Hukum

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Friday, 22 Juni 2018 | View : 59

JAKARTA-SBN.

Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menggelar sidang vonis terdakwa Oman Rochman alias Abu Sulaiman alias Aman Abdurrahman terkait kasus dugaan tindak pidana terorisme, di Ruang Sidang Utama Prof. H. Oemar Seno Adji, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jl. Ampera Raya No.133, RT05/RW10, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (22/6/2018) pagi.

Majelis hakim membuka persidangan sekitar pukul 08.35 WIB tadi. Saat ini, majelis hakim sedang membacakan berkas putusan secara bergantian. Berdasarkan pantauan awak media, Ketua Majelis Hakim Akhmad Zaini membuka sidang sekitar pukul 08.35 WIB.

Terdakwa Aman yang mengenakan kain warna hitam di kepalanya, nampak tenang memasuki ruang persidangan.

Terdakwa Oman Rochman alias Abu Sulaiman alias Aman Abdurrahman, terlihat tenang ketika masuk ke dalam ruang sidang utama Prof H. Oemar Seno Adji di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dia mengaku siap mendengarkan vonis terkait kasus tindak pidana terorisme.

Hal itu dikatakan penasihat hukumnya Asludin Hatjani sebelum sidang vonis dimulai.

"Biasa saja, tidak ada persiapan khusus untuk itu. Baik pengacara dan ustaz Oman sendiri siap mendengarkan vonis," ujar Asludin, Jumat (22/6/2018).

Dikatakan, kliennya membantah terlibat dalam serangkaian kasus teror, termasuk kasum bom Thamrin. Namun, Aman siap apabila dihukum karena percaya khilafah

"Yang jelas beliau tidak terima terlibat dalam kasus bom Thamrin dan lain-lain. Kalau dihukum karena percaya khilafah dan menyuruh orang ke Suriah berjuang membantu khilafah beliau mengakui," ungkapnya.

Ia menyampaikan, tim penasihat hukum belum memikirkan apakah akan banding terhadap putusan majelis hakim nanti. Pihaknya, akan mendengarkan lebih dahulu vonis yang dijatuhkan.

"Sidang kasus dugaan terorisme dengan terdakwa Aman Abdurrahman kami nyatakan dibuka untuk umum," ujar Akhmad, Jumat (22/6/2018).

Terdakwa Aman, terlihat tenang mengikuti persidangan.

Pada sidang sebelumnya, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa Aman Abdurrahman terkait kasus terorisme dengan hukuman mati, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pada persidangan sebelumnya, terdakwa Aman juga telah menyatakan siap dihukum mati terkait pandangannya tentang khilafah atau syirik demokrasi. Namun, dia menolak dikaitkan dengan peristiwa teror Gereja Oikumene di Samarinda, kasus bom Thamrin Jakarta Pusat dan kasus bom Kampung Melayu Jakarta Timur.

Pentolan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) itu, diduga melanggar Pasal 14 Juncto Pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana dakwaan kesatu primer. Sementara dakwaan kedua primer, melanggar Pasal 14 Juncto Pasal 7 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Aman diduga sebagai aktor di balik pengeboman di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, tahun 2016 lalu. Selain itu, dia juga terlibat kasus teror Bom Gereja Oikumene di Samarinda tahun 2016, Bom Kampung Melayu Jakarta Timur tahun 2017, serta dua penyerangan terhadap polisi di Medan dan Bima tahun 2017.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Aman Abdurrahman dengan hukuman mati karena terbukti secara sah terlibat dalam kasus terorisme. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, memvonis terdakwa Aman Abdurrahman dengan hukuman mati terkait tindak pidana terorisme, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya No.133, RT05/RW10, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (22/6/2018). 

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Oman Rochman alias Aman Abdurrahman dengan pidana mati," ujar Ketua Majelis Hakim Akhmad Zaini, di Ruang Sidang Utama Prof. H. Oemar Seno Adji, Jumat (22/6).

Aman merespon vonis mati dengan melakukan sujud di depan persidangan. Sejumlah polisi pun langsung membuat barikade di belakang kursi Aman untuk melakukan pengamanan.

Setelah membacakan vonis, Akhmad mempersilahkan Aman untuk menanggapi apakah akan banding, pikir-pikir atau menerima putusan majelis hakim.

Terpidana kasus terorisme Aman Abdurrahman menolak banding terkait vonis mati yang diputuskan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Aman pun dengan tegas menyatakan menerima vonis mati.

Sementara itu, penasihat hukum menyatakan akan pikir-pikir. Penasihat hukum Aman, Asludin Hatjani, menyampaikan akan pikiri-pikir terhadap putusan majelis hakim tersebut. "Dengan adanya vonis hukuman mati tadi, kalau Ustadz Oman sendiri karena dia tidak mengakui adanya peradilan dan dia tidak mengakui adanya negara, karena dia mengakui adanya khilafah, maka dia berlepas diri terhadap ini. Makanya dia menolak. Tapi kami dari penasihat hukum sendiri menyatakan pikir-pikir, itu pun kami akan konsultasikan kembali apakah mau ajukan banding atau tidak itu bergantung beliau," ucap Asludin Hatjani, penasihat hukum Aman, di PN Jakarta Selatan, Jl. Ampera Raya No.133, RT05/RW10, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (22/6/2018). "Kami penasihat hukum akan pikir-pikir," imbuh Asludin.

Pada saat Asludin menyatakan pikir-pikir, Aman sempat melambaikan tangan, memberikan isyarat tidak usah banding.

