Internasional

Permintaan Presiden AS Untuk 10.000 Tentara Amankan Washington D.C. Dari Demo George Floyd Ditolak

Monday, 08 Juni 2020 | View : 187

WASHINGTON D.C.-SBN.

Aksi protes atas pembunuhan George Floyd masih terus memanas di Amerika Serikat (AS). Presiden AS ke-45, Donald John Trump sempat meminta 10.000 pasukan tentara untuk mengendalikan protes di Washington DC, namun permintaan itu ditolak para pejabat pertahanannya.

Dilansir CNN, Minggu (7/6/2020), permintaan itu disampaikan Trump pada rapat di ruang oval Gedung Putih, Washington DC, pada Senin (1/6/2020) lalu. Seorang senior Pentagon mengatakan, debat panas terjadi antara Jaksa Agung Bill Barr, Sekretaris Pertahanan Mark Esper dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley dalam rapat itu.

"Kita perlu mengendalikan jalanan. Kami membutuhkan 10.000 tentara di sini (di Washington). Saya menginginkannya sekarang," kata senior pentagon itu mengutip kembali Trump.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan dia mempertimbangkan tindakan untuk memadamkan protes nasional terkait kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam tak bersenjata yang meninggal di tangan polisi Minneapolis pada 25 Mei lalu.

Seorang pejabat senior Departemen Pertahanan (DoD) mengatakan kepada CBS News bahwa selain meminta penempatan pasukan, Trump berteriak kepada Esper karena melanggar hubungan dengan presiden ketika sekretaris itu menentang penggunaan Undang-Undang Pemberontakan. Legislasi abad ke-19 akan memungkinkan presiden untuk mengerahkan militer AS secara nasional untuk penegakan hukum domestik.

Esper dan Milley kemudian mengambil langkah menelepon Gubernur Washington pada Selasa (2/6/2020). Mereka meminta Washington untuk mengerahkan pasukan pengamanannya sendiri.

Di hari yang sama, Pentagon memindahkan 1.600 pasukan untuk bersiap di Washington. Namun, sekitar 5.000 pasukan Garda Nasional yang sudah bersiaga di Washington sejatinya tak pernah membutuhkan pasukan tambahan.

Esper kemudian mengumumkan pada hari Rabu (3/6/2020) bahwa ia tidak mendukung penggunaan Undang-Undang Pemberontakan dan menolak permintaan Trump. Esper bahkan menarik 700 pasukan untuk kembali ke pangkalan mereka di Fort Bragg. Pada Jumat (6/6/2020), Esper juga menarik 700 pasukan. (cnn/cbsnews)

See Also

Malaysia Akan Cabut Lockdown Kalau Kasus Virus Corona Dibawah 4.000
Naftali Bennett Perdana Menteri Israel Yang Baru
Tabrakan 2 Kereta LRT Di Malaysia Jadi Insiden Pertama Sejak 23 Tahun
Perdana Menteri Malaysia Perintahkan Tabrakan 2 Kereta LRT Diusut
2 Kereta LRT Bertabrakan Di Malaysia
Tabrakan 2 Kereta LRT Di Malaysia
Penembakan Massal Terjadi Di Indianapolis
Thailand Dan Vietnam Segera Tarik Warganya Dari Myanmar
Banjir Di Vietnam Dan Kamboja Telan 40 Korban
PM Polandia Dikarantina Usai Kontak Dengan Pasien Covid-19
Kanselir Jerman Peringatkan Eropa Soal Situasi Serius Akibat Covid-19
Menteri Kerjasama Pembangunan Jerman Kritik Kurangnya Kesadaran Global Atasi Krisis Kelaparan
Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
jQuery Slider
Arsip :202120202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 9.086.525 Since: 05.03.13 | 0.2234 sec