Hukum

Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara

Wednesday, 12 Desember 2018 | View : 1316

PALEMBANG-SBN.

Pembunuh keji sopir online GrabCar di Palembang, Sumatera Selatan, Fr (16 tahun) menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Palembang Kls 1A Khusus, Jalan Kapten A. Rivai No.16, Sungai Pangeran, Ilir Timur I, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Dia duduk sebagai terdakwa atas kasus pembunuhan sopir online Grabcar, Sofyan (42 tahun).

Salah satu pembunuh sadis sopir Grabcar di Palembang, Fr (16 tahun), divonis 10 tahun penjara. Fr terbukti melanggar pasal perampokan disertai pembunuhan berencana yang menyebabkan tewasnya Sofyan (42 tahun).

"Menjatuhkan pidana terhadap anak (Fr) dengan dengan pidana penjara 10 tahun," ucap Hakim tunggal, Sobur Susatyo, saat membacakan putusan di Pengadilan Negeri (PN) Palembang Kls 1A Khusus, Jalan Kapten A. Rivai No.16, Sungai Pangeran, Ilir Timur I, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (11/12/2018).

Sebelum membacakan putusan, Hakim menilai perbuatan terdakwa cukup sadis. Bahkan perbuatannya itu sudah menyebabkan hilangnya nyawa Sofyan yang juga tulang punggung keluarga.

Dengan begitu, Hakim memutuskan Fr bersalah sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni tuntutan 10 tahun penjara. Dalam putusan itu, ada beberapa alat bukti dan dihadirkan ke persidangan.

"Ini putusan telah sesuai tuntutan kita ya. terdakwa juga tidak bisa divonis berlebih karena masih anak-anak. Tetapi tentunya ini akan berkorelasi dengan sidang untuk terdakwa lain yang sudah dewasa," kata JPU Purnama.

Selain Fr, kata Jaksa Purnama, ada dua pelaku lain yang akan segera disidang di PN Palembang, yakni Ridwan dan Acundra alias Acun.

"Berkas yang lain dipisah karena status sudah dewasa, berbeda dengan Fr dan memang masih di bawah umur. Namun putusan ini telah sesuai dengan tuntutan untuk membuat jera," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, salah satu pembunuh sopir GrabCar di Palembang, Sumatera Selatan, Fr (16 tahun) menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Palembang Kls 1A Khusus, Jalan Kapten A. Rivai No.16, Sungai Pangeran, Ilir Timur I, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (4/12/2018). Sidang perdana Fr digelar di Pengadilan Negeri Palembang berdasarkan Sistem Peradilan Pidana Anak. Dengan begitu, sidang dengan Hakim tunggal Subur itu digelar tertutup dari media.

Setelah proses sidang, terlihat keluarga korban berdiskusi dengan JPU di ruang diversi. Tidak lama, keluarga pun keluar dengan raut wajah sedih tapi tetap tegar.

Sementara itu, JPU Kejati Sumsel Purnama mengatakan kepada terdakwa pihaknya mendakwa dengan Pasal 340 atau Pasal 365 ayat (2) KUHP. Kedua pasal tersebut mengatur soal pembunuhan berencana.

"Ini sudah sesuai dengan pertimbangan karena dia telah merencanakan pembunuhan. Jadi ini ada peran masing-masing," kata Purnama seusai sidang, Selasa (4/12/2018).

Kedua pasal tersebut akan berkorelasi terhadap dua pelaku lain yang juga ditangkap, yaitu Ridwan (42) dan Acun (20). Namun keduanya disidangkan di berkas berbeda karena sudah dewasa. 

"Korelasi pasal itu memang ke pelaku lain ya. Karena selain dia yang masih anak ini, ada pelaku lain yang dewasa. Kalau ini nanti divonis Pasal 340 oleh hakim, artinya pelaku lain juga sama," tegas Purnama. 

Terdakwa anak bersama tiga rekannya diketahui merencanakan pembunuhan dan punya peran masing masing. Fr bahkan ikut menyusun strategi sebelum menjalankan aksi sadisnya pada Oktober lalu itu.

Sementara itu, terkait niat awal melakukan pencurian dengan kekerasan, itu dinilai berbeda. Namun, yang pasti, dalam sidang SPPA, hukuman yang diberikan separuh dari ancaman dewasa, yaitu 10 tahun penjara.

Adapun pertimbangan lain JPU, nyawa yang dihilangkan itu merupakan tulang punggung keluarga. Ada empat anak korban yang ditinggalkan dan kini masih berusia 14 tahun ke bawah.

Sebagaimana diketahui, salah satu sopir GrabCar, Sofyan, dikabarkan hilang saat membawa penumpang pada Senin (29/10/2018).

Seperti dikabarkan sebelumnya, pembunuhan ini terjadi pada Senin (29/10/2018) lalu.

Keluarga yang kehilangan pun langsung melapor ke SPKT Polda Sumsel.

