Agama & Masyarakat

Rais Syuriah PB NU KH Mas Subadar Wafat

Sunday, 31 Juli 2016 | View : 736
Tags : Nu

SURABAYA-SBN.

Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un, kabar duka bagi warga Nahdlatul Ulama (NU).

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), K.H. Muhammad Subadar atau biasa disapa K.H. Mas Subadar (74 tahun), yang juga pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotul Ulum, Desa Besuk, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur (Jatim), telah berpulang di rumahnya pada sekitar pukul 19.43 WIB Sabtu (30/7/2016) malam, setelah sakit di bagian perut dalam beberapa hari.

Kabar tersebut langsung tersebar di ragam media sosial Nahdliyin. Termasuk di grup-grup WhatsApp. Ketika dikonfirmasi kepada pengurus Lembaga Bantsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Mahbub Ma’afi di Jakarta, ia membenarkan wafatnya Kyai tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Desa Besuk, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur (Jatim) itu meninggal di kediamannya usai menjalani perawatan di Rumah Sakit Darmo, Jl. Raya Darmo No.90, Darmo, Wonokromo, Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Sebelum meninggal, K.H. Mas Subadar sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Darmo Surabaya, Jl. Raya Darmo No.90, Darmo, Wonokromo, Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Jatim) sejak 13 Juli lalu. Namun kondisi Kyai kelahiran 1942 itu tidak kunjung membaik. Namun begitu, almarhum meminta pulang.

"Beliau sudah dirawat di RS Darmo, Surabaya, sejak 13 Juli, lalu beliau minta pulang, karena gangguan perutnya tidak membaik," ungkap Ketua PC NU Kabupaten Pasuruan, K.H. Imron Mutamakkin, dari Pasuruan, Provinsi Jawa Timur (Jatim), Minggu (31/7/2016).

Tadi siang, ia dibawa pulang dan sampai di kediamannya setelah Maghrib. Tidak lama kemudian almarhum menghembuskan nafas terakhirnya.

"Beliau memang kader NU tulen, karena beliau memulai aktivitas berorganisasi dari IPNU Pasuruan pada tahun 1967, lalu ke PCNU Pasuruan dan akhirnya ke PWNU Jatim dan kini menjadi salah seorang Rais Syuriah PB NU, karena itu almarhum paham betul cara-cara organisatoris," paparnya.

K.H. Imron Mutamakkin yang masih keponakan almarhum itu, menjelaskan warisan penting dari almarhum adalah pertimbangan syar'i (agama) harus menjadi rujukan utama dalam berorganisasi.

"Almarhum tidak mempersoalkan perbedaan pendapat dalam berorganisasi, bahkan saya juga beberapa kali berbeda pendapat dengan beliau dalam rapat sampai rekan-rekan pengurus mengingatkan saya, tapi beliau justru mengajarkan hal penting dalam berdemokrasi," terangnya.

Bagi almarhum, perbedaan dalam strategi adalah hal biasa, tapi setiap masalah harus dicarikan rujukan agama-nya.

"Kalau memang tidak ada dalam agama, maka hal itu bukan menjadi ukuran. Jadi, ukuran utama adalah agama, baru kalau tidak ada, maka kembali kepada strategi organisasi," tutur dia lagi.

K.H. Mas Subadar sangat dikenal di kalangan jam’iyyah umat Islam terbesar di Indonesia ini. Ia sering mengemban tugas-tugas khusus di organisasi tersebut. Di forum Kyai, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Desa Besuk, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur (Jatim) sering ditunjuk sebagai juru bicara. Sikapnya yang teguh dan senantiasa berpegang teguh pada koridor kajian fiqh klasik itulah yang menyebabkan sering dilibatkan dalam bahstul masa’il  yang diselenggarakan NU.

Tutur katanya juga halus, argumentatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakat yang dihadapi. Ini membuat masyarakat di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur sering mendatangi pengajian yang diisinya. Mereka tertegun menyimak ceramah dan orasinya.

Almarhum lahir pada 1942 di sebuah Desa yakni Desa Besuk, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan dari pasangan K.H. Subadar dan Hj. Maimunah. Pada usia 3 bulan (1942), almarhum telah yatim piatu karena ditinggal wafat sang ayahanda, K.H. Subadar. Sehingga almarhum banyak belajar mandiri dengan diasuh oleh ibundanya yakni Hj. Maimunah.

Sampai saat ini, sejumlah pelayat mulai berdatangan ke kediaman almarhum di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Desa Besuk, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Rencananya, almarhum akan dikebumikan besok, Minggu (31/7/2016) pukul 13.00 WIB di pemakaman keluarga yang ada di komplek Pondok Pesantren (Ponpes). (ant/nu/jos)

 

See Also

Lepas Santri Ke Luar Negeri Di Momentum Hari Santri
Pesan K. H. Aniq Muhammadun Dalam Halalbihalal UMK
Forkopimda Kabupaten Demak Gelar Halal Bi Halal
Mahasiswa UMK Kembangkan Kap Lampu Bertema Kebangsaan Dan Pluralisme
Danpos-Babinkamtibmas Kebonagung Bersinergi Amankan Perayaan Kebaktian
Dandim 0716/Demak Tarling Perdana Bersama Bupati
Kodim 0716/Demak Dan GP Ansor Milik Warga Demak
Tangkal Radikalisme, Babinsa Bangun Komunikasi Dengan GP Ansor
Menangkal Gerakan Radikal Teroris Kaum Perempuan: Belajar Dari Sunan Kudus
Kepedulian Babinsa Kodim 0716/Demak Terhadap Tokoh Agama
Ngalap Berkah, Dandim 0716/Demak Ruwahan Dan Kirab Budaya
Bersama Bupati, Dandim 0716/Demak Buka Acara Tradisi Megengan Guna Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Kasdim 0716/Demak Hadiri Musyawarah Tamir Masjid Agung Demak
Danramil 03/Wonosalam Komsos Dengan Toga, Tomas, Dan Toda
Nuansa Religius Warnai HUT Kabupaten Demak Yang Ke-515
Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
UGM Tolak Usul Penerimaan Mahasiswa Lewat Kemampuan Baca Kitab Suci
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
Anton Ferdian Rilis Kisahku
Marie Muhammad Berpulang
K.H. Sofiyan Hadi Sebut Setiap Anak Itu Spesial
Istri Bung Tomo Wafat
Tradisi Grebeg Besar
jQuery Slider

Comments

Arsip :201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.969.614 Since: 05.03.13 | 0.2203 sec