Hukum

Ahmad Fathanah Titipkan Rp 3 Miliar Ke Adik Presiden PKS

Friday, 13 September 2013 | View : 902

JAKARTA-SBN.

Kesaksian Saldi Matta, adik dari Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) A.M. membuat geram Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta yang menyidangkan perkara dugaan suap pengurusan kuota impor sapi dan pencucian uang dengan terdakwa kasus dugaan korupsi dan pencucian uang dalam pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2013, Ahmad Fathanah. Sebab, Saldi Matta dinilai tak jujur ketika memberikan keterangan dan kesaksiannya kerap membuat bingung Majelis Hakim. 

Adik Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) A.M., Saldi Matta mengaku terdakwa kasus dugaan suap pengurusan kuota impor daging sapi di Kementan dan pencucian uang, Ahmad Fathanah ternyata pernah menitipkan uang tunai sebesar Rp 3 miliar kepada Saldi Matta,  adik kandung Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) A.M. di kantornya pada 17 Oktober 2012. Menurut dia, uang tersebut dititipkan padanya sekitar Oktober 2012 silam. Uang itu dititip sekitar dua pekan di kantornya. Hal tersebut dibeberkan saksi, Saldi Matta saat bersaksi untuk tersangka Ahmad Fathanah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (12/9/2013).

Ahmad Fathanah beralasan tidak ada tempat menyimpan. “Dititip ke saya katanya (Fathanah) ada duit tapi gak ada tempat,” kata Saldi Matta.

Awalnya Saldi Matta mengklaim menolak dititipi uang tersebut dengan alasan resiko tinggi. Sebab, kantornya berada di pinggir jalan dan tak punya sekuriti. Namun, setelah Ahmad Fathanah memaksa, dia akhirnya bersedia. Setelah sempat menolak akhirnya uang tersebut diterimanya dan dimasukkan ke brankas di kantornya.

Bahkan, Saldi Matta mengaku sebelum dimasukkan ke brankas di kantornya, Saldi Matta bersama-sama Ahmad Fathanah sempat mengeluarkan uang tersebut dari travel bag berwarna cokelat dan menghitung uang itu bersama Ahmad Fathanah. “Uang kemudian dimasukkan ke dalam brankas,” beber Saldi Matta.

Menurutnya, uang itu dibawa Ahmad Fathanah dalam satu tas travel warna cokelat. “Waktu itu dia titip uang cash sebesar Rp 3 miliar dalam koper besar. Uangnya dalam pecahan Rp 100 ribu dan masih label banknya,” ucap Saldi Matta saat bersaksi untuk terdakwa Ahmad Fathanah di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (12/9/2013). Menurut Saldi Matta, saat mengantar uang ke kantornya, Ahmad Fathanah mengaku ingin menitipkan sementara waktu. Sebab, kata dia, Ahmad Fathanah mengaku sedang mengerjakan sebuah usaha.

Saksi Saldi Matta menjelaskan saat menitipkan pertama kali pada 17 Oktober 2012,  setelah dihitung, Ahmad Fathanah pun langsung meminta dan mengambil uang sebesar Rp 500 juta pada hari itu juga. Sehingga, uang titipan menjadi Rp 2,5 miliar. Kemudian, pada 25 Oktober 2012, Ahmad Fathanah datang bersama rekannya mengambil lagi Rp 800 juta. "Pada 25 Oktober 2012, dia kembali datang bersama dua teman, dan mengambil uang Rp 800 juta," ujarnya. Menurut dia, uang itu diambil sedikit demi sedikit oleh Ahmad Fathanah hingga habis. Saldi Matta pun menuturkan, uang titipan itu akhirnya sudah ludes diambil Fathanah pada 1 November 2012. Dalam pengambilan terakhir pada 1 November 2012, uang tersebut sudah tak bersisa lagi. “Sampai 1 November sudah habis diambil semua,” jelas Saldi Matta.

Saat ditanya Majelis Hakim mengenai asal muasal uang tersebut, adik A.M. itu, Saldi Matta mengaku tak mengetahuinya. Majelis Hakim mencecar apakah Ahmad Fathanah tak mengatakan asal usul uang itu. Apakah Saldi Matta pun tak menanyakan asal usul uang itu. Saat dititipi uang, Saldi Matta mengaku pernah menanyakan asal uang tersebut. Namun, kata dia, teman dekat Luthfi Hasan Ishaaq itu enggan menjelaskan kepadanya. “Saya nanya, tapi nggak dijawab dari mana. Dia jawabnya hanya baru ambil dari bank. Saya prinsipnya hanya membantu,” terangnya. “Saya sudah bilang kepada dia, kanda percepat saja penitipan uangnya," imbuhnya lagi.

Tetap dia mengaku tidak tahu kemana uang tersebut dialirkan Ahmad Fathanah. Yang pasti uang itu, sambung Saldi Matta, tidak disetor Ahmad Fathanah ke Bank. “Yang saya dengar Rp 800 juta untuk membayar rumah,” bilangnya.

Dalam sidang sebelumnya terungkap, pada Oktober 2012, Ahmad Fathanah kedapatan membayar uang sebesar Rp 800 juta buat sebuah rumah di Perumahan Pesona Khayangan, Depok, Jawa Barat.

Hakim anggota, I Made Hendra pun heran, sebagai pengusaha kenapa Saldi Matta mau begitu saja menerima uang untuk dititipkan itu. “Anda kan sebagai pengusaha tentu tahulah resikonya?” tanya Hakim I Made Hendra.

Hakim I Made Hendra juga tak menelan mentah-mentah pengakuan Saldi Matta. Apalagi, ketika Saldi Matta mengaku tidak mendapatkan apa-apa dengan ‘jasanya’ menyimpan titipan uang Ahmad Fathanah itu. “Anda mau saja, tidak dapat apa-apa, cuma melihatnya saja?” sindir Hakim I Made Hendra.

Lantas Hakim I Made Hendra mengingatkan untuk berhati-hati. Sebab, seseorang bisa saja terjerat dengan perkara pencucian uang. “Jangankan di atas Rp 100 juta, di bawah Rp 100 juta juga sudah bisa kena!” tegas Hakim I Made Hendra.

Hakim anggota I Made Hendra juga mengingatkan bahwa Saldi Matta sudah disumpah sebelum memberikan keterangan. Namun, Saldi Matta keukeuh mengaku tak mengetahui asal usul uang itu.

Tiba-tiba Hakim anggota Djoko Subagyo mengingatkan Saldi Matta untuk jujur bersaksi. “Saudara dihadirkan untuk memberikan keterangan yang benar. Dari bahasa tubuh anda saja, itu kita tahu anda jujur atau tidak!” tukas Hakim Djoko Subagyo.

Saldi Matta sendiri dihadirkan Jaksa KPK sebagai saksi untuk membuktikan dakwaan Jaksa terkait tindak pidana pencucian uang yang dilakukan Ahmad Fathanah. Sebab, sebagaimana bukti-bukti yang ditemukan dan tertuang dalam dakwaan, ada aliran dana sekitar Rp 3 miliar dari Ahmad Fathanah ke Saldi Matta. Jaksa menduga uang itu merupakan hasil dari Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). (tri/ant)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.503.386 Since: 05.03.13 | 0.1619 sec