Internasional

Serangan Militan Perkeruh Mesir Membara

Wednesday, 21 Agustus 2013 | View : 892

KAIRO-SBN. 

Krisis Mesir yang belum berakhir, yang justru semakin sengit, diperparah dengan serangan kelompok militan tak dikenal di Semenanjung Sinai. Situasi Mesir semakin kacau setelah segerombolan militan tak dikenal tersebut ikut memperkeruh suasana. Serangan militan tersebut memicu kekhawatiran kembalinya gelombang kekerasan oleh kelompok-kelompok Islam garis keras yang pernah menyapu Mesir pada 1990-an.

Sekelompok polisi sedang menaiki bus ketika dicegat kawanan bersenjata. Sejumlah laporan mengatakan polisi-polisi itu dipaksa keluar dari bus dan ditembak, laporan lainnya mengatakan kawanan tersebut menggunakan granat berpeluncur roket. Para militan itu menembakkan pelontar granat ke dua bus yang dipenuhi penumpang polisi dan sedang melintasi Kota Sinai, Minggu (18/8/2013).

Saksi mata mengatakan kelompok militan menembakkan granat bermuatan roket ke dua bus yang melaju di Semenanjung Sinai yang mengangkut polisi Mesir. Tak disebutkan siapa pelakunya dan apa alasan serangan. Serangan ini terjadi tak lama setelah pemimpin militer Mesir bersumpah akan mengerahkan segenap tenaga untuk mengatasi kekerasan akibat bentrok dengan massa penentang Pemerintah Mesir interim

Para penyerang diyakini merupakan anggota sebuah milisi Islam yang disebut para pengecam beroperasi di Sinai dengan dukungan Presiden Mohamed Moursi yang digulingkan. Militer Mesir menggulingkan Mohamed Moursi tanggal 3 Juli, didukung rangkaian demonstrasi umum berskala besar. Militer minggu lalu juga secara paksa membubarkan protes duduk selama berminggu-minggu oleh para pendukung Mohamed Moursi. Bentrok antara aparat keamanan dan massa pendukung Presiden terguling Mohamed Moursi sejak Rabu (14/8/2013) lalu, masih berlanjut hingga Senin (19/8/2013). Hingga jumlah korban jiwa dan luka-luka terus bertambah.

Demonstran pro-Moursi kebanyakan dari kelompok Persaudaraan Muslim pada Senin (19/8/2013) bersumpah akan menggelar demo baru. Sehari sebelumnya, para pengunjuk rasa pendukung Moursi menunda protes karena khawatir dengan kondisi keamanan.

Sumber di kesehatan dan keamanan yang tidak mau ditulis namanya menyatakan dalam peristiwa itu, 24 polisi dinyatakan tewas dan tiga luka-luka. Laporan terakhir menyebutkan sebanyak 35 tewas dan sebanyak 25 aparat polisi Mesir tewas akibat serangan berdarah pada Senin (19/8/2013) tersebut. Menurut aparat keamanan, serangan Sinai melukai dua aparat polisi. Belum diketahui dari kelompok mana militan tersebut. Kejadian itu terjadi saat bus polisi menuju kota Rafah di perbatasan Mesir Jalur Gaza.

Kementerian Dalam Negeri Mesir pun tidak menutup-nutupi peristiwa tersebut dan menggambarkan serangan tersebut dilakukan oleh para teroris-teroris bersenjata di Utara Sinai. Kementerian Dalam Negeri Mesir menuding kelompok teroris bersenjata di balik peristiwa itu. Sementara, pejabat perbatasan mengatakan bahwa perbatasan Rafah akan ditutup menyusul serangan tersebut.

Serangan pada hari Minggu (18/8/2013) itu tercatat sebagai serangan paling mematikan setelah serangan pada Agustus 2012 yang menewaskan 16 tentara Mesir. Pemerintah Mesir sebetulnya telah mengerahkan pasukan tambahan ke Sinai, sebuah wilayah gurun yang dihuni oleh suku Baduin. Sejak 3 Juli 2013, militer Mesir mengaku sudah menumpas hampir 70 ‘teroris’ yang bersembunyi di wilayah itu.

Situasi keamanan di Semenanjung Sinai ikut memburuk setelah krisis politik ‘menyergap’ Mesir sejak terjadi penggulingan terhadap Presiden Mohamed Moursi pada 3 Juli silam. Krisis semakin buruk saat demonstran pro-Moursi terus menuntut Moursi dikembalikan ke tampuk kekuasaan, yang memuncak pada bentrok aparat keamanan dan massa pro-Moursi pada 14 Agustus lalu. Sebanyak 500 orang tewas dalam Rabu (14/8/2013) berdarah tersebut. Angka korban tewas di kalangan demonstran telah mencapai lebih dari 700 orang, dan hingga kini hampir 100 anggota pasukan keamanan telah tewas.

