Redaksi

Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Friday, 16 September 2016 | View : 289

SBN.

Apa yang menimpa Prof. G jauh lebih sadis dari pengalamanku. Dulu aku mengurus kewarganegaraan sendiri karena aku memang ingin menjadi Orang Indonesia. Saat itu aku adalah perempuan rapuh dalam diri anak muda.

Aku harus bertemu dengan orang-orang yang mewawancaraiku untuk bisa diloloskan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Pertanyaan tentang hubunganku dengan Arief Budiman, Ph.D. ditanyakan sebagai nada pengkhianatan jika aku lakukan. Saat itu aku mengidola anak seorang wartawan yang bernama Soe Lie Piet dan suami Leila Chairani Budiman tersebut, Arief Budiman, Ph.D. dan tiba-tiba sadar kalau Profesor di Universitas Melbourne, Australia, Arief Budiman, Ph.D. (Soe Hok Djin), yang juga adalah kakak Soe Hok Gie itu, musuh pemerintah.

Sebagai aktivis mahasiswa untuk pertama kalinya aku mengalami perasaan ngeri berhadapan dengan kekuasaan. Namun aku sudah terlanjur masuk jauh ke dalam dunia yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Memang jiwaku ada di sana.

Perempuan muda rapuh kemudian berjalan tertatih-tatih untuk mendapatkan haknya sebagai manusia warganegara Indonesia yang baik. Sungguh aku heran karena aku bisa selamat dengan jiwa yang tidak terluka. Padahal aku telah mengalami penganiayaan jiwa yang luar biasa dan terus menerus. Puji Tuhan. Dialah yang jadi tamengku sehingga aku selamat dan sehat lahir batin.

Pemberian kewarganegaraan (bukan “pengukuhan”, beda tipis tapi telak) oleh pemerintah kepada Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D. mengingatkan saya kepada seorang profesor. Kita sebut saja dia dengan Profesor G. Semua nama dalam tulisan ini tidak ditulis karena saya belum meminta izin menceritakan kisah ini. Menurut saya, kisah ini penting diceritakan sebagai refleksi, sebagai cerminan kita memperlakukan orang.

Bidang Prof G adalah antropologi ragawi. Berasal dari salah satu negara di Eropa, puluhan tahun tinggal di Indonesia, sudah sepuh tapi masih sering diminta menguji tesis para calon doktor di perguruan tinggi- perguruan tinggi di Surabaya. Untuk berjalan, Prof G kini sudah harus dibantu tongkat dan seseorang yang menjaganya. Saya tidak pernah diajar, tapi mengenalnya ketika kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Saya mahasiswa sosiologi, Prof G mengajar antropologi. Di lingkungan katolik, dia dipanggil “Frater”.

Saya mengunjungi Prof G sekitar empat tahun lalu, ketika masih dalam proses kemoterapi untuk pengobatan kanker payudara. Seorang teman, wartawan media elektronik di Jakarta, alumni fakultas sebelah, mengajak saya menemui beliau untuk mendeteksi apakah saya duduk atau tidur di atas persilangan garis air di bawah tanah. Prof G bisa mendeteksinya dengan pendulum.

Duduk atau tidur di atas persilangan air di bawah tanah itu akan membuat orang sakit kepala, atau sulit hamil. Beruntung, saya aman dari persilangan air yang bisa membuat pengobatan berjalan lebih lambat.

Di kampungnya, kata Prof G, sapi-sapi yang kandangnya berada di atas persilangan air, tidak akan bisa beranak. Pengetahuan ini masih diingatnya meski tidak pernah lagi pulang kampung belakangan ini. “Bayangkan, saya harus naik pesawat dua puluh jam,” ujarnya waktu itu. Apalagi sekarang, usianya sudah lebih banyak lagi.

