Redaksi

Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Sunday, 31 Juli 2016 | View : 447

SBN.

Sabtu (30/7/2016) kemarin, aku mengikuti Pak Budi Dharmawan menghadiri undangan Gubernur Provinsi Jawa Tengah (Jateng), H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. di Tlogo Resort dan Goa Rong View di Jl. Raya Tuntang-Beringin Km.2, Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Salatiga, Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Undangan hanya terbatas 20 orang penting seperti Bupati Semarang dan mantan Gubernur Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah hendak mengembangkan pariwisata di daerah Tlogo Wening (Tlogo Bawen dan Danau Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah). Karena itu mereka meminta masukan orang-orang hebat ini. Kawasan ini akan dikembangkan dengan serius.

Saya pergi sendiri dengan taksi. Ini bagian dari pekerjaan menulis memoar Pak Budi Dharmawan. Melihat bagaian beliau di tengah orang lain. Tidak menduga kalau pertemuan di luar kota Semarang sehingga perhitungan waktu saya sedikit meleset. Terlambat 5 menit.

Dalam keadaan sedikit tegang, saya masuk rumah tua di Tlogo Resort. Di tangga pintu masuk saya melihat Myra Diarsi, S.Psi., M.A. duduk di tangga lagi telepon. Kami berdua kaget karena tidak menyangka bertemu di sana. Saking kagetnya, dia saya panggil Maria (he he he). Maklum tidak ketemu hampir kurang lebih 16 tahun. Mantan Komisioner Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Myra Diarsi adalah aktivis perempuan generasi pertama dan pendiri Kalyanamitra, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pembela perempuan.

Dia jadi staf ahli Gubernur bersama Pak Warsito. Saya gembira melihat dia memainkan peran penting dalam membangun masyarakat dan bangsa. Karena itu saya minta penjelasan langsung kasus yang pernah menyandungnya. Dia menceriterakan dengan masih tersisa luka hatinya. Rasanya saya ingin merangkul dan menghiburnya. Rasanya ngerti banget perasaannya.

Ini yang penting. Lalu saya bertanya proses pembelajaran apa yang dia dapatkan selama ini? Dia tidak lagi berangkat dari perspektif Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) semata. Pada awalnya dia melihat pemerintah sebagai pihak yang harus dikritisi dan dilawan kalau berbuat salah. Ketika dia masuk Komnas Perempuan, dia belajar bahwa banyak orang di pemerintah yang baik. Karena dia dia menjadi pendamping orang pemerintah yang baik untuk melakukan perubahan. Semangat ini tetap dipegang hanya dia tidak lagi bertitik tolak dari semangat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sekarang dia bekerja untuk pemerintah yang dia pilih dan dukung. Apa saja baju yang dipakai tidaklah penting. Yang penting bisa tetap berkarya untuk diri, masyarakat dan bangsa. (esh)

See Also

Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
Kolaborasi Masyarakat Sipil Dengan Kota Surabaya Untuk Anak
Pernikahan Anak Sartiah Yusran Di Kendari Dan Menulis Tentang Suami Yang Luar Biasa
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.113.837 Since: 05.03.13 | 0.1933 sec