Dikatakan, tim penasihat hukum akan segera berkonsultasi dengan Aman terkait apakah akan banding atau menolaknya.

"Beliau sendiri menyatakan berlepas diri, berlepas diri maksudnya dia tidak menerima dan tidak menolak. Dia tidak ada keinginan untuk melakukan upaya banding, tetapi kami sendiri sebagai penasihat hukum terdakwa tadi menyatakan pikir-pikir. Beliau tadi sudah angkat tangan menolak walupun tidak ngomong tetapi dia menolak tadi. Semuanya akan saya konsultasikan dengan beliau, dia yang menentukan apakah banding atau tidak. Tetapi dari isyratnya, saya lihat dia tidak akan nyatakan banding, dia kelihatan menolak. Kalau saya tidak bisa bertindak tanpa persetujuan yang bersangkutan, kalau dia nyatakan banding saya banding, kalau dia nyatakan tidak banding, ya tidak," ungkapnya.

Sementara itu, tim penasihat hukum menilai, putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis mati kliennya terlalu dipaksakan.

Asludin mengatakan, majelis hakim memutuskan hukuman mati terhadap kliennya karena Aman menyampaikan pesan Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani, Juru Bicara Daulah Khilafah Islamiyah yang mengimbau untuk melakukan amaliah seperti di Prancis, kepada Saiful Muthohir alias Abu Gar, koordinator kasus Bom Thamrin.

"Setelah mendengar vonis majelis hakim, tadi maka terdakwa Ustaz Aman Abdurrahman terbukti bersalah terlibat dalam Bom Thamrin dan lain-lain, itu hanya karena beliau menyampaikan pesan Syeikh Adnani yang menyatakan untuk melakukan amaliah seperti di Prancis. Itulah satu-satunya kalau kita dengarkan semua pembacaan vonis tadi. Itu yang menjadi alasan oleh majelis hakim untuk menyatakan bahwa terdakwa ini terbukti terlibat dalam Bom Thamrin dan lain-lain," katanya.

Menurutnya, vonis majelis hakim terlalu dipaksakan, karena Abu Gar ketika menjadi saksi menyatakan dirinya sudah mengetahui pesan Syeikh Al-Adnani sebelumnya.

"Kalau saya menyatakan itu terlalu dipaksakan sekali, karena apa yang dijadikan alat bukti tadi itu adalah pesan beliau (Aman) kepada Abu Gar yang menyampaikan pesan dari Syeikh Adnani bahwa harus melakukan amaliah seperti di Prancis. Tapi Abu Gar sendiri dalam persidangan menyatakan apa yang dilakukan oleh Ustaz Oman itu sudah diketahui sebelumnya, jadi bukan karena Ustaz Oman," ungkapnya.

"Saya katakan bahwa satu-satunya yang menghubungkan Ustaz Oman dengan Bom Thamrin dan lain-lain itu, adalah pesan yang disampaikan Ustaz Oman kepada Abu Gar. Pesan itu bukan pesan dari Ustaz Oman, tapi pesan Syeikh Adnani, Juru Bicara ISIS, untuk melakukan amaliah seperti di Prancis," tandasnya.

See Also

Keppres Pilkada Serentak 27 Juni 2018 Sebagai Hari Libur Nasional
Jennifer Dunn Divonis 4 Tahun Penjara
Jaksa KPK Tuntut Rita Widyasari Dihukum 15 Tahun Penjara
Densus 88 Antiteror Sergap Terduga Teroris JAD Di Cirebon
Anggota DPRD Kota Bogor Diamankan Polresta Bogor Kota
Densus 88 Antiteror Lumpuhkan Dua Terduga Teroris Di Depok
Polisi Siaga Jaga Sidang Vonis Aman Abdurrahman
Polres Manggarai Barat Bekuk Pemerkosa 2 Turis Mancanegara
Babinsa Kodim 0716/Demak Evakuasi Sosok Mayat Berhelm Yang Gantung Diri
Kapolres Bogor Larang Anggotanya Ambil Jatah Libur
Buku Penerbit Yang Di Black List Pemerintah Malah Dibagikan Ke Sekolah-sekolah Di Jombang
4 Pegawai Bank Jatim Sudah Jadi Terdakwa
BPOM Minta Importir Tarik Sarden Kaleng Terindikasi Mengandung Cacing
Pasangan Kekasih Cikupa Yang Ditelanjangi Sudah Bertunangan Dan Akan Menikah
Polisi Dalami Aliran Dana Jamaah First Travel
Polisi Tetapkan Komisaris First Travel Jadi Tersangka
Bareskrim Polri Geledah Rumah Mewah Bos First Travel Di Sentul
Perampok Tewaskan Italia Chandra Kirana Putri Menyerah Ke Polisi
Gatot Brajamusti Divonis 8 Tahun Terkait Kepemilikan Sabu
PK Ditolak, Pembunuh Sisca Yofie Tetap Dihukum Mati
Ridho Rhoma Dibekuk Polisi Terkait Kasus Narkoba
Agar Tidak Melanggar, Kodim 0716/Demak Dapat Penyuluhan Hukum
KPK Tetapkan Mantan Dirut PT. Garuda Indonesia Sebagai Tersangka Suap
Polisi Selidiki Dugaan Korupsi Pengelolaan Trans Semarang
BNN Sebut 11 Negara Suplai Narkoba Ke Indonesia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.840.006 Since: 05.03.13 | 0.2302 sec