Hukum

Kejari Bandung Kembalikan Berkas Sisca Yofie Ke Polisi

BANDUNG-SBN.

Kepala Kejaksaan Negeri Kota Bandung, Febri Adriansyah, mengatakan berkas kasus pembunuhan Kepala Cabang Bandung, PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Jawa Barat, korban yang bernama Franceisca Yofie alias Sisca (34) di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) lalu belum lengkap untuk dilimpahkan ke pengadilan. Kejaksaan pun segera mengembalikan berkas Sisca Yofie ke penyidik Polrestabes Bandung.

Keputusan untuk mengembalikan berkas ke penyidik tersebut dipastikan setelah tim Kejaksaan mengekspos perkara pembunuhan sadis Sisca Yofie dihadapan pimpinan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Kota Bandung, Senin (9/9/2013). “Berkas belum bisa kami nyatakan lengkap (P-21) dan akan segera dikembalikan ke penyidik. Kami juga berikan beberapa petunjuk apa saja yang harus dilengkapi (oleh penyidik),” papar Febri Adriansyah seusai gelar perkara di kantor pidana umum, Senin (9/9/2013).

Beberapa petunjuk tersebut antara lain terkait alat bukti kasus pembunuhan mantan kepala cabang perusahaan leasing mobil tersebut. Tujuannya antara lain agar Jaksa Penuntut kelak bisa menjelaskan lengkap kasus itu di hadapan majelis. “Juga supaya bisa menjawab pertanyaan publik terkait kejanggalan-kejanggalan kasus ini,” ujar Febri Adriansyah.

Alat bukti yang harus dilengkapi dan dipastikan itu, jelas dia, antara lain hasil visum dokter forensik tentang penyebab kematian korban. Juga alat bukti terkait dugaan terseretnya tubuh Sisca Yofie akibat rambutnya masuk dan melilit gear sepeda motor para tersangka. “Hasil visum dokter memang sudah ada, tapi harus dipastikan lagi. Untuk itu, (alat bukti rambut korban masuk gear) mungkin perlu tes DNA korban juga. Hasil tes DNA itu yang belum ada,” tutur Febri Adriansyah. Alat bukti lain yang harus dilengkapi, menurut dia, juga meliputi keterangan para saksi dan tersangka.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Kota Bandung Abun Hasbulloh membenarkan pihaknya sudah menerima limpahan tahap pertama berkas kasus pembunuhan Kepala Cabang Bandung, PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Jawa Barat, korban yang bernama Franceisca Yofie alias Sisca (34) di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) lalu, dari penyidik Polrestabes Bandung. “Berkas Sisca Yofie diterima Kejaksaan dari penyidik pada Jumat (30/8/2013) silam,” imbuh Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Bandung, Abun Hasbulloh.

Adapun informasi bahwa berkas belum lengkap dan harus dilengkapi, sudah Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Kota Bandung Abun Hasbulloh sampaikan kepada penyidik pada Kamis (6/9/2013) lalu. “Namun untuk mengembalikan berkas ke penyidik kan harus dilengkapi petunjuk-petunjuk apa saja yang harus dilengkapi,” ujar Abun Hasbulloh. Ekspos di kejaksaan tinggi, ucap dia menambahkan, untuk mencapai kesepakatan dengan pimpinan bahwa berkas belum bisa dinyatakan lengkap.

Dalam penyelidikan kasus ini, polisi menemukan fakta bahwa korban pernah menjalin hubungan spesial dengan Komisaris Polisi (Kompol) Albertus Eko Budiharto (AEB), seorang perwira menengah kepolisian yang bertugas di Bidang Humas Polda Jawa Barat.

Sebelum menjabat sebagai Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Jabar, Kompol AEB bertugas di Ditkrimsus Polda Jabar sebagai salah satu kepala unit. Jauh sebelumnya, Kompol AEB juga sempat menjabat sebagai Kasatreskrim Bandung Barat dan Kapolsekta Astanaanyar di Kota Bandung. Anggota Polri yang saat ini menjabat Kasubid Penmas Bidhumas Polda Jabar terancam sanksi jika terbukti bersalah. Kemungkinan Kompol AEB dijerat Pasal 3 huruf g dan Pasal 5 huruf a Peraturan Pemerintah RI No.2 Tahun 2003 tentang Disiplin Anggota Polri.

