Olah Raga

Jerman Menang Adu Penalti Atas Italia 6-5

Sunday, 03 Juli 2016 | View : 341
Tags : Italia, Jerman

BORDEAUX-SBN.

Italia dan Jerman meraih sederet sukses di turnamen akbar sejak Piala Dunia 1990. Sama-sama digdaya di planet sepak bola, baik Italia maupun Jerman mengukir prestasi gemilang di perhelatan Piala Eropa 2016. Skuad Der Panzer mengaramkan Slovakia 3-0 di laga kuarter-final sementara Gli Azzurri menjebol gawang Spanyol dengan dua gol tanpa balas di babak 16 besar.

Laga sengit perempat final Euro 2016 tersaji antara Jerman melawan Italia, yang digelar di Nouveau Stade de Bordeaux, Cours Jules Ladoumegue, 33300 Bordeaux, Prancis pada Sabtu (2/7/2016) atau Minggu (3/7/2016) dini hari pukul 02.00 WIB. Pertandingan tersebut berakhir dramatis karena membutuhkan 120 menit dan 18 penalti untuk menentukan siapa pemenang perempat final Piala Eropa 2016 antara Jerman melawan Italia di Nouveau Stade de Bordeaux juga lebih dikenal sebagai Matmut AtlantiqueCours Jules Ladoumègue, 33300 Bordeaux, Prancis, Minggu (3/7/2016) pagi WIB.

Akhirnya tim Panser Jerman memastikan langkah ke semifinal usai menang adu penalti 6-5. Adu penalti dimainkan setelah kedua tim bermain 1-1 selama 90 menit dan tambahan 2x15 menit.

Jerman menjadi satu-satunya tim yang tampil begitu meyakinkan hingga babak 16 Besar. Status sebagai juara dunia dan sama sekali belum kebobolan membuat Italia harus berusaha keras untuk meladeni pasukan Der Panzer di lapangan. Namun, Italia di Prancis 2016 menjadi tim yang disegani berkat kekuatan mental mereka kendati tak memiliki pemain mega bintang layaknya Jerman.

Penampilan apik Gli Azzuri saat menundukkan juara bertahan Spanyol menunjukkan bahwa tim asuhan pelatih Antonio Conte ini patut disegani.

Jika melihat data statistic, Italia tak pernah sekali pun kalah dari Jerman di turnamen besar. Kendati tak memiliki hubungan dengan kondisi sekarang, fakta ini membuat kepercayaan diri para pemain Italia semakin tinggi saat bertemu Jerman di Bordeaux.

Di waktu normal, Jerman unggul terlebih dulu lewat gol Mesut Ozil di menit 65. Namun, Italia membalas lewat gol dari titik penalti yang dicetak Leonardo Bonucci.

Hadiah penalti diberikan setelah tangan bek Jerman Jerome Boateng menyentuh bola.

Tidak ada tambahan gol membuat pertandingan dilanjutkan babak tambahan. Namun sampai 2x15 menit, tidak ada gol terjadi. Alhasil, penentuan pemenang ditentukan lewat adu penalti.

Adu penalti berjalan dramatis. Ketangguhan kualitas dan mental dua kiper top Manuel Neuer (Jerman) dan Gianluigi Buffon (Italia) teruji.

Di lima penendang pertama, skor kembali imbang 2-2. Tiga dari lima penendang masing-masing tim gagal menyarangkan bola. Dari Italia, Simone Zaza, Graziano Pelle dan Leonardo Bonucci gagal menyarangkan bola. Sedangkan dari Jerman yang gagal adalah Thomas Muller, Mesut Ozil dan Bastian Schweinsteier.

Hasil imbang itu membuat adu penalti berlanjut di lima penendang selanjutnya. Tidak ada halangan buat tiga penendang pertama Italia. Giaccherini, Paloro dan Sciglio berhasil menyarangkan bola. Begitu juga dengan Jerman dimana Mats Hummels, Joshua Kimmich dan Jerome Boateng berhasil menyarangkan bola.

Tiba pada saatnya penendang keempat. Eksekusi Matteo Darmian gagal setelah diblok penjaga gawang Manuel Neur. Kesempatan ini tidak sia-siakan Jerman. Jonas Hector yang menjadi penendang penentu berhasil mencetak gol.