Mendapat laporan keluarga korban, tim Subdit III Jatanras langsung mengejar dan menangkap salah satu pelaku, Rd (43 tahun). Namun, kepada penyidik, Rd mengaku tidak ingat di mana mayat korban dibuang setelah tewas dicekik.

Tak banyak berpikir, polisi langsung mencari mayat korban dan menelusuri rute saat para pelaku membawa kabur mobil. Di Jalan Tanah Muara Langkitan inilah tim menemukan tulang belulang korban. 

Diketahui ada empat pelaku yang terlibat pada aksi sadis tersebut, yaitu Riduan (43), Acun (20), Fr (16), dan AK, yang saat ini masih masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Keempat pelaku menghabisi sang sopir dengan mengorder Grabcar dari Km 4,5 tujuan KFC Bandara SMB II Palembang. Setiba di Jalan bandara, korban dicekik hingga tewas.

Selanjutnya, korban dibuang ke daerah perkebunan sawit di Musi Rawas Utara. Korban ditemukan dua minggu kemudian sudah dalam kondisi tulang belulang.

Sebelumnya, keluarga korban sopir taksi online GrabCar di Palembang yang tewas dibunuh mengamuk di hadapan Kapolda Sumatera Selatan, Jumat (23/11/2018). Mereka minta pelaku dihukum mati.

Mengamuknya keluarga korban bermula saat Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Drs. Zulkarnain Adinegara merilis kasus kejahatan pada bulan November. Salah satu kasus yang dirilis di halaman MaPolda Sumsel, Jl. Jenderal Sudirman No. Km.4,5, Pahlawan, Kemuning, Kota Palembang adalah pembunuhan sopir GrabCar, Sofyan (42 tahun).

Istri korban, Fitri, dan orang tua korban hadir menyaksikan proses rilis. Di sela rilis, Kapolda menemui dua pelaku pembunuhan sopir GrabCar, Fr dan Acun.

Di hadapan Kapolda, Fr, yang berusia masih 16 tahun tapi sudah memiliki istri dan seorang anak, tiba-tiba menangis. Dia mengaku menyesal atas perbuatannya.

Tak hanya itu, Fr pun mengaku ingin bertemu dengan keluarga korban. Fr ingin meminta maaf dan bersujud di kaki istri dan orang tua korban.

"Saya menyesal, Pak, saya mau meminta maaf sama keluarga korban. Saya minta dimaafkan dan siap menjalani hukuman," kata Fr kepada Kapolda.

Kapolda, yang sempat menolak, akhirnya memberikan izin, tapi dikawal ketat oleh anggota Jatanras Polda Sumsel.

Tepat di hadapan istri korban, Fr pun minta maaf.

Keluarga korban yang emosional langsung datang mendekati kedua pelaku yang saat itu diborgol. Istri korban tiba-tiba langsung melayangkan tangan kirinya dan memukul Acun dan Fr. 

"Kau sadar tidak, suami aku sudah mati, punya empat anak dan sekarang sudah tidak punya bapak? Enak kali kau cuma mau minta maaf, pembunuh," teriak istri korban saat memukul keduanya.

Permintaan maaf Fr dan Acun pun ditolak keluarga. Keluarga minta kepada Kapolda Sumsel untuk menghukum si pelaku seberat-beratnya. Bahkan, bila perlu, hukuman mati. 

"Tolong, Pak, hukum seberat-beratnya. Hukum mati saja orang seperti ini, Pak. Kasihan anak saya, Pak. Mereka ini tak punya hati, biadab," sambung Fitri yang wajahnya mulai memerah dengan mata berkaca-kaca.

Melihat suasana semakin panas, kedua pelaku dan keluarga korban itu akhirnya dipisahkan. Fr menangis saat ditanya mengapa nekat membunuh korban.

"Saya diajak Akbar, saya awalnya hanya ingin main ke kota. Saya belum pernah ke Palembang, ingin melihat Jembatan Ampera, bukan merampok," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Kapolda Maluku Utara pada tahun 2015 ini, Irjen Pol. Drs. Zulkarnain Adinegara menyebut saat ini ada tiga dari empat pelaku yang telah ditangkap. Ketiganya adalah Ridwan (42), Fr (16), dan Acun (22). Ketiga pelaku merupakan warga Musi Rawas Utara. 

"Pelaku ada empat dan sudah tiga yang ditangkap. Satu ditangkap dari tempat persembunyian dan dua menyerahkan diri. Untuk pelaku lain berinisial AK saat ini masih dikejar," tutur mantan Kapolres Muara Enim. 

Sejauh ini, mantan Kapolda Riau ini memastikan Sofyan tewas dibunuh para pelaku. Motifnya tak lain adalah menguasai berang-barang korban. 

"Motifnya mau menguasai barang milik korban, seperti HP dan mobil dan untuk dijual. Mobilnya sudah kita diamankan," tutup lulusan Akpol 1985 yang berpengalaman dalam bidang intel tersebut.

See Also

Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.664.951 Since: 05.03.13 | 0.1785 sec