Terseretnya Kompol AEB pada kasus Sisca Yofie, saat petugas kepolisian menggeledah kamar indekos Sisca Yofie di Setra Indah Utara No.11, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung dan menemukan surat pribadi antara Sisca Yofie dan Kompol AEB.

Hubungan Sisca Yofie dan Kompol Albertus Eko Budiharto sebelumnya diungkap oleh pihak Polrestabes Bandung. Namun, pada gilirannya hubungan Kompol Eko dan Sisca berlangsung sejak 2010 serta berakhir pada 2012 lalu. Padahal disaat itu, Kompol Albertus Eko Budiharto sudah berstatus menikah.

Setelah hubungan itu retak dan putus, terungkap yang bersangkutan, Kompol Albertus Eko Budiharto sempat pernah mengirim dua anak buahnya, Bripka AF dan Brigadir FP untuk menguntit Sisca Yofie yang juga dikenai sanksi pelanggaran disiplin. Bripka AF kini berdinas di Satlantas Polres Cimahi dan Brigadir FP berdinas di Dalmas Polrestabes Bandung. 

Sebelum kematiannya, Sisca Yofie pernah bercerita pada koleganya kalau dia kerap merasa dibuntuti.

Kasus pembunuhan keji dan brutal ini bermula Senin (5/8/2013) lalu. Sekitar pukul 19.15 WIB, Polsek Sukajadi mendapat laporan masyarakat via telepon bahwa ditemukan korban penganiayaan tanpa identitas mengalami luka berat di lapangan Abra, Jalan Cipedes Tengah. Belakangan korban diketahui bernama Franceisca Yofie alias Sisca yang bekerja sebagai Bandung Branch Manager PT. Verena Multi Finance Tbk. Dari CCTV yang didapat kepolisian di lokasi kejadian, korban terlihat seperti diseret sepeda motor yang ditumpangi dua orang, yang belakangan diketahui dikendarai Ade dan Wawan.

Ade menyerahkan diri Sabtu (10/8/2013) dan mengaku telah melakukan pencurian yang menyebabkan kematian korban di Lapangan Abra. Berdasar keterangan Ade, polisi lalu menangkap Wawan. Kompol AEB atau yang akrab disapa Kompol Eko dengan tegas mengungkapkan dia tak punya hubungan dengan kedua pelaku, Wawan alias Awing (39) dan Ade (24). “Saya tidak pernah mengenal, tidak pernah ada kaitannya dalam hubungan apa pun dengan kedua tersangka, baik W maupun A. Dalam keterkaitan apa pun. Keyakinan tidak berubah dari awal bergulirnya proses penyelidikan. Saya siap dihukum mati di mata hukum atau Tuhan, kalau saya terlibat tindak pidana kasus ini,” tegas Kompol Eko saat menggelar jumpa pers di Sasana Riung Mungpulung di Mapolda Jabar, Jumat (30/8/2013).

Menurut pihak polisi, Kompol Albertus Eko Budiharto tak terlibat kasus ini. Polrestabes Bandung tetap keukeuh (yakin), kasus ini murni kriminal (penjambretan) yang berujung pada kematian korban. Berdasar atas pemeriksaan yang telah dilakukan Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Jabar tidak ditemukan keterlibatan Kompol AEB dalam kasus Sisca Yofie. Saat peristiwa curas berujung tewasnya Sisca Yofie, alibi Kompol AEB adalah dia tengah berada di salah satu hotel di kota Bandung bersama keluarganya.

Namun, dalam reka ulang yang digelar di enam titik, Kamis (22/8/2013) silam itu, terdapat sejumlah kejanggalan. Ada saksi mata yang menyatakan tubuh Sisca Yofie bukan terseret, tetapi sengaja diseret. Tubuh yang terseret motor ini juga terekam CCTV warga, meski tidak jelas. “Saya memang tidak melihat diseret, tetapi tangan kiri pelaku berada di bawah sedangkan kepala korban menggantung dengan tubuh terseret motor. Awalnya saya melihat orang bawa boneka,” urai seorang saksi mata, R.T. 

Sebagaimana dikabarkan, pada Kamis (22/8/2013), warga yang sebagian besar tinggal di kawasan Sukajadi, Bandung, berbondong-bondong menonton jalannya reka ulang kasus pembunuhan Franceisca Yofie alias Sisca (34). Maklum, kasus ini begitu menyita perhatian publik karena banyak yang menilai ada kejanggalan. Polisi yang sebelumnya mencurigai ada motif dendam, tiba-tiba begitu mudah memercayai keterangan Wawan dan Ade yang mengaku sebagai pembunuh Sisca Yofie. Para tersangka mengaku takut dengan perbuatannya yang menjambret tas Sisca Yofie dan membunuhnya.