Konflik lanjutan hingga Senin (19/8/2013) pekan ini menambah korban jiwa hingga 800 orang. Serangan itu juga memperumit krisis politik yang sudah memakan korban jiwa hampir 800 orang tewas. AFP menyebutkan korban tewas lebih dari 1.000 sejak Mohamed Moursi terguling. Krisis ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok militan untuk memperkeruh keadaan dan menebar teror yang terutama dialamatkan ke fasilitas aparat polisi dan militer.

Pakar konflik Stacey Gutkowski, dari King’s College di London, mengatakan militer harus mengambil itikad untuk rekonsiliasi dan Ikhwanul Muslimin harus menerimanya. “Militer Mesir tidak punya kemampuan untuk memerintah. Militer Mesir kini memerintah, seperti militer di negara-negara lain, di jalan-jalan," tukas Stacey Gutkowski. “Militer harus menahan diri. Ikwanul harus menahan diri dengan mundur dari jalan-jalan. Oposisi liberal harus mengatur diri dan diberi ruang untuk membentuk diri sebagai partai politik,” tambah dia. 

Pengacara mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak mengatakan kliennya akan segera dibebaskan, Senin (19/8/2013). Fareed el-Deeb mengatakan pengadilan Mesir telah membebaskan Hosni Mubarak dari tuduhan korupsi, yang berakar dari tuduhan bahwa dia dan putranya menggelapkan uang untuk membangun istana. Klaim itu belum bisa segera dikonfirmasi oleh pejabat kehakiman. Tetapi kantor berita Perancis, AFP yang mengutip sumber pengadilan melaporkan bahwa Hosni Mubarak akan tetap dalam tahanan atas tuduhan dalam kasus lain. 

Hosni Mubarak (85 tahun) masih menghadapi pengadilan ulang atas tuduhan gagal menghentikan pembunuhan demonstran dalam pemberontakan yang menggulingkannya dari kekuasaan tahun 2011.

Panglima militer, Jendral Abdel Fatah el-Sissi, berjanji menggelar pemilu dan mengatakan akan ada ‘tempat bagi semua pihak’ untuk berpartisipasi. Tetapi sejauh ini Ikhwanul Muslimin berkeras Mohamed Moursi harus dikembalikan ke jabatannya semula.

Ada ketakutan yang tidak biasa di jalan-jalan Kairo, dimana warga saling memperingatkan agar menghindari sejumlah kawasan tertentu dan tinggal di rumah setelah jam malam pukul tujuh. Di sebuah ruas jalan belanja, toko-toko kesulitan akibat jam buka yang lebih singkat dan para konsumen yang cemas oleh masalah-masalah lain. 

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Chuck Hagel hari Senin (19/8/2013) mengatakan ia dan beberapa pejabat lainnya telah mengadakan sejumlah pembicaraan dengan militer Mesir dan bahwa Amerika ‘tengah meninjau kembali hubungannya dengan Mesir dalam segala bidang’. Mesir saat ini benar-benar sudah dalam kondisi darurat. Kekhawatiran internasional tentang pergolakan di Mesir semakin meningkat.

Beberapa jam sebelum serangan di Sinai itu, pasukan keamanan menewaskan sekitar 36 demonstran Islamis yang diduga hendak kabur ketika akan dipindahkan ke penjara lain. Kelompok utama pendukung Mohamed Moursi, Ikhwanul Muslimin yang memimpin demonstrasi menentang kudeta militer, menuntut investigasi yang independen. Mesir terpecah. Pada hari Minggu (18/8/2013) kemarin, 36 tahanan dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) dilaporkan tewas. "Sebanyak 36 tahanan meninggal dunia karena lemas setelah berdesak-desakan dengan tahanan lain dan gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan untuk menghentikan pelarian diri mereka," kata sumber dari Kementerian Dalam Negeri Mesir, Minggu (18/8/2013). Para tahanan ini diduga akan membuat kekacauan. Sementara itu, di luar penjara, sekelompok simpatisan berupaya membebaskan mereka. Penjara Abu Zaabal berhasil dibobol dan para narapidana di dalamnya sebagian besar melarikan diri. Banyak kabar simpang-siur perihal jumlah kematian para korban tahanan. Akan tetapi, Kementerian Dalam Negeri Mesir memastikan para tahanan tewas karena tercekik gas air mata.

Koresponden AFP, Senin (19/8/2013), mewartakan ratusan pengunjuk rasa berdemonstrasi di Kota Ismailiya, Terusan Suez. Dua polisi kemudian dilaporkan tewas dalam sebuah penembakan. Hal itu dibenarkan pula oleh Kementerian Dalam Negeri Mesir. (afp) 

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.270.187 Since: 05.03.13 | 0.1796 sec