Redaksi

Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Thursday, 04 Agustus 2016 | View : 285

SBN.

Aku berada di kota Semarang, Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Pikiranku seperti berobsesi dengan materi yang sedang aku tulis. Yang lain mikirnya jadi kedodoran. Rabu (3/8/2016) kemarin aku dari Jalan M.T. Haryono ke Jalan Imam Bonjol naik taksi. Memakan waktu sekitar 40 menit.

Pulangnya aku tidak segera mencari taksi. Berjalan lalu melihat 2 becak. Spontan aku tanya bisa tidak antar ke Jalan MT Haryono. Mereka jawab bisa. Hatiku memberitahu tidak bisa. Namun aku lebih percaya omongan tukang becak. Salah satu becak meminta Rp 50 ribu (lima puluh ribu) dan tidak aku tawar. Aku suka merasakan soul kota yang aku singgahi. Melihat pasar tradisional, tukang becak dan bagaimana mereka berkomunikasi. Itu maksudku naik becak di malam hari.

Si tukang becak antar aku dan berhenti di 2 tempat untuk beli lumpia dan makan malam. Di suatu tempat tukang becak berhenti dan bertanya tempat yang hendak aku tuju di gerombolan laki-laki yang ada di deretan ruko. Salah satu dari mereka mendatangiku dan berkata: “Mbak kasihan tukang becak ini, masih jauh. Lebih baik mbak naik angkutan umum untuk ke sana”. Aku baru memperhatikan si tukang becak. Memang terlihat kecapaian tetapi wajahnya tersenyum. Saya ucapkan terima kasih lalu saya meminta tukang becak berhenti di taksi di depan. Salah satu laki-laki dari gerombolan itu mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.

Aku merasa malu dan aku tegur si tukang becak: “Tadi sampean ngomong kalau sanggup”. Dia tersenyum dengan kerentaannya. Lalu aku naik taksi ketika turun aku membahas dengan sopir dan laki-laki yang akan masuk ke taksi. Mereka tersenyum dan mengatakan bahwa kalau sampai di situ maka si tukang becak akan semaput atau pingsan.

Aku suka senyum orang-orang itu. Solidaritas semacam itu aku dapatkan ketika puasa. Di tengah mereka bekerja ada sesuatu kebersamaan yang tak terucap. Aku harus belajar kembali mendengarkan suara hati. Meskipun sebagai perempuan yang terkenal payah dalam soal peta namun ada logika yang telah menuntun hati. Sayang aku tidak mendengarnya. Namun tujuan saya menangkap soul sebuah kota tercapai sebagian.

Foto saya ambil di google dari Avent Saur. (esh)

See Also

Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
Kolaborasi Masyarakat Sipil Dengan Kota Surabaya Untuk Anak
Pernikahan Anak Sartiah Yusran Di Kendari Dan Menulis Tentang Suami Yang Luar Biasa
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.113.736 Since: 05.03.13 | 0.1969 sec