Redaksi

PDIP: Ahok Dan Djarot

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Tuesday, 20 September 2016 | View : 266

SBN.

Selasa malam ini pada tanggal 20 September 2016 di TV One dan Kompas TV menyiarkan pengumuman calon Gubernur dan wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Sudah bisa ditebak siapa yang dipilih oleh Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Gestur Ibu Megawati Soekarnoputri bisa dibaca sekalipun dia tidak banyak bicara.

Menurut teman PDIP yang melakukan studi keliling Indonesia menghasilkan kesimpulan bahwa Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. yang akrab disapa "Ahok" disukai banyak orang di Indonesia.

Nilai Ahok begitu tinggi namun Ahok bukan tanpa kelemahan. Kelemahan yang sering dibahas adalah soal komunikasi publiknya yang dinilai kurang sopan. Nampaknya dalam hal sopan santun dalam komunikasi politik ada pemberitaan yang tidak seimbang.

Wali Kota Surabaya, Dr. (H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T. atau yang akrab disapa Risma juga suka ngamuk-ngamuk dan mengeluarkan kata-kata kasar. Namun dia tidak mendapat label sebagai perempuan yang tidak sopan. Memang mungkin frekwensi lebih banyak Ahok yang emosional dan Ahok memang suka berkelahi face to face ke penentangnya.

Juga Ahok dikritik soal sikap dan perilaku dia dalam menghadapi masyarakat miskin kota Jakarta. Pendekatan top down yang dia lakukan nampaknya mengganggu orang-orang yang pro kelompok marginal. Pengkritik mengharapkan Ahok melakukan pendekatan yang partisipatif. Ini berarti Ahok butuh staf ahli dan konsultan dari latar belakang antropologi dan psikologi. Perlu ada gerakan pro kelompok marginal yang jelas sehingga bisa diadopsi oleh para pemimpin yang ada. Saya ikut gerakan ini.

Kelemahan fenomenal sebagai Kristen dan orang etnis China sudah tentu yang paling menggangu orang-orang yang selama ini menabukan kelompok minoritas menjadi pemimpin.

Saya sungguh terkesan dengan suasana pengumuman 7 candidat Gubernur termasuk Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. (Ahok) dan Drs. H. Djarot Saiful Hidayat, M.S. yang diadakan PDIP di TV One. Pengumuman para calon kepala daerah digelar di DPP PDIP, Jl. Pangeran Diponegoro No.58, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/9/2016). Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang mengumumkan. Dalam pengumuman malam ini, PDIP mengumumkan 6 calon Gubernur dan 1 calon Bupati.

Berikut daftar 7 calon Kepala Daerah:

1. Papua Barat: Dominggus Mandacan - Muhammad Lakotani

2. Aceh: Irwandi Yusuf - Nova Iriansyah

3. Gorontalo: Hana Hasanah Fadel Muhammad - Tonny S Junus

4. Sulawesi Barat: Muhammad Ali Baal Masdar - Eny Anggraeni Anwar

5. Banten: Rano Karno

6. DKI Jakarta: Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat

7. Calon Bupati Kulon Progo: Hasto Wardoyo  

Konflik begitu tajam antara Ahok dengan PDIP ketika Ahok memilih jalur independen, tadi cair begitu saja. Kuncinya pada tunduknya para pemimpin PDIP ke otoritas Megawati Soekarnoputri. Sepertinya kita memerlukan figur-figur yang memiliki otoritas begitu besar ke masyarakat. Demokrasi Indonesia yang bermuara pada munculnya begitu banyak warna bisa membuat kegaduhan yang pada akhirnya bisa merusak tujuan yang hendak dicapai. Hal ini terjadi karena kita masih lemah dimensi penegakan hukum.

Semoga ada dialektika yang semuanya setia pada kebenaran. Ruang kritik mari kita rawat dan pertahankan namun tidak perlu sampai mengganggu pekerjaan para pemimpin pelaksana. Orde baru (Orba) yang kemudian diteruskan orde reformasi memang tidak pro wong cilik. Bahkan menurut saya tidak pro pada warganegara secara keseluruhan. Pro manusia Indonesia itulah yang utama. Manusialah yang menggerakkan teknologi, modal dan yang lain-lain.

Harapan saya dimensi kesehatan dan pendidikan di tingkat Nasional maupun Provinsi dan Kabupaten dan Kota diperhatikan serius oleh pemimpin dan pengambil kebijakan yang ada. Tempatkan orang-orang yang kompeten di bidang managemen, substantif dan kepemimpinan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan kesehatan secara mendasar. Wacana revolusi mental telah digulirkan hanya sayang pelaksanaannya masih mencari-cari bentuk. Semoga segera bisa didapatkan bentuk yang praktis yang menjangkau semua anak. (esh)

See Also

Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.165.826 Since: 05.03.13 | 0.1672 sec