Opini

Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Friday, 09 Desember 2016 | View : 151

SBN.

Penghargaan setinggi-tingginya saya sampaikan untuk Universitas Diponegoro (Undip) yang memberi gelar Honoris Causa (doktor kehormatan) ke Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti pada tanggal 3 Desember 2016.

Ketua Senat Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Dr. Ir. Sunarso, M.S. menyatakan bahwa pemberian gelar ke Susi Pudjiastuti Sudah melalui prosedur yang panjang dan sesuai aturan. Susi Pudjiastuti menguasai bidang ilmu kelautan dan perikanan dan ia telah mendapatkan pengakuan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dengan nilai 9 atau setara dengan gelar doktor.

Rektor Undip Prof Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum. menyatakan bahwa pemberian gelar ini sudah dikaji para guru besar dan berbagai disiplin ilmu dan secara akademik metode yang dilakukan Susi Pudjiastuti sangat runtut, rasional dan tepat. Apa yang dilakukan Susi terasa dampak positifnya untuk negara dan bangsa terkait dengan ilegal fishing. Sekalipun Susi Pudjiastuti secara formal hanya mengantongi ijazah SMP namun apa yang dilakukan Susi Pudjiastuti setelah melalui verifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) setara doktor. Penghargaan ini diberikan bukan karena alasan politis karena Susi Pudjiastuti menjabat sebagai Menteri.

Luar biasa. Universitas Undip telah bertindak revolusioner dengan memberi gelar keahlian akademik tidak hanya melalui jalur akademik tetapi melalui prestasi seseorang di masyarakat. Selama ini kita belum mengevaluasi urusan atau konsep KEAHLIAN AKADEMIK DAN PROFESIONALISME.

Menurut Frank Parkin kapatalisme modern melalui kaum borjuasi membentuk dan mempertahankan dirinya sebagai suatu kelas melalui 2 mekanisme yakni pertama berkaitan dengan lembaga pemilikan dan kedua berkaitan dengan keahlian akademis atau profesionalisme.

Kebanyakan dari kita paham soal lembaga kepemilikan dan ribut terus saja di isu ini. Namun kita belum pernah mempersoalkan bagaimana keahlian akademis atau profesionalisme ini dirumuskan. Subordinasi terhadap kelompok tertentu terjadi melalui mekanisme ini. Lalu penutupan sosial terjadi melalui pengucilan.

Transformasi sosial di Indonesia terjadi melalui mengejar kepemilikan dan status keahlian akademis atau profesionalisme. Sayang ruang yang namanya profesionalisme dan keahlian akademis diberikan ke orang-orang penyandang gelar akademis dan lembaga profesi yang berakreditasi. Pengakuan formal ini yang dihitung sekalipun banyak dari mereka tidak terbukti memiliki keahlian praktis bidang ilmu yang diklaim sebagai keahlian akademis. Sebagai contoh banyak insinyur bahkan doktor pertanian tetapi tidak becus menanam dengan kualitas terbaik dengan produktifitas yang tinggi. Banyak para profesional yang tidak memiliki akar praktis di lapangan.

Melalui mekanisme profesionalisme atau keahlian akademis inilah terjadi eksploitasi. Mekanisme untuk disebut profesional atau ahli ini adalah sebuah pasar empuk. Karena itu banyak orang merekayasa mekanisme untuk disebut profesional atau ahli. Amerika ahli sekali dalam memberi pengakuan profesi melalui jalur pintas dan Indonesia adalah pasar empuk. Siapa ikut mekanisme ini melalui usaha pintas maka ia ditentukan sebagai profesional atau ahli. Dunia profesional seolah-olah, sekarang sedang berproses. Wacananya begitu berisik dan trendnya begitu mudah berubah.

Penghargaan ke Susi Pudjiastuti adalah sebuah harapan yang mendobrak definisi keahlian akademik. Ruang memberi penghargaan pada siapa saja yang pekerjaannya berdampak besar pada hidup banyak orang dan dilakukan dengan metode dan langkah-langkah yang jelas dibuka selebar-lebarnya. Lebih baik lagi kalau dilakukan secara struktural seperti memandang petani sebagai stakeholder penting dalam bidang pertanian. Karena itu kalau mau mengadakan swasembada pangan atau membuat policy tentang pertanian maka ajaklah mereka untuk berunding. Yang terjadi saat ini adalah pemerintah mengobyekkan petani baik petani miskin maupun petani kaya. Petani bukan golongan profesional. Sedang yang disebut profesional juga tidak becus menanam. Gap ini harus segera kita dobrak. Saatnya kita konsentrasi pada memberi nilai dan harga pada orang-orang mampu mencapai sukses nyata yang berdampak pada hidup banyak orang. (esh)

See Also

Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Autis Dan UN Habitat
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Sjahrir Dan Kisah Cintanya
Cinta Oksitosin Dan Cinta Komitmen
Nasehat Bagi Yang Memutuskan Mempertahankan Pernikahan
Berjudi Mempertaruhkan Kebahagiaan Hidup
Mati Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik
Jadilah Pemenang
Perempuan Jangan Tanggung Meraih Prestasi: Dobraklah
jQuery Slider
Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.954.078 Since: 05.03.13 | 0.2498 sec