Opini

Autis Dan UN Habitat

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Wednesday, 27 Juli 2016 | View : 281

SBN.

Bayangkan Prepcom III United Nation Habitat PBB yang dihadiri lebih 5.000 tamu delegasi Kepala Negara atau setingkat Menteri dari 193 negara pada tanggal 25-27 Juli 2016 diselenggarakan di kota Pahlawan, Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Kota Surabaya merespon dengan mengadakan banyak festival. Selamat dan saya ikut bangga atas peristiwa ini.

Konferensi UN Habitat adalah konferensi dunia yang membahas penataan pemukiman perkotaan berwawasan lingkungan (Info dari Aditya Dedi Devianto yang sayangnya tidak jadi ketemu).

Harusnya aku terlibat. Saya peduli urusan miskin kota. Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera), Dr. Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc., dipilihnya Surabaya sebagai tempat pertemuan internasional ini karena perkembangan pembangunan di Surabaya adalah yang terbaik di Indonesia. Surabaya terkenal dengan penghijauan yang berhasil dibuat oleh Wali Kota Surabaya, Dr. (H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T. atau lebih dikenal dengan sebutan Ibu Risma. Juga Surabaya terkenal dengan kampung-kampungnya yang dipedulikan oleh Johan Silas dulu. Aku peduli dengan kampung, miskin kota dalam kaitannya dengan perubahan perilaku dan kesejahteraan warga miskin. Semoga ada kesempatan membangun kampung areke Surabaya khususnya dalam kaitan dengan kesehatan, kebudayaan dan perdamaian.

Saya senang sekali sebuah kota yang hidup. Apalagi hidup karena atraksi budaya dan intelektualnya. Itulah mengapa dulu saya mendukung hidupnya kehidupan kesenian di jalan pemuda. Idenya dulu ada pertunjukan dan diskusi yang diadakan secara rutin yang mudah dijangkau oleh kantong kebanyakan orang yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga yang peduli pada kesenian dan intelektual. Waktu itu ingin organisasi kesenian China bisa beraktraksi budaya dan kesenian secara rutin.

Saya suka denyut aktif sebuah kota, membuat orang asing serasa diterima dan menyatu dengan kota yang ada. Di negara China kita mudah belajar seperti tarian, Taichi di taman-taman. Para warga senior bisa bernyanyi di taman. Di India kita mudah sekali cari buku murah di pinggir jalan. Di beberapa kota yang saya kunjungi di Eropa, begitu banyak musium, cafe-cafe di pinggir sungai sungguh nikmat berada di sana. New York memiliki tempat pertunjukan teater rutin dan tempat-tempat rekreasi yang begitu mudah dikunjungi. Musium dan perpustakaan adalah ciri kota Barat. Saya yakin dua hal ini yang menentukan perkembangan warganya. Bagaimana dengan Indonesia?

Dulu ketika lama di Jakarta, saya sangat menikmati festival film gratis yang berlangsung seminggu atau dua minggu. Memburu kuliner berbagai negara di Jakarta. Waktu itu bermimpi kota Surabaya juga bisa bertransformasi menjadi kota Metropolis yang ramah dan mampu merangkul semua warga. Memberi kehangatan pada jiwa yang merasa terasing. Sayang acara di Gedung Balai Pemuda, Jl. Simpang Dukuh dan Genteng Kali dulu tidak menarik untuk dikunjungi. Kemasannya terlalu tradisional. Sekarang kota Surabaya telah jauh berubah. Sepertinya kita bisa mencari hiburan seperti itu jika kita mencarinya.

Sayangnya saya terlalu konsentrasi pada pekerjaan. Lalu baru terpikir kalau saya ini punya bakat autis dadakan. Tidak peduli yang lain, hanya fokus pada apa yang sedangkan dikerjakan. Saat ini ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan.

Itulah. Saya percaya timing dan sinkronisasi. Sekalipun kita ingin tetapi kalau tidak jodoh maka tidak akan bertemu. Karena itu saya tidak pernah menyesali kesempatan yang tidak mampir sekalipun hasrat begitu besar ada di dada. Jalani saja dengan hati gembira dan memberi kedamaian pada diri dan orang lain yang ada di depan mata. Yang terdekat yang dikerjakan dengan sebaik-baiknya adalah nikmat yang tak terkirakan. Semoga yang melanjutkan mimpi bersama melakukannya dengan baik. Sebagai penerima pasif juga sebuah kenikmatan.

Untung saja ketinggalan sama sekali juga tidak. Selalu ada seseorang yang mengingatkan. Saya baru ngeh acara UN Habitat di Surabaya setelah Aditya Dedi Devianto sedikit membahas (sayang pertemuannya tidak terjadi). Kedua dari Woro yang datang mewakili kantornya. Dia sampaikan acara-acaranya yang begitu keren (sayang aku lebih utamakan selesaikan pekerjaan. He he he). Untung saja masih ada yang tersisa untuk saya yakni undangan dinner di Balai Kota Surabaya, Jl. Walikota Mustajab Surabaya pada hari Senin tanggal 25 Juli 2016. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Sjahrir Dan Kisah Cintanya
Cinta Oksitosin Dan Cinta Komitmen
Nasehat Bagi Yang Memutuskan Mempertahankan Pernikahan
Berjudi Mempertaruhkan Kebahagiaan Hidup
Mati Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik
Jadilah Pemenang
jQuery Slider
Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.066.341 Since: 05.03.13 | 0.2427 sec