Jumlah 18 penalti yang terjadi dalam pertandingan antara Jerman melawan Italia di perempat final Piala Eropa 2016 menorehan rekor sebagai adu penalti terbanyak di perhelatan Piala Eropa.

Jumlah adu penalti terbanyak ini pernah terjadi terakhir kali ketika Italia kalah 8-9 dari Czechoslovakia dalam perebutan peringkat ketiga di Piala Eropa 1980.

Sialnya, sejarah itu terulang kembali. Italia kembali menelan kekalahan dalam adu penalti dan terhenti di perempat final. Jerman memastikan langkahnya ke semifinal berkat kemenangan 6-5.

Generasi muda pemain Jerman kini dapat merasakan betul bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dipercaya ketika sang juara dunia bersiap untuk laga semifinal Euro 2016 pekan depan setelah memetik kemenangan pertama negara itu dari Italia dalam sebuah turnamen besar, Minggu (3/7/2016) dini hari lalu.

Pelatih Joachim Loew memang masih loyal kepada para pemain inti skuad yang memenangkan Piala Dunia dalam sebagian besar masa dari turnamen ini, namun adalah para pemain muda yang menunjukkan tekad membaja yang memastikan kemenangan perempatfinal nan terkenal Jerman di Bordeaux, Prancis itu.

Dalam drama adu penalti menegangkan yang berakhir 6-5 itu, Jerman gagal pada beberapa tendangan penalti dalam hitungan menit jika dibandingkan dengan seluruh sejarah adu penalti mereka ketika para pelayan paling setia Joachim Loew secara mengejutkan gagal menjebol gawang Italia.

Mesut Ozil, Bastian Schweinsteiger dan Thomas Muller, yang jika digabungkan telah bermain pada 274 pertandingan Timnas Jerman, semua melenceng dari arah gawang namun mereka bertahan untuk setidaknya pada satu pertandingan berikutnya, berkat rekan-rekan muda mereka itu.

Bagi Mesut Ozil yang menciptakan gol pembuka pada pertandingan yang berakhir 1-1 ini, kegagalan pada tendangan penalti adalah yang kedua dalam turnamen Euro, sedangkan Thomas Muller lebih parah lagi karena tidak bisa menciptakan gol pada dua Piala Eropa kendati memiliki rekor cemerlang pada putaran final Piala Dunia dengan 10 gol.

Bastian Schweinsteiger, yang dianggap pahlawan Jerman pada Piala Dunia 2014, juga gagal karena bola yang ditendangnya melenceng jauh di atas mistar gawang dengan gerakan aneh yang bisa dianggap sebagai perubahan simbolis dari sang punggawa.

Kapten tim berusia 31 tahun yang dirundung cedera itu memang kesulitan tampil bagus di Manchester United dan sepertinya telah melewati masa puncak permainannya dan harus siap melanjutkan tongkat estafet ke pemimpin tim kepada yang lebih muda.

Kegagalan ketiga pemain senior yang berpengalaman itu tak terlalu mempengaruhi hasil pertandingan. Ini karena para darah muda, Jonas Hector, Joshua Kimmich dan Julian Draxler, bisa tampil dingin untuk membawa Jerman maju ke semifinal sebuah turnamen besar yang keenam kali berturut-turut. Bek sayap Jonas Hector, yang sukses menendang penalti penentu pada turnamen pertama yang dia ikuti, tidak diragukan lagi bakal tetap masuk starting lineup, begitu juga Joshua Kimmich yang masih berusia 21 tahun, yang permainan tidak egoisnya di sayap telah membuat Italia terus terpojok. Julian Draxler yang berusia 22 tahun yang telah menciptakan satu gol dan mengaransemen satu gol lainnya saat menang 3-0 melawan Slowakia pada 16 Besar, awalnya dikorbankan sebagai bek cadangan pada awal pertandingan. Namun setelah masuk pada menit 72 seketika menyegarkan permainan Jerman dan dia bisa saja menciptakan gol penentu kemenangan lewat tendangan balik badannya.

Prancis dan Islandia yang akan saling berhadapan pada perempatfinal terakhir Senin (4/7/2016) dini hari ini keduanya jelas lebih lemah di belakang ketimbang Italia. Dan Joachim Loew kemungkinan besar akan kembali mengandalkan pasukan darah mudanya di Marseille, Kamis (7/7/2016) pekan depan pada semifinal itu.

