Redaksi

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Saturday, 20 Juli 2019 | View : 26

SURABAYA-SBN.

Selamat jalan Mas Wendo. Semoga kau kembali padaNya dalam damai. Ada 3 karya berdampak besar yang dilakukan Mas Wendo. Demikian aku panggilnya ketika masih aktif di Gramedia.

Karya pertama adalah tulisan berserinya di majalah HAI yang dipimpin. Kolom yang diasuh berjudul MENULIS ITU GAMPANG. Mas Wendo membuka ruang harapan dan mind set tentang siapa saja bisa menulis asalkan dengan serangkaian syarat yang ia tulis. Ia tidak hanya mengasuh kolom namun mampu menciptakan gerakan. Ia juga menyampaikan pesan optimisnya pada masyarakat langsung melalui training dan seminar. Aku mengenalnya melalui jalur ini. Saat itu aku jadi penanggung jawab dan pemimpin redaksi majalah sekolah berjudul MANDIRI. untuk meneruskan virus optimis menulis maka aku undang ia dan Hilman penulis Lupus datang ke sekolah. Sejak itu aku beberapa kali bertemu.

Karya fenomenalnya yang kedua adalah majalah televisi dan film berjudul MONITOR. majalah ini laku keras. Mas Wendo pintar membaca trend. Ia permudah masyarakat untuk masuk dan memberi apresiasi ke televisi dan film melalui Monitor. Sayang ia terantuk karena "kenakalan"nya dengan menampilkan tokoh terpopuler. Ia sajikan angket yang meletakkan Nabi Muhammad bukan di urutan pertama. Masyarakat pemeluk agama Islam marah. Lalu muncullah gelombang demonstrasi ke Gramedia. Mas Wendo di penjara dan mulai saat itu masalah agama menjadi isu yang sensitif. Peristiwa ini menjadi musibah besar untuk Gramedia dan Mas Wendo.

Ketiga adalah produktifitas dalam menulis. Mas Wendo penulis fiksi yang sangat produktif. Beberapa karya novelnya fenomenal dan difilmkan seperti Senopati Pamungkas.

Sekeluar dari penjara Mas Wendo tetap bisa eksis. Hanya tangan dinginnya dalam membuat karya fenomenal dan atau populer tak muncul lagi. Semoga ada memoar yang ditulis. Memoarnya tentang perubahan radikal dari orang yang begitu populer dan kuasa dalam pengaruh terkait film dan televisi, berubah dan terbanting ke titik nadir terbawah. Yang saya ikuti adalah ia menjadi serius beragama. Kehidupan batin yang dihidupkan sungguh menarik dibaca. Apalagi kalau penulisnya Mas Wendo sendiri. Semoga buku semacam ini ditulisnya.

Selamat jalan Mas Wendo. Semoga kau kembali padaNya dalam damai.

See Also

Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.594.708 Since: 05.03.13 | 0.1161 sec