Sebagai orang lanjut usia, kekhawatiran terbesarnya adalah meninggal di Indonesia sebagai orang asing. Ia sudah melakukan sesuatu untuk mencegah kekhawatirannya terjadi, sudah berusaha mengurus pindah kewarganegaraan menjadi WNI. Tapi sangat sulit. Sehingga, meski sudah puluhan tahun tinggal di Indonesia, Prof G belum juga WNI. “Kurang apa saya? Saya sudah mendidik ribuan dokter, antropolog, dan ribuan pastor,” ujarnya.

Mak jleb!  Mendengarnya, saya jadi mellow dan pengen nangis. Kurang apa sampai begitu sulit? Kalau dibandingkan dengan para pemain bola yang dinasionalisasi dengan mudah itu, apa kurangnya? Kok petugas masih tega mempermainkan? Mbok kalau mau mempermainkan orang itu lihat-lihatlah. Saya menggerutu di dalam hati. Dalam hati saya berjanji, kalau kemoterapi selesai dan saya pulih, saya mau membantunya mengurus kewarganegaraan.

Masalah ini pernah dibicarakan di grup BBM alumni FISIP UNAIR. Saya dan seorang senior, sepakat akan mengurusnya dengan meminta bantuan salah seorang dosen kami yang menjadi juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pak D sudah bersedia membantu. “Adalah kehormatan bagi saya (membantu beliau).” Begitu Pak D menyatakan komitmennya melalui pesan pendeknya kepada saya.

Saya lega Pak D bersedia membantu. Percakapan para alumni di grup terus berlanjut. Nadanya kecewa dan rada murung karena begitu sulit untuk menjadi WNI meski telah banyak yang dilakukan Profesor G di Indonesia. Sebelum mengajar di Universitas Airlangga, Prof G pernah mengajar di Universitas Indonesia.

Hingga suatu hari, seorang alumni meminta pembicaraan mengenai Prof G dan urusan kewarganegaraan dihentikan. “Beliau sudah tidak berminat mengurus kewarganegaraan.” Saya tercekat. Sedih dan mellow saya kumat. Benarkah Prof G sudah tidak khawatir meninggal sebagai orang asing?

Saya tidak percaya. Tidak mungkin kekhawatiran Prof G lenyap begitu saja, tiba-tiba. Kekhawatiran akan meninggal sebagai orang asing, bukan kekhawatiran biasa yang bisa dirasakan semua orang. Kekhawatiran ini sangat berbeda dengan orang yang khawatir tidak kebagian barang yang diinginkan. Kekhawatiran Prof G berasal dari perasaan yang sangat dalam. Tentang merasa diri sebagai orang asing di negeri yang ditinggalinya puluhan tahun, dan di usia senja, ketika maut datang tak lama lagi.

Tapi, apa boleh buat. Kalau Prof G tidak ingin lagi jadi WNI, apalagi alasan kami melanjutkan urusan kewarganegaraan ini? Kami tidak mungkin memaksa.  Apalah hak kami memaksa meneruskan urusan jika Prof G tidak lagi menghendaki. Urusan dihentikan. Saya memberitahu Pak D  yang juga sedih mendengar kabar ini.

Hari-hari ini, ingatan tentang kewarganegaraan Prof G kembali muncul ketika pemerintah dan legislator sepakat memberikan kewarganegaraan kembali dengan mudah dan cara istimewa kepada Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D.

Saya mencium tangan Prof G seusai mengikuti upacara pengukuhan seorang profesor antropologi ragawi hasil didikannnya, dua pekan lalu.  Ucapannya terngiang-ngiang, “Kurang apa saya? Saya sudah mendidik ribuan dokter, antropolog, dan ribuan pastor. (esh/berandaendri)

See Also

Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
Kolaborasi Masyarakat Sipil Dengan Kota Surabaya Untuk Anak
Pernikahan Anak Sartiah Yusran Di Kendari Dan Menulis Tentang Suami Yang Luar Biasa
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.114.024 Since: 05.03.13 | 0.1603 sec