Internasional

Turki Adakan Pemilu Hari Ini

Sunday, 24 Juni 2018 | View : 255

ANKARA-SBN.

Turki pada hari ini akan mengadakan pemilihan umum (pemilu) presidensial dan parlementer. Sebanyak 55 juta pemilih, plus 3 juta pemilih di luar negeri masuk dalam daftar pemilih.

Pada April lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta diadakan pemilu mendadak (snap election) dengan harapan bisa mengonsolidasikan pemerintahannya karena pada saat itu elektabilitasnya tinggi. Namun, hasil survei terkini menunjukkan bahwa pemilu bakal berlangsung ketat.

Untuk pertama kalinya, kelompok oposisi yang tercerai-berai yang terdiri dari kelompok sekuler, nasionalis, Islamis, dan Kurdi lebih bersatu. Beberapa partai bahkan berkoalisi. Kondisi ekonomi yang tadinya merupakan keberhasilan Recep Tayyip Erdogan, kini tampak goyah. Pertumbuhan ekonomi melambat dan mata uang terdepresiasi 25 persen.

Menurut survei Gezici yang dipublikasikan Kamis 14 Juni lalu, pemilu bakal berjalan dua putaran. Partai berkuasa AK juga diperkirakan bakal kehilangan kursi mayoritas di parlemen.

Survei Gezici yang melibatkan 2.814 responden 2-3 Juni lalu, menunjukkan Presiden Recep Tayyip Erdogan berpotensi merebut 47,1 persen suara di ronde pertama. Jika diperlukan, putaran kedua akan dilakukan 8 Juli. Koalisi AK dengan partai nasionalis MHP diperkirakan merebut 48,7 persen dalam pemilihan parlemen yang memperebutkan 600 kursi. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan masih berpeluang besar menang, tetapi tidak akan mudah.

Sebanyak empat partai kelompok oposisi berkoalisi untuk pemilu parlementer, di antaranya Partai Baik pimpinan Meral Aksener yang berhaluan nasionalis. Oposisi utama adalah CHP, partai sekuler yang dipimpin Muharrem Ince. Dia meminta dukungan kelompok Kurdi dengan mengunjungi pimpinan partai HDP, Selahattin Demirtas, kandidat pro-Kurdi yang dipenjara. Meski CHP tidak berkoalisi dengan HDP, tetapi dukungan HDP merupakan modal penting jika pemilu memasuki putaran kedua.

Jika Recep Tayyip Erdogan menang, maka dia akan lebih berkuasa dari sebelumnya. Sistem presidensial yang baru akan menghapuskan jabatan perdana menteri dan memberikan kewenangan kepada presiden untuk membubarkan parlemen, menyatakan keadaan darurat, dan menambah jumlah juri yang dapat ditunjuk. (nbc)

See Also

Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
Sekelompok Pria Bersenjata Tewaskan 15 Orang Saat Demo Irak
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.809.127 Since: 05.03.13 | 0.1363 sec