Opini

Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Thursday, 28 Juli 2016 | View : 195

SBN.

Rabu (27/7/2016) kemarin dan hari ini, Kamis (28/7/2016) saya asyik menulis terus. Dengan pantat yang “memanas” tiba-tiba muncul insight tentang diri saya kemarin. Sejak remaja saya tahu persis tentang pentingnya mengenali diri sendiri. Agama, filsafat dan psikologi semua mengajari tentang pentingnya mengenali diri sendiri jika ingin hidup selamat dan bahagia di dunia dan barangkali di akhirat juga (soalnya belum ada yang bersaksi dari dunia setelah kematian).

Urusan ini telah saya cari dan pelajari dari SMA hingga sekarang. Ternyata urusan mengenali diri itu pertama tidak terjadi hanya sekali dalam hidup lalu selesai. Sepanjang hidup kita harus terus menerus mengenali diri dan orang lain (terutama yang dekat dengan kita). Manusia berubah terus. Perubahannya bisa ekstrim. Karena itu kita tidak bisa pakai ukuran tahun lalu untuk menyatakan hari ini. 
Kedua ternyata manusia begitu kompleks. Manusia multi dimensi. Karena itu pengenalan diri harus meliputi semua dimensi. Kelemahan psikologi hanya mengenali dimensi kepribadian. Dimensi spiritual seringkali diabaikan. Padahal ini yang paling penting. Kalau kita mau mengenali orang minimal yang harus kita kenali adalah aspek fisik, psikis, sosial dan spiritualitas. Kalau mau persis maka dimensinya lebih banyak. Hati-hati kita jangan campuradukkan dimensi psikis dengan spiritualitas.

Kebetulan saya menjalani hidup yang unik karena hobi atau bawaan saya adalah mencari terus. Teman-teman sibuk dengan urusan remaja dan asyik dengan urusan asmara, saya malah asyik belajar filsafat ketika SMA. Tidak tanggung-tanggung saya menyukai eksistensialisme. Bacaan yang maha berat untuk ukuran anak SMA pada waktu itu. Buku eksistensialisme yang saya baca, punya magnet yang begitu besar. Sebetulnya mengerti sekali juga tidak. Namun ide-ide intinya menjadi pertanyaan yang terus saya cari kebenarannya. Karena itu saya dianggap aneh oleh terutama guru-guru.

Kata-kata guru yang menilai saya aneh membuat saya bertanya:”Benarkah saya aneh?”. Untuk menjawab pertanyaan inilah saya masuk jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana. Jadi sama sekali tidak ada motif karier. Padahal karier adalah urusan yang maha penting untuk manusia baik laki maupun perempuan. Bagi saya pekerjaan adalah bagian dari hidup manusia yang harus dihormati dan dikerjakan terus menerus. Jawaban langsung saya dapatkan bahwa saya normal, tidak gila setelah selesai kuliah. Sebenarnya jawaban itu sudah saya dapatkan di filsafat eksistensialisme yakni saya berhasrat menjadi manusia yang outentik. Namun untuk lebih menyakinkan begitu banyak mata pelajaran yang menjelaskan manusia yang saya pelajari lebih menyakinkan lagi.

Ternyata masalah saya belum selesai. Setelah itu saya tetap menghadapi masalah stigma dari orang lain dari banyak periode hidup. Stigma terfavorit adalah impulsif. Spontanitas saya yang sebenarnya jujur dan segar dilihat sebagai “gangguan” banyak orang. Hampir sepanjang hidup saya memang mudah bersikap dan berperilaku spontan. Spontan menyatakan kebenaran intuitif (yang baru-haru ini saja saya ketahui). Ternyata spontanitas saya ini mengganggu banyak orang karena orang tidak siap mendengarkan kebenaran yang saya nyatakan. Karena itu saya sering kaget dengan respon orang lain. Dampak dari kata-kata saya adalah kebaikan tetapi orang yang menerima tidak senang dan berterima kasih. Contoh: ketika melihat teman terdekat yang perutnya tetap begitu besar setelah melahirkan. Spontan saya berkomentar:”Kok perutnya tidak mengecil, seperti masih ada bayi di dalam diri”. teman saya terkejut sekali dengan kata-kata saya. Dia tidak senang tetapi dia kemudian mengurus perut besarnya. Ternyata waktu 40 hari setelah melahirkan adalah waktu terpenting untuk mengecilkan perutnya. Kalau tidak diurus maka perutnya akan membesar terus. Perlu melahirkan lagi baru bisa diperbaiki (kurang lebih yang saya tahu seperti ini). Teman saya karena kata-kata saya lalu mengurus perutnya dan perutnya bisa kembali kecil. Bukannya berterima kasih karena saya ingatkan malah dalam setiap pembicaraan dia selalu mengekspresikan kejutan yang saya berikan pada dirinya. Ini urusan yang paling sepele. Banyak urusan yang sungguh membuat saya heran-heran.

Saya tidak pernah percaya kalau jiwa saya terganggu. Saya menjalani hidup dengan penuh gairah dan belajar terus. Saya memiliki kemampuan membangkitkan semangat. Bahkan saya memiliki kemampuan mentrigger emosi orang. Celakanya emosi baik dan buruk yang muncul seperti persaingan dan sering saya menjadi korban. Setiap saya ada dalam organisasi pasti suasananya terangkat dan bergairah. Kalau saya tinggal sering jadi melempem. Sialnya kemampuan saya ini tidak pernah dihargai.

Kemarin saya baru tahu dinamika diri. Ternyata dalam merespon kenyataan yang ada, yang saya gunakan adalah hati saya terlebih dulu. Ini yang menjelaskan mengapa saya memiliki firasat kuat. Kesimpulannya yang saya dapat dulu,baru saya mencari penjelasan. Kalau saya mampu menjelaskan kesimpulan saya, selalu perasaan saya senang luar biasa. Jadi pola saya adalah dari hati ke otak. Seringkali saya sudah tahu kesimpulannya dulu baru kemudian saya mencari penjelasan melalui otak. Karena itu sering saya harus menemukan kata-kata atas kenyataan yang saya lihat dan dengar. Kalau kata-kata itu saya temukan pasti hasilnya kuat sekali.

Itulah pengenalan diri yang lebih mendalam yang saya temukan tentang diri saya. Bayangkan menemukan di usia 57 tahun. Mengapa tidak dari dulu? Kalau dari dulu saya temukan maka saya akan bisa mengelolanya dengan baik dan saya tidak menjadi korban dan orang lain senang karena menemukan orang yang bisa membantu menyelesaikan banyak soalnya.

Sepertinya pola dari hati ke otak banyak dilakukan perempuan. Hanya saya ini adalah contoh yang paling ekstrim. Sekarang saya lagi melatih dan mempelajari tentang INTUISI yang sadar atau tidak, telah saya pakai begitu lama. Semoga saya bisa menolong banyak orang melalui pendekatan intuitif. (esh)

See Also

Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Autis Dan UN Habitat
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Sjahrir Dan Kisah Cintanya
Cinta Oksitosin Dan Cinta Komitmen
Nasehat Bagi Yang Memutuskan Mempertahankan Pernikahan
Berjudi Mempertaruhkan Kebahagiaan Hidup
Mati Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik
Jadilah Pemenang
Perempuan Jangan Tanggung Meraih Prestasi: Dobraklah
jQuery Slider
Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.835.882 Since: 05.03.13 | 0.3351 sec