Hukum

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang

Saturday, 24 Agustus 2019 | View : 29

JAKARTA-SBN.

Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) pada hari Jumat (23/8/2019) kembali menggelar sidang Praperadilan terkait eksekusi terhadap Rektor Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (STT SETIA), Matheus Mangentang serta Direktur STT SETIA, Ernawaty Simbolon.

Pada kesempatan ini, pihak pemohon menghadirkan Ahli untuk dimintai keterangannya.

Sidang dibuka oleh hakim tunggal Suparman Nyompa, S.H., M.H. yang langsung memberikan kesempatan pada kuasa hukum pemohon untuk bertanya pada Ahli.

“Silahkan, kasih tanya ahli perdebatan ilmiah secara hukum,” kata Hakim Suparman Nyompa kepada pihak kuasa hukum pemohon di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jl. Dr. Sumarno No.1, RT07/RW04, Kelurahan, Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Jumat (23/8/2019).

Herwanto dan Dwi Putra Budiyanto langsung menggunakan kesempatan tersebut, tanpa basa basi pihak pemohon langsung bertanya kepada ahli.

“Saudara Ahli, apakah setiap amar putusan dapat dibunyikan atau dilaksanakan separuh/tidak full, misal ada 1,2,3,4 dan 5 itu hanya dilaksanakan separuh, bagaimana menurut Ahli," tanya Dwi.

“Ya, dalam sistim peradilan pidana kita, putusan pengadilan itu merupakan satu kesatuan dan amar putusan inipun bertentangan satu sama yang lain, artinya ketika ini sudah diputuskan maka angka yang sudah diputuskan oleh hakim, baik itu bait 1,2,3 dan seterusnya harus ada tali temali atau satu kesatuan”, sehingga kita tidak bisa penggal penggal antara satu dan yang lainnya," terang ahli.

"Jadi, ini juga yang akan diperbaiki dalam sistim peradilan kita nanti kedepan, melalui rancangan KUHAP yang saat ini sedang digodok di Legislator kita. Maka jangan sampai nanti kemudian, putusan hakim itu nanti masih bersifat hal yang multi tafsir, sebab putusan hakim itu tidak boleh ditafsirkan atau dikaji ulang," kata ahli menambahkan.

"Tetapi kalau masih ada disitu kemungkinan untuk melakukan upaya hukum, maka disitulah para pihak yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan, apakah itu melalui upaya hukum banding, kasasi ataupun Peninjauan Kembali (PK)," tegas ahli.

“Bagaimana jika suatu putusan para terdakwa tetap dalam tahanan kota, sedangkan amar pertama menyatakan bahwa terdakwa, mempunyai keyakinan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan primer, itu satu,” kata Dwi.

Dua, Menjatuhkan/Menetapkan pidana selama 7 tahun dan denda uang Rp 1 miliar atau subsider 3 bulan.

Tiga, menetapkan masa penangkapan/penahanan rutan atau kota yang dijalani terdakwa dikurangi seluruhnya pada pidana yang dijatuhkan.

Empat, Terdakwa tetap Ditahan dalam tahanan kota.

Lima, Menetapkan barang bukti Dan seterusnya dikembalikan pada saksi dan korban," papar Dwi Putra Budiyanto.

"Yang mau saya tanyakan disini, ini adalah bulat suatu putusan, dari 1 sampai 5, bagaimana tanggapan ahli didalam amar nomor 4 ini yang menjadi perdebatan bagi kami mem pra peradilan karena klien kami sekarang sudah ditahan, sedangkan amar tersebut ada tulisan terdakwa tetap ditahan dalam tahanan kota," tanya Dwi.

“Baik, melalui yang mulia, kalau kita perhatikan dalam amar putusan pengadilan, ketika amar putusannya sudah menyatakan bahwa terdakwa 1,2,3 dan seterusnya dinyatakan dijatuhi pidana, apakah itu pidana penjara atau pidana denda maka hal selanjutnya yang mesti kita cermati demi kepastian hukum butir yang berikutnya adalah seyogyanya segera, misalnya memasukan kedalam lembaga pemasyarakatan atau rumah tahanan, dengan demikian satu kesatuan tadi antara 1,2 dan seterusnya merupakan suatu salinan yang tidak dapat dipisahkan satu sama yang lain,” jelas ahli.

Masih kata ahli, nah..ketika tadi saudara PH menyatakan ada putusan yang menyatakan bahwa terdakwa dijatuhi pidana penjara, tetapi kemudian ada lagi dalam butir berikutnya, Menetapkan Tetap berada dalam tahanan kota ini merupakan dua hal yang bertolak belakang menurut saya, karena ini jadi hal yang bingung dalam suatu putusan yang pada akhirnya menimbulkan ketidak pastian hukum," terang ahli.

Sebagaimana yang sudah kita pahami pada umumnya, ketika suatu putusan dijatuhkan dengan pemidanaan seorang terdakwa maka hal yang berikutnya adalah memerintahkan segera ditahan, apakah dilembaga pemasyarakatan atau dirumah tahanan sehingga tidak terdapat kesangsian lagi dalam hal penetapan atau penegakkan hukumnya. Bahwa apa yang sudah diputus oleh hakim tersebut tinggal di eksekusi oleh penuntut umum," ahli menambahkan.

