Hukum

KPK Terus Kembangkan Penyidikan Kasus Dugaan Suap SKK Migas

Saturday, 07 September 2013 | View : 1339

JAKARTA-SBN.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan penyidikan terhadap kasus dugaan suap di dalam kegiatan hulu migas di lingkungan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Dua orang yang masuk dalam daftar cekal, yakni Kepala Divisi Komersialisasi Minyak Bumi dan Kondesat SKK Migas, Agus Sapto Rahardjo Moerdi Hartono, dan pihak swasta bernama Febri Prasetyadi Soeparta. “Mengenai kasus SKK Migas, KPK masih terus mengembangkan dan mendalami keterangan yang diperoleh dari saksi dan tersangka. Hari ini juga ada pemeriksaan Agus Sapto dan Febri Prasetyadi Soeparta untuk tersangka RR,” papar Juru Bicara KPK, Johan Budi Sapto Prabowo, di Jakarta, Kamis (5/9/2013). 

Menurut Juru Bicara KPK, Johan Budi SP, kedua orang ini dinilai memiliki keterangan penting yang berkaitan dengan penuntasan kasus SKK Migas. KPK berharap dari keterangan keduanya muncul informasi-informasi baru yang bisa digunakan penyidik KPK untuk melengkapi berkas penyidikan mantan Kepala SKK Migas, RR. “Tentu yang dicegah (keterangannya) lebih penting dan kita berharap bahwa kasus ini bisa berkembang sesuai temuan penyidik dalam proses penyidikan,” terang Juru Bicara KPK Johan Budi SP.

Setelah sekitar sembilan jam diperiksa, Kadiv. Komersialisasi Minyak Bumi dan Kondensat SKK Migas, Agus Sapto Rahardjo, mengaku pemeriksaannya sebagai saksi di KPK untuk menjelaskan dokumen-dokumen yang lebih dahulu dikirim SKK Migas ke KPK. "Kemudian tupoksi dan fungsi saya, pelaksanaan-pelaksanaan tugas di tempat saya, dan aturan-aturan perusahaan,” bilang Agus Sapto Rahardjo setelah pemeriksaannya oleh Tim Penyidik KPK di Gedung KPK Jakarta, Kamis (5/9/2013).

Namun, Agus Sapto Rahardjo Moerdi Hartono enggan menjawab dan justru tersenyum ketika ditanya kasus suap di lingkup kegiatan SKK Migas tahun 2012-2013.

Selain Agus Sapto Rahardjo, tim penyidik KPK juga memeriksa staf Divisi Komersial Minyak SKK Migas, Birul Satrio Utomo, dan Febri Prasetyadi Soeparta dari PT. Zerotech Nusantara sebagai saksi untuk tersangka RR.

Sebelumnya, Agus Sapto Rahardjo juga pernah diperiksa KPK pada Rabu (28/8/2013), namun Agus Sapto Rahardjo kabur saat ditanya wartawan mengenai isi pemeriksaannya. Agus Sapto Rahardjo termasuk satu dari enam orang yang telah dicegah KPK pergi ke luar negeri.

Terkait kasus dugaan suap SKK Migas ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan pencegahan bepergian ke luar negeri terlebih dahulu selama enam bulan ke depan dengan opsi perpanjangan terhadap enam orang yang adalah tiga pejabat SKK Migas, yakni Kepala Divisi Penunjang Operasi SKK Migas, Iwan Ratman, Kepala Divisi Komersialisasi Gas Bidang Pengendalian Komersil SKK Migas, Popi Ahmad Nafis, dan Kepala Divisi Komersialisasi Minyak Bumi dan Kondesat, Agus Sapto Rahardjo Moerdi Hartono, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Sekjen ESDM) Waryono Karno serta Presiden Direktur PT. Surya Parna Niaga, Artha Meris Simbolon, dan pihak swasta yaitu Febri Prasetyadi Soeparta. Pencegahan terhadap Waryono Karno telah dikirimkan ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sejak hari Kamis (29/8/2013) silam.

Dalam kasus dugaan suap SKK Migas ini, KPK telah menetapkan mantan Kepala SKK Migas, RR, sebagai tersangka penerimaan suap bersama dua orang lainnya, yakni seorang pelatih golf bernama Deviardi alias Ardi dan salah satu pemilik dari PT. Kernel Oil Private Limited, Simon Gunawan Tanjaya (SGT). Diduga, RR dan Ardi menerima suap dari SGT terkait pengelolaan kegiatan hulu migas di lingkungan SKK Migas.

Selain itu, penyidik KPK juga telah melakukan upaya hukum lainnya, yakni penggeledahan dan penyitaan. Dari sejumlah penggeledahan yang dilakukan, penyidik KPK telah menyita sejumlah uang dalam bentuk dollar Amerika Serikat (AS) sebanyak US$ 1.240.000 atau setara dengan Rp 12,834 miliar dan SIN$ 187.000 atau setara dengan Rp 1,526 miliar. Tidak hanya uang, KPK juga telah menyita satu motor besar BMW seri R bernopol B 3946 FT yang nilainya ratusan juta rupiah dan batangan emas dengan berat total 180 gram. Terakhir, menyita sebuah mobil mewah Toyota All New Camry Hybrid berwarna hitam.

Sebelumnya, Juru Bicara KPK, Johan Budi SP memaparkan penyidik KPK menemukan uang saat penggeledahan di rumah dinas RR pada Selasa (13/8/2013) malam. Uang yang ditemukan adalah sebesar US$ 90 ribu dan SIN$ 127 ribu di brankas RR di kantor SKK Migas dan pada Kamis (15/8/2013) ditemukan lagi sejumlah US$ 200 ribu dan SIN$ 60 ribu. “Dari pengakuan salah satu tersangka, diketahui ada pemberian selain US$ 400 ribu itu, yakni US$ 300 ribu pada Juli. Kami mendalami dan mengembangkan kasus ini baik dari sisi penerima atau pun pemberi suap,” ungkap Juru Bicara KPK, Johan Budi SP, Minggu (1/9/2013). KPK, lanjut Johan Budi SP, juga belum menyimpulkan apakah sumber uang suap untuk RR dari perusahaan ataukah dari perorangan.

Dalam kasus ini, KPK telah melakukan perpanjangan masa penahanan terhadap tersangka mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (RR). Tersangka RR akan terus mendekam di rumah tahanan (rutan) KPK selama 40 hari ke depan. “Benar ada perpanjangan masa penahanan 40 hari untuk tersangka RR terkait kasus suap SKK Migas," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK, Priharsa Nugraha, saat dikonfirmasi, Selasa (3/9/2013). Menurut Priharsa Nugraha, perpanjangan penahanan tidak hanya dilakukan terhadap RR. Dua tersangka lainnya, yakni Deviardi dan Simon Gunawan Tanjaya, juga diperpanjang masa penahanannya selama 40 hari.

Di tingkat penyidikan, KPK terus melengkapi berkas penyidikan terhadap tiga tersangka tersebut dengan memeriksa tiga pegawai SKK Migas, yakni Doni Suryanta Fardila, Ayodya Bellini Hindriono, dan Ryanti Sari. (ant/kj/jp)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.501.659 Since: 05.03.13 | 0.1406 sec