Hukum

Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat

Tuesday, 09 April 2019 | View : 46

JAKARTA-SBN.

Nama Sisca Dewi Hermawati alias Sisca Dewi belakangan ini menarik perhatian publik sejak kemunculannya di media sosial (medsos). Ia dilaporkan mantan petinggi Polri berinisial BS atas dugaan pencemaran nama baik melalui ITE, melakukan ancaman serta pemerasan.

Hukuman Sisca Dewi Hermawati alias Sisca Dewi diperberat oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta. Perempuan lulusan SMA itu dinilai memeras BS sebanyak Rp 35 miliar dan menghancurkan karier BS.

Sebelumnya, dalam sidang yang beragendakan keterangan dari terdakwa, Sisca Dewi membeberkan dari awal soal perkenalannya dengan BS. Mulai dari rekan kerja hingga akhirnya menikah siri.

Sidang tersebut dilaksanakan pada ruang sidang utama, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (11/12/2018) yang dipimpin oleh hakim ketua, Riyadi Sunindyo Florentina dan Hakim Anggota, Akhmad Jaini dan Lenny Wati Mulasimadhi.

Saat awal-awal kenal dan mulai intens komunikasi, BS sempat bermain ke rumah Sisca Dewi hingga larut malam. Hal itu juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-50.

"Pak Bambang sempat main ke rumah saya di jalan kesehatan. Saya masih inget persis waktu itu kebetulan ditanggal 23 Mei 2016- nya ke rumah saya hingga larut malam. Keesokannya dia ultah tanggal 24. Kemudian saya memberikan surprise. Sudah saya sediain sebuah kue ulang tahun dan give. Tepat jam 12 malam saya ucapkan happy birthday untuk BS," kata Sisca Dewi di dalam persidangan.

Saat diberikan surprise, BS, aku Sisca Dewi sempat terharu. Sebab, selama hidupnya, mantan petinggi polisi itu belum pernah diberikan surprise oleh orang yang menurutnya spesial.

"Setelah ulang tahun itu Mas BS sempat meneteskan air mata. Akhirnya beliau bercerita bahwa selama 50 tahun baru kali ini di hari ulang tahun diucapkan spesial oleh seseorang," tambah dia.

Kemudian beliau banyak bercerita tentang rumah tangganya. Setelah itu beliau menyampaikan mau nggak jadi pendamping saya," ujar Sisca Dewi.

"Terus saudara jawab apa?," tanya hakim ketua, Riyadi Sunindyo.

"Saya senyum-senyum malu saat itu. Akhirnya saya mau," ucap Sisca Dewi.

Masuk bulan Ramadan, BS akhirnya ingin mengenal lebih jauh keluarga Sisca Dewi. Sampai tiba hari Raya Idul Fitri, ia datang ke Madiun, Jawa Timur untuk menyampaikan niat baiknya tersebut.

"Mei-Juli masuk bulan puasa pak BS sempat beberapa kali datang ke rumah saya dan bicara pribadi dan dia sampaikan ingin mengenal keluarga saya. Terus saya sampaikan 'kita udah sama sama dewasa, saya nggak mau terlalu jauh'. Terus dia bilang serius sama Sisca, pengen kenal keluarga Sisca, orang tua Sisca. Kemudian datang ke Madiun 2 Juli lebaran kedua," ungkap Sisca Dewi.

"Waktu itu hari raya pertama merayakan dengan bu Furi istri pertama beliau di Mataram. Terus dari Mataram ke Surabaya saya jemput di Juanda," sambungnya.

"Kapan melihat BS mulai serius?," tanya Riyadi lagi.

"Setelah beliau datang dan melihat beliau saat sowan ke orang tua saya dan sempat nginap satu malam. Setelah itu kami lebih dekat lagi dan kami berencana menikah," pungkasnya.

Tapi seperti yang diketahui di fakta persidangan kala BS memberikan kesaksian, pernikahan siri itu dibantah. BS merasa Sisca menyebar fitnah dan memerasnya.

Sebagaimana dikutip dari berkas putusan banding, Selasa (9/4/2019), kasus bermula saat Sisca Dewi berkenalan dengan BS pada 2016. Dari perkenalan itu, mereka menjadi dekat dan BS kerap memberikan hadiah kepada Sisca Dewi.

Belakangan, Sisca Dewi meminta dinikahi dan mengancam akan membuka hubungan mereka ke atasan BS dan publik. Akibat tekanan itu, BS mau datang lokasi di Ancol untuk menghadiri acara pernikahan siri.