Bek tengah Mats Hummels terkena akumulasi kartu, sedangkan Sami Khedira bakal absen karena cedera otot yang dia derita Sabtu (2/7/2016) menjelang pertandingan melawan Italia digelar.

Dengan beberapa prospek menarik sedang menunggu di sayap skuad termuda lainnya pada turnamen ini, seperti gelandang Leroy Sane dan gelandang Julian Weigl yang kedunya masih berusia 20 tahun, Joachim Loew memiliki opsi-opsi pemain yang bisa membuat pening pelatih mana pun yang menjadi lawan Jerman, demikian Reuters.

Pelatih Timnas Jerman Joachim Loew mengakui timnya meraih kemenangan tidak mudah atas Italia di perempat final Piala Eropa 2016. Jerman memastikan ke semifinal setelah menang adu penalti 6-5.

Butuh 120 menit dan 18 penalti buat Jerman melenggang ke semifinal. “Ini pertandingan yang dramatis dan menentukan sampai tendangan terakhir. Saya memiliki pengalaman yang sama di Piala Dunia 2006 ketika melawan Argentina (perempat final),” ujar Joachim Loew usai pertandingan.

Menurutnya, pertandingan berjalan taktis dengan kedua tim menunjukkan level permainan terbaiknya. Jerman sempat unggul terlebih dulu lewat gol Mesut Ozil, sebelum akhirnya disamakan Leonardo Bonucci lewat tendangan dari titik penalti.

"Tapi kami berada di atas angin. Italia kuat di lini tengah dan kami berhasil meredamnya. Kebobolan lewat penalti sangatlah kurang beruntung. Saya tidak bisa membayangkan Italia bisa mencetak gol lewat permainan terbuka,” tuturnya.

Pelatih Jerman Joachim Loew mengatakan dirinya tidak banyak memberikan instruksi dalam adu penalti ketika melawan Italia di perempat final Piala Eropa 2016. Menurut Joachim Loew, urusan siapa yang akan menendang penalti, diserahkan kepada pemainnya.

"Saya tidak memiliki pengaruh nyata dalam adu penalti. Setiap pemain harus membuat keputusan untuk dirinya sendiri,” ungkapnya.

Dia merasa beruntung, lima penendang pertama didapatnya dengan cepat. Dari lima penendang, tiga penendang diantaranya Thomas Muller, Mesut Ozil dan Bastian Schweinsteiger gagal menyarangkan bola.

"Pengambil kami 1, 2, 3, 4, 5 ditemukan dengan cepat. Biasanya, kita memiliki penendang penalti yang baik, meskipun mereka belum mencetak gol hari ini,” katanya.

Akhirnya, kemenangan Jerman ditentukan lewat gol Jonas Hector. Buat pelatih Joachim Loew, kemenangan dramatis lewat adu penalti ini memberikan pengalaman penting buat pemain mudanya, termasuk Joshua Kimmich dan Jonas Hector.

Soal perubahan formasi dengan hanya memainkan tiga pemain belakang, Joachim Loew menilai itu adalah sesuai dengan lawan yang dihadapi. “Italia adalah lawan berbeda dibanding Slovakia. Mereka bermain dengan dua striker tengah dan dua sayap. Berbahaya menghadapi mereka dengan 4 lawan 4. Mereka bermain dari sayap ke tengah,” tutur Joachim Loew.

Meski tak menganggap remeh Islandia, pelatih Timnas Jerman, Joachim Loew, mengaku lebih suka bertemu Prancis pada semifinal Piala Eropa 2016. Kedua tim akan memperebutkan tiket terakhir semifinal pada Minggu (3/7/2016) atau Senin (4/7/2016) dini hari WIB.

Jerman melaju ke empat besar setelah menundukkan Italia lewat adu penalti. Pasukan Joachim Loew akan bertemu pemenang laga Prancis vs Islandia pada laga semifinal Kamis (7/7/2016) mendatang.

"Prancis tim favorit, mereka tuan rumah, dan merupakan tim tangguh dengan materi pemain yang berkualitas secara individu," paparnya.

"Islandia mengejutkan kita semua. Mereka sangat terorganisasi di lini pertahanan," papar Joachim Loew lagi.

