Internasional

Raja Thailand Serukan Persatuan Dalam Pidato Tahun Baru

Sunday, 01 Januari 2017 | View : 434

BANGKOK-SBN.

Raja Thailand Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun (64) menyerukan persatuan dalam pidato Tahun Baru pertamanya sejak menjadi raja negeri itu menggantikan ayahnya, Bhumibol Adulyadej (1927-2016) yang dianggap sebagai kekuatan pemersatu dalam dekade-dekade bergolak.
Pidato yang telah direkam sebelumnya itu merupakan kali kedua dia berbicara kepada publik sejak dinobatkan menjadi raja pada 1 Desember, setelah kematian ayahnya, Raja Bhumibol Adulyadej.
Raja baru yang menghabiskan sebagian besar masa dewasa di luar negeri itu belum menikmati kepopuleran yang dirasakan sang ayah.
"Apa pun masalah yang mungkin kita hadapi di negara kita, kita yakin bahwa jika kita bekerja bersama kita bisa mengatasi dan meredakan situasi apa pun," katanya dalam pidato yang disiarkan pada Sabtu (31/12/2016) malam.
Dia berterima kasih kepada publik karena telah menunjukkan kesetiaan kepada ayahnya, yang telah berkuasa selama tujuh dekade.
Pertunjukan kembang api Tahun Baru yang biasa digelar di Bangkok tahun ini dibatalkan demi menghormati masa perkabungan untuk sang raja.
Raja baru Thaiand pada Jumat (2/12/2016) untuk pertama kalinya tampil di muka umum sejak naik tahta pada hari sebelumnya, mengakhiri masa ketidakpastian sejak kematian ayahnya, Raja Bhumibol Adulyadej, pada 13 Oktober.
Raja Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun (64) ambil bagian dalam upacara di Grand Palace Bangkok untuk memperingati 50 hari mangkatnya Raja Bhumibol Adulyadej yang membuat negara itu berduka.
Para pegawai negeri sipil berpakaian hitam putih, warna resmi perkabungan, berbaris di jalan-jalan menuju istana ketika rombongan raja baru melintas.
Raja Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun, yang sebelumnya merupakan putra mahkota, sedikit terkejut ketika dia diminta menunda penggantian menyusul kematian ayahnya, menyebabkan kekosongan tahta selama tujuh pekan.
Naik tahtanya Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun, yang berlangsung dalam upacara singkat yang disiarkan televisi pada Kamis (1/12/2016) malam, mengakhiri masa peralihan pemerintahan yang belum pernah terjadi sebelumnya serta memunculkan pertanyaan baru tentang hubungan istana dengan para jenderal yang berkuasa sejak kudeta 2014.
Pemerintahan militer telah memperjelas keinginan mereka untuk mengawasi perkembangan ekonomi dan politik untuk tahun-tahun mendatang, bahkan setelah pemilihan umum yang dijanjikan digelar 2017 mendatang.
Para kritikus mengatakan konstitusi yang didukung militer, yang akan membutuhkan stempel raja baru untuk persetujuannya, akan memperkuat kekuatan tentara, namun analis keuangan optimistis atas prospek negara tersebut.
"Lupakan tentang intrik permainan tahta. Dengan wewenang konstitusi baru dan suksesi kerajaan di belakangnya, syarat-syarat untuk stabilitas kelembagaan berada di tempatnya," kata Tim Condon, Kepala Ekonom ING untuk Asia di Singapura dalam satu catatan.
"Kami menyesali ketidakhadirannya sejak 2013 selama kinerja ekonomi muram dan kami rasa ini mengembalikan titik balik yang penting," ujarnya.
Kekuatan ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara itu telah menderita lebih dari satu dekade akibat gejolak politik yang muncul dari konfrontasi antara kelompok pendukung raja lama dan kekuatan politik populis baru.
Militer menggulingkan pemerintahan terpilih pada 2014 di negeri yang selama satu dekade lebih dilanda konflik antara pendukung raja yang didukung militer dan kekuatan politik populis itu menurut warta kantor berita Reuters.
Sejak mengambil alih kekuasaan pada 2014, pemerintahan junta berjuang menghidupkan kembali ekonomi yang tertatih akibat lemahnya ekspor dan kendurnya permintaan domestik.
"Thailand tetap rapuh secara politik dan tetap harus dilihat bagaimana raja baru akan melayari perairan yang tidak menentu," kata diplomat senior negara barat yang berbasis di Bangkok yang menolak untuk diidentifikasi karena masalah sensitif ini kepada Reuters.
Thailand adalah monarki konstitusional namun istana adalah salah satu institusi paling berpengaruh di sana.
Di jalan sekitar Grand Palace, toko-toko pada Jumat (2/12/2016) memajang potret berbingkai emas raja baru Thailand di samping gambar ayahnya.
Kritikan terhadap kerajaan, wali kerajaan atau ahli waris yang dikenal dalam istilah Prancis sebagai "lese majeste", merupakan tindakan kejahatan yang bisa dikenakan hukuman penjara hingga 15 tahun di Thailand.
Dalam beberapa pekan mendatang, Raja Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun akan mengesahkan konstitusi yang disusun oleh pemerintahan militer guna memulai proses pemulihan demokrasi. (reuters)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.178.427 Since: 05.03.13 | 0.2136 sec