Opini

Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Thursday, 14 Juli 2016 | View : 223

SBN.

Ada 2 ide yang diterima dan diyakini banyak orang tentang MENJADI TUA. Yakni pertama soal berat badan dan perkembangan kognitif. Ide itu adalah tentang metabolisme yang melambatlah yang menjelaskan tentang berat badan yang sulit dikendalikan dan kemampuan kognitif akan menurun terus karena penggantian sel yang mati tidak sebanding.

Saya punya problem berat badan terutama perut. Sebelum usia 50 tahun, saya selalu punya perut kempes. Namun setelah saya berusia 50 tahun pernah perut saya gendut. Suatu hari dulu ketika bercermin telanjang, terkejutlah saya melihat perut buncit saya. Lalu saya berusaha menurunkannya melalui pengendalian makan. Namun saya tidak melakukannya melalui olah raga yang seharusnya sudah mulai saya lakukan secara teratur. Usaha saya berhasil di suatu titik namun belum mengembalikan ke perut di masa sebelum usia 50an. Saya sudah puas dan menerimanya sebagai bagian fase saya. Saya menerima ide tentang metabolisme yang melambat membawa konsekwensi sulitnya perut mengecil.

Ternyata ide yang saya pegang tidak sepenuhnya benar. Puasa kali ini yang saya lakukan dengan rileks karena telah trampil, membuat saya makan tidak berlebih. Akibatnya perut saya kempes. Daging yang menempel dari perut atas sampai bawah nyaris hilang. Padahal saya tidak bermaksud menurunkan berat badan dengan puasa. Tujuan saya sepenuhnya spiritual. Saya gembira mendapati ide yang saya yakini tidak sepenuhnya benar. Kalau saya mau maka saya bisa hilangkan lemak dalam perut dengan tidak mengorbankan kesehatan dan menjalaninya dengan gembira.

Lalu soal perkembangan kognitif di usia menua. Kemampuan saya sama sekali belum menurun. Untuk ingatan memang tidak sebaik dulu. Pikiran saya semakin tajam. Kemampuan saya melihat masalah secara keseluruhan meningkat dengan drastis. Bagaimana saya mendapatkan kemampuan ini? Secara prosesual, saat ini saya ada dalam tahap seharusnya mengembangkan kemampuan spiritual. Dan itu yang saya lakukan dengan penuh dedikasi. Saya menjalani ritual dengan konsisten dan belajar terus menerus melakukan refleksi dengan diri dan Sang Pemberi Hidup.

Ternyata perkembangan kognitif baru saya ini ada penjelasannya. Deepak Chopra, dokter yang kemudian beralih ke pengobatan komplementer/alternatif yang memberi saya informasi. Menurut beliau DENDRIT-DENTRIT baru dapat tumbuh sepanjang hidup manusia, bahkan sampai usia sangat lanjut sekalipun.

Saya kutip apa yang dia tulis:”Rahasia terjaganya kondisi puncak tersebut, seperti juga semua penurunan fungsi alami yang sejalan dengan bertambahnya usia, terletak pada kebiasaan berpikir, dan bukan pada sistem susunan syaraf. Selama seseorang tetap aktif secara mental, kecerdasarannya akan tetap seperti saat muda, atau saat dia setengah baya. Manusia akan tetap kehilangan sekitar satu miliar sel saraf sepanjang hidupnya, atau sekitar 18 juta sel saraf setiap tahunnya (dengan asumsi bahwa usia rata-rata manusia adalah 60 tahun). Tetapi kehilangan tersebut diimbangi dengan tumbuhnya struktur lain, yaitu sejenis filament berbentuk batang, yang disebut DENDRIT, yang menghubungkan sel saraf yang satu dengan sel saraf yang lain. Setiap sel saraf cenderung memiliki bentuk yang berbeda, tetapi setiap sel biasanya memiliki bulatan sentral yang memancarkan sinar-sinar tipis, yang bentuknya seperti tangan-tangan gurita. Ketika pertama kali diteliti oleh para ahli anatomi, tangan-tangan ini, atau yang biasa disebut akson, berujung pada rangkaian sel yang berbentuk seperti pohon, sehingga dinamakan DENDRIT (berasal dari kata dendrites, yang dalam bahasa Yunani berarti pohon), Jumlah dendrit ini bervariasi, mulai dari kurang dari seribu sampai lebih dari seribu dalam setiap sel, dan bertindak SEBAGAI TITIK KONTAK, yang memungkinkan sel-sel saraf mengirimkan sinyal kepada sel-sel saraf yang lain. Dengan tumbuhnya dendrit-dendrit yang baru, sebuah sel saraf dapat membuka jaringan-jaringan komunikasi yang baru ke segala arah, seperti papan pengatur lalu lintas telekomunikasi yang membuka sambungan-sambungan baru” (Quantum Healing: Exploring the Frontiers of Mind/Body Medicine, Bantan Books, New York, 1989).

Jadi tidak salah penilaian atas perkembangan kognitif saya. Ada penjelasan yang disampaikan oleh Deepak Chopra. Karena itu kalau mau bahagia ketika menua: jagalah diri jangan sampai kaku secara mental. Fisik boleh menjadi kaku namun justru psikis dan spiritual seharusnya semakin lentur. Untuk mendapatkan yang terbaik di usia menua; kebiasaan menguji ide , keyakinan dan prinsip tetap harus dilakukan. Betapa menyenangkan bisa tetap melakukannya di masa banyak orang tidak lagi mau peduli.

Semoga tetap berkembang dan bahagia. Lebih bahagia lagi kalau ada yang bersama dalam masa menua. Bertumbuh tua bersama. Keren. (esh)

See Also

Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Autis Dan UN Habitat
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Sjahrir Dan Kisah Cintanya
Cinta Oksitosin Dan Cinta Komitmen
Nasehat Bagi Yang Memutuskan Mempertahankan Pernikahan
Berjudi Mempertaruhkan Kebahagiaan Hidup
Mati Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik
Jadilah Pemenang
Perempuan Jangan Tanggung Meraih Prestasi: Dobraklah
jQuery Slider
Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.952.414 Since: 05.03.13 | 0.1977 sec