Internasional

UE Kaji Ulang Hubungan Dengan Mesir

Monday, 19 Agustus 2013 | View : 762

BRUSSELS-SBN.

 

Tindakan penggulingan dan pertumpahan darah telah menuai kecaman dunia internasional yang meningkat. Situasi Mesir yang masih membara dan bergolak membuat dunia internasional prihatin. Insiden berdarah ini langsung menimbulkan reaksi beberapa negara. Jerman, Inggris, Prancis, Iran, Qatar, bahkan Uni Eropa dan PBB, mengecam kekerasan ini.

Adapun Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengimbau Dewan Keamanan PBB dan Liga Arab agar berperan. “Pembantaian ini harus dihentikan,” cetus Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Pada Sabtu (17/8/2013) malam, Jerman dan Qatar bersama-sama kompak mengutuk aksi kekerasan brutal tersebut di Mesir dan menyebutnya kekerasan yang sangat brutal.

Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki Moon mendesak semua pihak di Mesir ‘untuk menahan diri secara maksimal’ menyusul krisis yang tak juga berhenti. Sekjen PBB, Ban Ki Moon, mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri secara optimal. Sekjen PBB juga mendesak diakhirinya aksi unjuk rasa serta tindakan yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi para demonstran. "Hentikan penggunaan kekuatan yang berlebihan dalam mengatasi para pengunjuk rasa," tukas Juru Bicara Ban Ki Moon. Juru Bicara Ban Ki Moon mengatakan Sekjen PBB Ban Ki Moon juga mengutuk aksi penyerangan terhadap gereja-gereja, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya, yang bagi Ban Ki Moon sangat tidak bisa diterima.

Sampai Kamis (15/8/2013), jumlah korban tewas dibantai aparat keamanan Mesir karena berdemonstrasi menuntut pembebasan Mohamed Moursi mencapai 525 orang dan lebih dari seribu orang luka-luka. Dunia internasional ramai-ramai mengecam aksi tersebut. Namun, pemerintah Mesir interim seperti bergeming. Tidak ada yang tahu sampai kapan krisis politik Mesir akan berujung. Dalam empat hari bentrok, 700 orang lebih telah menjadi korban kekerasan.

Sampai saat ini, pemerintah Mesir interim berkeras belum mau membebaskan Presiden Mesir terguling Mohamed Moursi. Awalnya, Moursi ditahan karena harus disidik atas dugaan keterlibatannya dalam kasus pembunuhan dan aksi unjuk rasa saat revolusi Mesir meletup pada tahun 2011, yang berujung tergulingnya Hosni Mubarak.

Pemerintah Mesir interim memutuskan menyembunyikan Mohamed Moursi, demi kebaikannya sendiri. Sebab, saat ini, ada jutaan masyarakat yang melawan Moursi, dan mengeluarkan Mohamed Moursi sekarang dinilai belum tepat waktunya. Pengungkapan tempat Mohamed Moursi berada juga dikhawatirkan malah akan menarik ribuan pendukungnya untuk berkerumun di luar tempat Moursi berada, melakukan aksi demonstrasi menuntut pembebasannya.

Pada Kamis (15/8/2013), lembaga peradilan Mesir mengumumkan bahwa masa penahanan mantan Presiden Mohamed Moursi akan diperpanjang selama 30 hari. Alasannya berbeda lagi. Mohamed Moursi ditahan karena masih harus menunggu hasil investigasi atas tuduhan mata-mata. Keputusan Jaksa Agung itu dan alasan yang terkesan dibuat-buat. dan tak ayal membuat keluarga dan para simpatisan Moursi dari kelompok Persaudaraan Muslim dan Ikhwanul Muslimin semakin kecewa berat. Mesir pun kembali memanas.

Dua pemimpin Uni Eropa (UE) Herman Van Rompuy dan Jose Manuel Barroso memperingatkan tentara Mesir dan pemerintahan Mesir interim pada Minggu (18/8/2013), blok negara UE akan meninjau hubungan dengan Mesir kecuali kekerasan diakhiri.

“Eskalasi yang terus berlanjut bisa memiliki konsekuensi tak terduga bagi Mesir dan para tetangganya,” ucap presiden Dewan Eropa dan Komisi Eropa itu.

