Internasional

Pertemuan Uni Eropa

BRUSSELS-SBN.

Dunia internasional pun mengutuk aksi kekerasan yang merebak di Mesir. Para pemimpin Uni Eropa (UE) bahkan sudah memperingatkan akan meninjau kembali hubungannya dengan Kairo. Pembahasan soal ini akan dilakukan dalam sebuah pertemuan darurat di Brussels, Senin (19/8/2013). 

Kekerasan yang pecah pada Rabu (14/8/2013) lalu juga mendorong Uni Eropa (UE) untuk memikirkan ulang hubungannya dengan Mesir. Para pemimpin UE telah menyatakan pihaknya akan segera meninjau hubungan itu dalam pertemuan beberapa hari ke depan.

Sejumlah duta besar Eropa telah dipanggil dari istirahat musim panas untuk diminta hadir dalam pertemuan di Brussels.

Uni Eropa (disingkat UE) adalah organisasi antar-pemerintahan dan supra-nasional, yang beranggotakan negara-negara Eropa. Sejak 1 Juli 2013 telah memiliki 28 negara anggota. Persatuan ini didirikan atas nama tersebut di bawah Perjanjian Uni Eropa (yang lebih dikenal dengan Perjanjian Maastricht) pada tahun 1992.

Pada akhir November 2012, UE pernah berjanji akan memberikan dana bantuan sebesar hampir 5 miliar euro atau setara US$ 6,7 miliar kepada Mesir. Dana bantuan itu akan dikucurkan secara berkala. Tapi, niat bantuan tersebut masih akan ‘dikaji’ dan ‘ditinjau’ kembali menyusul peristiwa penggulingan terhadap Mohamed Moursi dan sejumlah aksi kekerasan yang terus merebak disana. Akan tetapi, sejumlah diplomat di UE membocorkan bahwa sejumlah anggota UE sudah menyarankan agar pemberian dana bantuan itu ditinjau kembali, tapi ada pula anggota UE yang khawatir penundaan pemberian dana bantuan itu malah akan membawa imbas buruk terhadap rakyat Mesir ketimbang terhadap Pemerintah Mesir itu sendiri.

Dalam pernyataan bersama, Pemimpin UE, Herman van Rompuy dan Jose Manuel Barroso, mengatakan UE akan dengan segera mengevaluasi hubungan diplomatiknya dengan Mesir dalam beberapa hari ke depan. Tak hanya itu, UE pun menyerukan agar aksi kekerasan di sana segera dihentikan. "Demokrasi harus segera ditegakkan dan kebebasan fundamental rakyat Mesir tidak boleh diabaikan, apalagi dikotori oleh pertumpahan darah," kata Herman van Rompuy dan Jose Manuel Barroso dalam pernyataan bersama.

Memburuknya kondisi Mesir telah mendesak ke-28 menteri luar negeri dari anggota Uni Eropa (UE) untuk segera melakukan rapat darurat pada Rabu (21/8/2013). Pembicaraan itu nantinya fokus pada evaluasi hubungan UE dengan Mesir dan dipimpin oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Cathrine Ashton.

Kepada Xinhua, Bernardino Leon, utusan UE untuk Mediterania Selatan, mengatakan UE, sejauh ini, tetap mendesak sebuah solusi politik untuk menyelesaikan krisis di Mesir dan memastikan bahwa "solusi politik" itu hal yang mungkin dilakukan.

Sebelumnya, dalam pernyataan bersama antara Presiden Komisi UE, Jose Manuel Barroso, dan European Council President, Herman Van Rompuy, UE akan tetap mengupayakan agar aksi kekerasan di Mesir segera dihentikan melalui dialog politik dan mengembalikan proses demokrasi.

Bernardino Leon menegaskan bahwa semua agenda yang dikhawatirkan negara anggota UE itu bakal dibawa ke rapat darurat Rabu (21/8/2013) nanti.

Presiden Prancis, Francois Hollande mengatakan setelah pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, “Sangat tidak bisa diterima bahwa telah terjadi kekerasan sebesar itu di negara besar seperti Mesir”.

Sampai Selasa (20/8/2013), situasi Mesir masih diliputi ketegangan. Sejak ‘pembantaian’ yang dilakukan aparat keamanan terhadap para simpatisan IM, Rabu (14/8/2013) sampai Selasa (20/8/2013), jumlah korban tewas tercatat 900 orang, 100 orang di antaranya adalah aparat kepolisian dan tentara.

Ancaman yang diterbitkan Uni Eropa tampaknya bukan sekadar gertak sambal. Pasalnya, Mesir saat ini benar-benar sudah dalam kondisi darurat. Pada hari Minggu kemarin (18/8/2013), 36 tahanan dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) dilaporkan tewas. 

Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan penundaan latihan gabungan dua tahunan dengan Mesir. Kedutaan Besar AS di Kairo juga ditutup pada Minggu (18/8/2013) untuk alasaan keamanan. Gedung Putih menunda bantuan tahunan US$ 1,3 miliar, sementara anggota Senat AS justru menuntut bantuan dipangkas.

Namun, tidak semua mengecam kekerasan di Mesir. Arab Saudi dan Yordania justru mendukung pemerintahan Mesir yang didukung militer dalam menumpas aksi demo Persaudaraan Muslim. Arab Saudi dan Yordania menyebut itu untuk memerangi terorisme. (xinhua/afp) 

See Also

Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
China Meminjamkan Sepasang Panda Ke Indonesia
Spanyol Buru Sopir Pelaku Teror Di Barcelona
Serangan Teror Di Barcelona
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.660.029 Since: 05.03.13 | 0.1749 sec