Internasional

Turki Adakan Pemilu Hari Ini

Sunday, 24 Juni 2018 | View : 79

ANKARA-SBN.

Turki pada hari ini akan mengadakan pemilihan umum (pemilu) presidensial dan parlementer. Sebanyak 55 juta pemilih, plus 3 juta pemilih di luar negeri masuk dalam daftar pemilih.

Pada April lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta diadakan pemilu mendadak (snap election) dengan harapan bisa mengonsolidasikan pemerintahannya karena pada saat itu elektabilitasnya tinggi. Namun, hasil survei terkini menunjukkan bahwa pemilu bakal berlangsung ketat.

Untuk pertama kalinya, kelompok oposisi yang tercerai-berai yang terdiri dari kelompok sekuler, nasionalis, Islamis, dan Kurdi lebih bersatu. Beberapa partai bahkan berkoalisi. Kondisi ekonomi yang tadinya merupakan keberhasilan Recep Tayyip Erdogan, kini tampak goyah. Pertumbuhan ekonomi melambat dan mata uang terdepresiasi 25 persen.

Menurut survei Gezici yang dipublikasikan Kamis 14 Juni lalu, pemilu bakal berjalan dua putaran. Partai berkuasa AK juga diperkirakan bakal kehilangan kursi mayoritas di parlemen.

Survei Gezici yang melibatkan 2.814 responden 2-3 Juni lalu, menunjukkan Presiden Recep Tayyip Erdogan berpotensi merebut 47,1 persen suara di ronde pertama. Jika diperlukan, putaran kedua akan dilakukan 8 Juli. Koalisi AK dengan partai nasionalis MHP diperkirakan merebut 48,7 persen dalam pemilihan parlemen yang memperebutkan 600 kursi. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan masih berpeluang besar menang, tetapi tidak akan mudah.

Sebanyak empat partai kelompok oposisi berkoalisi untuk pemilu parlementer, di antaranya Partai Baik pimpinan Meral Aksener yang berhaluan nasionalis. Oposisi utama adalah CHP, partai sekuler yang dipimpin Muharrem Ince. Dia meminta dukungan kelompok Kurdi dengan mengunjungi pimpinan partai HDP, Selahattin Demirtas, kandidat pro-Kurdi yang dipenjara. Meski CHP tidak berkoalisi dengan HDP, tetapi dukungan HDP merupakan modal penting jika pemilu memasuki putaran kedua.

Jika Recep Tayyip Erdogan menang, maka dia akan lebih berkuasa dari sebelumnya. Sistem presidensial yang baru akan menghapuskan jabatan perdana menteri dan memberikan kewenangan kepada presiden untuk membubarkan parlemen, menyatakan keadaan darurat, dan menambah jumlah juri yang dapat ditunjuk. (nbc)

See Also

Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
China Meminjamkan Sepasang Panda Ke Indonesia
Spanyol Buru Sopir Pelaku Teror Di Barcelona
Serangan Teror Di Barcelona
Malala Yousafzai Peraih Nobel Diterima Di The University Of Oxford
Seorang Pria Lukai 5 Orang Di Swiss
Pria India Mengaku Danai Al-Qaeda Ribuan Dolar AS
PM Irak Secara Resmi Umumkan Pembebasan Mosul Dari ISIS
Pasukan Irak Bebaskan Bandara Mosul Dari ISIS
Pasukan Irak Bebaskan Dua Desa Di Dekat Mosul
ISIS Paksa Anak Kecil Dan Penyandang Disabilitas Kemudikan Truk Bermuatan Bom
Donald Trump Janji Persatukan Bangsanya Dan Bawa Perubahan
Gempa Di Italia Tengah
Polisi Istanbul Tangkap Pelaku Penembakan Kelab Malam Turki
jQuery Slider
Arsip :201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.891.387 Since: 05.03.13 | 0.186 sec