“Kekerasan tidak akan berhasil. Ini sangat penting bahwa kekerasan harus segera berakhir,” kata keduanya dalam pernyataan.

Blok 28 negara itu akan melanjutkan upaya-upaya untuk mempromosikan berakhirnya kekerasan, kembalinya dialog politik, dan kembali ke proses demokratik, tambah pernyataan tersebut.

“Untuk mencapai efek ini, bersama-sama dengan para anggotanya. UE akan segera meninjau hubungannya dengan Mesir dalam beberapa hari mendatang dan mengadopsi langkah-langkah dalam rangka memenuhi tujuan-tujuan tersebut,” kata pernyataan tersebut.

Para diplomat senior dari 28 negara UE pada Senin (19/8/2013) akan menggelar pembicaraan darurat tentang Mesir di Brussels di mana mereka diharapkan untuk menyerukan dihentikannya kekerasan dalam pertemuan beberapa hari ke depan.

UE telah menjanjikan pinjaman dan hibah hampir lima miliar euro untuk Mesir selama 2012-2013 dan mengatakan tidak lama setelah penggulingan Mohamed Moursi pada 3 Juli bantuan akan ‘selalu dikaji’ dengan melihat perkembangan situasi Mesir.

Imbauan yang hampir serupa pun dilontarkan Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle. "Kami mendesak seluruh kekuatan politik untuk kembali menggelar negosiasi dan meninggalkan kekerasan. Segala bentuk yang mengarah pada pertumpahan darah harus dicegah," tegas Menlu Jerman, Guido Westerwelle. "Kami sangat berduka cita atas apa yang terjadi di Mesir dan aksi kekerasan yang sangat brutal di sana," bilang Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle, Sabtu (17/8/2013). Menlu Jerman, Guido Westerwelle juga mendesak kedua belah pihak agar melakukan dialog untuk menghindari ‘perang sipil’.

Sikap serupa juga ditunjukkan Inggris yang terang-terangan mengutuk tindakan aparat keamanan yang menggunakan kekuatan untuk membersihkan dua kamp pusat unjuk rasa di Kairo, yang digunakan para pendukung mantan Presiden Mohamed Moursi. Keprihatinan yang sama ditunjukkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague. Serangan terhadap masjid dan gereja-gereja di sana, bagi Inggris, jelas tidak bisa diterima. “London mengutuk semua tindakan kekerasan, termasuk yang dilakukan oleh pasukan keamanan, melalui kekuatannya dan para demonstran," tandas William Hague. “Saya sungguh khawatir menyaksikan video kekerasan dan kondisi mencekam di Mesir. Saya mengutuk penggunaan kekuatan dalam membersihkan para demonstran dan mengimbau aparat keamanan untuk menahan diri,” pungkas Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague.

Selain tokoh politik, Vatikan melaporkan bahwa Paus Fransiskus sangat prihatin atas pertumpahan darah yang terjadi di Mesir. Paus mengirimkan doa agar para pihak yang berselisih di Mesir memilih jalan dialog dan melakukan rekonsiliasi

Kekecewaan terhadap kondisi Mesir juga dirasakan sekutu dekat Mesir, Amerika Serikat (AS). Negara Paman Sam itu sudah membatalkan latihan militer gabungan dan menutup kantor kedutaan besarnya pada Minggu (18/8/2013), hari kerja bagi masyarakat Mesir. Penutupan kantor kedutaan besar itu juga untuk menghindarkan hal yang tidak diinginkan mengingat aksi unjuk rasa oleh para simpatisan Presiden Mesir terguling Mohamed Moursi berada dekat dengan kantor kedutaan.

Tapi, tidak seluruh dunia internasional mengutuk kekejaman di Mesir. Arab Saudi dan Yordania menegaskan mendukung langkah yang dilakukan Pemerintah Mesir interim, yakni perang melawan ‘terorisme’. (afp)

See Also

Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
Sekelompok Pria Bersenjata Tewaskan 15 Orang Saat Demo Irak
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.798.798 Since: 05.03.13 | 0.1363 sec