Lanjut ahli, tetapi kalau didalam putusan tersebut masih ada kata menetapkan untuk ditahan dalam tahanan kota seperti yang saya katakan tadi, menurut hemat saya ini yang mesti kita cermati baik baik, apakah ini sesuatu yang Ambigu cacat hukum, sehingga dengan demikian terdapat keragu raguan dalam hal seperti ini maka dapat kita harus kembalikan dalam azas yang sudah sangat tua, bahwa hal yang terjadi keragu raguan atau terdapat keragu raguan maka yang ditekan kan kepada terdakwa adalah yang menguntungkan terdakwa, meskipun kalau kita perhatikan dalam hukum acara pidana kita yang namanya tahanan itu memang dibatasi jangka waktunya. Dan kalau kita perhatikan didalam kuhap, mulai dari seseorang itu ditahan ditingkat penyidikan sampai dengan putusan Mahkamah Agung itu setidak tidaknya ada waktu sampai 400 hari atau lebih dari setahun untuk masa penahanan,” ujar ahli.

Setelah pemohon menggunakan kesempatannya untuk bertanya kepada ahli kini giliran dari pihak termohon dalam hal ini Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (Kejari Jaktim) Jandri untuk bertanya kepada ahli.

“Saudara ahli, Menurut ahli pra peradilan ini rolling nya apa? Sebatas apa pra peradilan ini,” tanya JPU Jandri.

Baik, kata ahli, Melalui yang mulia, kalau kita perhatikan didalam hukum acara pidana kita, di Pasal 1 butir 10 menyatakan bahwa tentang pra peradilan sebagai wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa dan memutus tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan tersangka itu satu.

Dua, Sah atau tidaknya penyidikan demi tegaknya hukum dan keadilan.

Ketiga, Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka.

Namun demikian masih kata ahli, dalam perkembangan lebih lanjut pra peradilan ini juga diperluas Mahkamah Konstitusi dengan menambahkan objek pra peradilan dengan masalah penetapan tersangka, penyitaan dan penggeledahan untuk tidak diajukan ke Pengadilan, jelasnya.

Jadi dengan demikian walaupun sejatinya, apa yang disebutkan disini dalam kaitan dengan pra peradilan dalam Pasal 77 dan Pasal 1 butir 10 disebutkan, demikian juga bahwa pra peradilan itu soal permintaan ganti kerugian sekalipun disitu hanya disebutkan masih dalam proses pemeriksaan," ucap ahli.

“Artinya, kalau saudara ahli sendiri berpendapat demikian, batasan ukurannya pra peradilan itu sendiri apakah harus sesuai dengan 7 hari atau bagaimana,” tanya Jaksa Jandri kepada ahli.

“Ya, ini yang mestinya diluruskan memang oleh Legislatif kita, artinya memang kita lihat pada dasarnya seseorang yang sudah diputus status terpidana pun masih dimungkinkan untuk mengajukan pra peradilan sekalipun dalam pemeriksaan pokok perkara sudah selesai,” jelas ahli kembali.

Tak seraya ketinggalan oleh pemohon dan termohon, Hakim tunggal Suparman Nyompa juga turut menanyakan kepada ahli.

“Saudara ahli, bagaimana perbedaannya yang namanya pemidanaan dengan penahanan, bisa dijelaskan," tanya Hakim kepada ahli.

“Baik yang mulia, jadi kalau kita lihat Pemidanaan itu adalah suatu hal yang dirampas untuk kemerdekaan seseorang yang sudah diputus oleh pengadilan yang mana putusan itu sudah berkekuatan hukum tetap. Sedangkan Penahanan tadi masih ada kemungkinan untuk dilakukannya upaya pemeriksaan dalam hal, katakanlah masa penahanan tersebut belum terpenuhi, tapi ketika upaya penahanan itu sudah melampaui, maka seseorang yang sedang diperiksa dalam persidangan pidana tersebut harus dikeluarkan demi hukum. Jadi disinilah kita lihat ketika penahanan itu dikatakan ada maka seseorang itu belum berstatus sebagai terpidana. beda dengan pidana penjara tadi, Ketika seorang itu sudah menjadi pidana penjara dan mempunyai hukum tetap maka barulah seseorang itu menjalani pidana penjara itu,” terang ahli.

Akhirnya sidang pun ditutup dan akan dilanjutkan kembali pada hari Senin (26/8/2019) dengan agenda putusan Hakim.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) telah menggelar sidang praperadilan terkait eksekusi terhadap Matheus Mangentang serta Ernawaty Simbolon pada Selasa (20/8/2019). Sidang yang dipimpin oleh hakim tunggal, Suparman Nyompa, S.H., M.H. tersebut dengan agenda penyerahan jawaban dari pihak Kejari Jaktim berjalan singkat dan dilanjutkan kembali pada Rabu (21/8/2019) dengan agenda bukti. (kopro/rd/jos)

See Also

Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 506 Gram Narkoba
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.498.840 Since: 05.03.13 | 0.1183 sec