Pihak keluarga pun meragukan proses penjambretan seperti yang terjadi dalam rekonstruksi. Kuasa hukum keluarga Sisca Yofie, Haerullah M. Nur, menyatakan banyak adegan yang meragukan. Keraguan pertama, rekonstruksi dilakukan tidak bergerak, padahal kasus ini tentang penjambretan yang menggunakan sepeda motor. “Kita lihat seperti awal TKP pertama mengambil tas dalam kendaraan, terus korban mengejar, merangkul dari belakang selama lebih kurang hampir 300 meter. Logika kami, apakah dia (tersangka Wawan) tidak terjengkang kalau dirangkul dari belakang, kan itu kendaraan lagi jalan,” ungkapnya.

Kedua, dalam adegan di jembatan yang menanjak, 300 meter dari tempat kos, tersangka Wawan berusaha melepaskan rangkulan Sisca Yofie dengan cara menyikut dan membacok dengan golok. “Tapi sepertinya tersangka kebingungan di mana mengayunkan golok itu,” elaborasi dia. Ketiga, setelah dibacok, korban lalu jatuh namun masih sempat memegang jaket sebelah kiri pelaku. Padahal, korban sendiri bukan kidal sehingga logikanya korban akan meraih jaket sebelah kanan, itu pun kalau motornya berhenti. Tetapi, masalahnya motor sedang melaju sehingga akan sulit meraih jaket pelaku.

Pihak keluarga korban juga sempat protes terhadap pemeran Sisca Yofie yang memiliki rambut yang panjangnya sepunggung. Faktanya, cetus Haerullah M. Nur, Sisca Yofie hanya memiliki rambut sebahu. Fakta ini diperoleh karena sehari sebelum terbunuh, Minggu (4/8/2013), Sisca Yofie sempat pulang ke rumah orang tuanya di Pagarsih, Bandung, bertemu dengan kakaknya, Elfie. “Makanya, saat rekonstruksi kemarin kita sempat protes soal panjang rambut,” tukas dia lagi.

“Sepertinya polisi memakai semua pengakuan tersangka dalam rekonstruksi itu. Padahal, rekonstruksi bagian dari proses penyidikan untuk melihat bukti materil dari pengakuan tersangka, saksi, ahli, dan olah bukti TKP. Padahal, ada saksi yang menyatakan sebenarnya tidak begitu. Jadi, di situlah keraguan-keraguan kita,” tegas dia.

Kendati demikian, pihaknya tetap mengapresiasi kerja kepolisian. Pihak keluarga berharap ada saksi kunci yang benar-benar mengetahui kejadian tersebut sehingga bisa menjelaskan keterangan tersangka yang meragukan.

Praktisi hukum lulusan Unika Atma Jaya, Alexander Lay, dalam suatu acara dialog di sebuah stasiun televisi swasta menyebutkan sebaiknya kedua tersangka tidak digunduli kepalanya agar memudahkan saksi yang barangkali mengenali korban atau melihat korban sebelum kejadian. “Kalau mereka dibotakin, semakin sulit bagi masyarakat untuk memberi keterangan tentang kedua orang ini,” ucap dia.

Menurut pendapat praktisi hukum lulusan Universitas Atma Jaya tersebut, Alexander Lay, ada baiknya penyelidikan kasus ini jangan berhenti pada pengakuan kedua tersangka, tapi coba menelusuri kemungkinan-kemungkinan lain, bukan sekadar pencurian dengan kekerasan. “Kalau bisa membuktikan korban ternyata diseret dan bukan terseret, ada kemungkinan ini pembunuhan berencana,” tegas Alexander Lay.

Komisi Polisi Nasional (Kompolnas) juga meragukan keterangan tersangka. Oleh karena itu, polisi harus terus berupaya mencari fakta-fakta baru. Polisi juga harus memastikan transparansi dalam penanganan kasus hukum yang menyedot perhatian masyarakat ini. “Agar masyarakat puas dengan kinerja polisi dan hukum juga bisa ditegakkan,” pungkas anggota Kompolnas, Edi Saputra Hasibuan. (kj/tem/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.497.960 Since: 05.03.13 | 0.1919 sec