Saat ijab-kabul, BS buka-bukaan bahwa ia dipaksa oleh Sisca Dewi. Karena jawaban itu, penghulu akhirnya membatalkan pernikahan tersebut. Sebagai gantinya, BS bersedia memberikan paket jalan-jalan ke luar negeri dkk.

Tiga bulan setelahnya, Sisca Dewi mengirim pesan WhatsApp ke BS agar dibelikan rumah. Kalau tidak, Sisca Dewi akan membongkar hubungan mereka ke masyarakat.

BS mulai merasa diperas dan memberikan Rp 10 miliar kepada Sisca Dewi. Uang itu dibelikan rumah dan isinya di Pondok Betung, Tangerang Selatan.

Tahun berganti, Sisca Dewi kembali memeras BS dengan mengirim WhatsApp dan meminta Rp 10 miliar. Bila tidak, Sisca Dewi akan buka-bukaan tentang semuanya.

Awalnya BS mengabaikan. Belakangan, Sisca Dewi kembali mengirim pesan ancaman. BS tersudut dan terperas. BS kemudian memberikan Rp 25 miliar dan uang itu dibelikan rumah oleh Sisca Dewi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Meski sudah diberi uang miliaran rupiah, Sisca Dewi terus mengirim pesan-pesan yang menyinggung BS dan merusak rumah tangga BS serta melaporkannya ke atasan BS. Atas hal itu, BS mengambil langkah hukum dengan memidanakan Sisca Dewi.

Pada 14 Januari 2019, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan hukuman 3 tahun penjara ke Sisca Dewi. Atas hal itu, Sisca Dewi mengajukan banding.

"Menjatuhkan pidana penjara selama 3 tahun dan 6 bulan," ujar majelis PT Jakarta yang diketuai Johanes Suhadi.

Sisca Dewi dinilai secara sah dan meyakinkan dengan sengaja atau tanpa hak mendistribusikan dan mentransmisikan serta membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan dokumen elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan pengancaman sebagaimana perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan berlanjut.

"Terdakwa telah menghancurkan karier saksi karena jabatan saksi diturunkan. Begitu pula kehidupan pribadi dan rumah tangga saksi mengalami tekanan yang begitu berat yang berpotensi menghancurkan kehidupan keluarganya yang disebabkan tindakan terdakwa yang telah melakukan teror kepada istri saksi dan menyebabkan istri saksi malu dan menutup diri. Demikian pula anak saksi, mengalami tekanan psikis yang berat," ujar majelis dengan suara bulat.

Pengadilan Tinggi Jakarta memutuskan rumah yang dibeli Sisca Dewi dari hasil pemerasan itu dikembalikan ke BS.

"Sepatutnya dikembalikan ke saksi, tanpa menutup kemungkinan bagi pihak-pihak yang merasa punya hak atas tanah tersebut melakukan tuntutan secara perdata," ujar majelis yang beranggotakan Achmad Subaidi dan I Nyoman Adi Juliasa itu.

Dalam fakta persidangan, BS diketahui memberikan dua unit rumah mewah seharga miliaran rupiah. Salah satunya berlokasi di Jalan Lamandau III No.11 A, Klamat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Seperti diketahui, kedua rumah pemberian BS untuk Sisca Dewi disita polisi untuk kepentingan penyidikan kasus.

Rumah bergaya modern minimalis tersebut terdiri dari tiga lantai, lengkap dengan ornamen bebatuan warna abu-abu, tanaman menjalar dan kaca. Pagar berwarna hitam berukuran kurang lebih dua meter itu terlihat digembok dari dalam.

Ada CCTV terpasang di samping kiri bagian atas pagar hitam tersebut. Terlihat pula daun yang berjatuhan di lantai teras rumah, tanda tak pernah disapu atau dirawat oleh sang empunya sejak beberapa bulan lalu.

Pada bagian depan rumah, tepatnya di samping kiri pagar, terdapat jendela yang berhubungan langsung dengan ruang penjaga keamanan. Namun, tempat berbentuk persegi empat itu juga nihil penghuni.

Tak ada satu orang pun yang bisa dimintai keterangan soal rumah Sisca Dewi pemberian BS tersebut. Maklum saja, rumah itu merupakan satu dari hunian mewah lain yang bertengger di lingkungan super privat itu. (det/jos)

See Also

LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 506 Gram Narkoba
Keppres Pilkada Serentak 27 Juni 2018 Sebagai Hari Libur Nasional
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.396.775 Since: 05.03.13 | 0.2187 sec