dibalik pembunuhan, karena kasus ini, perkara besar. "Ini perkara besar. Keluarga ingin keadilan, apa motivasi sesungguhnya pembunuhan Sisca ini. Penyidik Jangan hanya terima apa yang diberikan pelaku," paparnya.

Selain itu tim kuasa hukum telah menyiapkan fakta dan saksi baru. "Mudah mudahan Wakapolri berikan petunjuk," tandasnya.

Elvi kakak kandung almarhum Sisca Yofie ingin kasus pembunuhan yang menimpa adiknya dibuka seterang-terangnya supaya tidak ada lagi pertanyaan kejanggalan dari keluarganya. 

Elvi yang mengenakan kemeja coklat saat mendatangi Mabes Polri mengatakan bahwa kasus yang kini ditangani Polwiltabes Bandung bisa terungkap dengan benar serta jelas sesuai fakta yang ada. “Kita ingin sampai sejelas-jelasnya terungkap dengan benar. Jangan sampai ada yang membuat kita merasa ada yang belum sampai. Kayak dan seperti awalnya pembunuhan sekarang sampai penjambretan. Kita mau minta pertolongan saja kepada aparat yang berwenang untuk mengusut kasus ini dengan baik," kata Elvi dalam kesempatan yang sama di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (30/9/2013).

Ia tidak mau berspekulatif apakah kasus tersebut murni pembunuhan atau penjambretan seperti yang diungkap kepolisian saat ini. "Ya itu kita cari kebenarannya, kita yakin aparat hukum bisa menolong kita. Kita ini tidak punya apa-apa, tidak mengerti kejadiannya seperti apa, tapi kita harap masyarakat aparat yang berwenang mengungkap dengan benar sepaya yang terjadi itu seolah-olah penyederhanaan dari apa yang kita tidak tahu. Tapi kita mau yang benar-benar yang sesungguhnya terjadi," ungkap Elvi. (tri/met/det/viv/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.497.904 Since: 05.03.13 | 0.1934 sec