"Tak mudah bagi Prancis melawan tim yang sangat bersemangat seperti itu. Namun menurut saya Prancis akan menggunakan kualitas mereka dan lolos ke semifinal," tuturnya lagi.

"Jika Anda berada di semifinal maka target berikutnya adalah final jadi fokus kami saat ini adalah pemulihan kondisi," ungkapnya. "Pertandingan seperti ini berpengaruh kepada semua orang. Kami harus yakin pemain bisa memulihkan diri karena kami ingin mereka dengan kemampuan lebih dari sebelumnya," ujar pelatih berusia 56 tahun ini.

Beberapa pemain Jerman, termasuk pelatih, tidak menyangka laga melawan Italia berlangsung sangat alot hingga pemenang harus ditentukan melalui babak adu penalti yang berlangsung hingga penendang ke-9 di Stade de Bordeaux, Minggu (3/7/2016) WIB.

Sebelum laga ini Jerman memang dihantui semacam trauma atau "kutukan" karena tidak pernah menang melawan Italia di turnamen besar.  Der Panzer seri 4 kali dan kalah 4 kali melawan Italia, bahkan mereka selalu kalah pada empat pertandingan babak knockout atas Italia, tiga kali pada Piala Dunia (semifinal 1970, final 1982, dan semifinal 2006) dan semifinal Euro 2012.

Kiper Jerman Manuel Neuer menilai laga ini sangat istimewa karena tidak sekadar menyudahi kutukan bagi Jerman, melainkan kedua tim harus berperang urat syaraf hingga babak adu penalti rampung. "Sesuatu yang istimewa menjalani begitu banyak penalti, sebuah drama! Kami tidak berhasil mengalahkan Italia dalam 90 menit. Kami juga tidak mengalahkan Italia pada 120 menit," kata kiper Manuel Neuer dilansir dari UEFA usai pertandingan. Kiper Manuel Neuer menambahkan, "Tidak mudah. Ini perang syaraf. Saya melakukan persiapan, namun tidak satupun dari penendang penalti mereka yang melakukan hal seperti biasa yang mereka melakukan."

Gelandang Jerman, Sami Khedira, pun bangga atas kemenangan yang ditempuh lewat adu penalti dengan menyebut bahwa Jerman adalah tim besar. "The Mannschaft (julukan Jerman) telah bermain seperti tim besar. Kami tidak membiarkan mereka melakukan sesuatu. Kami tidak beruntung saat kebobolan," kata Sami Khedira kepada UEFA, usai pertandingan. "Mario Gomez dan saya harus meninggalkan lapangan. Kami memiliki beberapa pemain cedera, hal yang normal di suatu turnamen besar. Kami akan sekali berada di lapangan untuk laga kompetitif di semi-final," ujarnya.

Hal berbeda dikatakan pelatih Jerman Joachim Loew. Menurutnya kemenangan penalti adalah buah kerja keras pemainnya. "Saya tidak punya pengaruh besar pada adu penalti. Setiap pemain membuat keputusan untuk dirinya sendiri," kata Joachim Loew. "Penendang urutan 1, 2, 3, 4, 5 ditentukan dengan cepat. Biasanya, kami punya penendang penalti handal, meskipun mereka tidak mencetak gol hari ini," ungkap Joachim Loew.

Joachim Loew pun mengalihkan pujian kepada pemain muda yang mampu menaklukkan kiper penuh pengalaman Italia, Gianluigi Buffon, pada babak adu penalti itu. "Luar biasa saat anak-anak seperti (Joshua) Kimmich dan (Jonas) Hector tidak gugup di panggung seperti itu," ucapnya.

Jerman menjalani bongkar-pasang susunan pemain. Langkah yang diambil manajer Joachim Loew ini lantas dituding sebagai salah satu penyebab ketidakstabilan penampilan Toni Kroos dan kawan-kawan.

Gawang Jerman memang belum pernah kemasukan gol, lantaran penampilan penjaga gawang Manuel Neuer demikian memukau dengan sejumlah aksi penyelamatan.

Penjaga gawang Jerman, Manuel Neuer, terpilih sebagai pemain terbaik dalam pertandingan atau "man of the match" laga perempatfinal Euro 2016 antara Jerman melawan Italia di Bordeaux, Minggu (3/7/2016) WIB.

Situs UEFA menujuk Manuel Neuer sebagai sosok kunci kemenangan Der Panzer atas Italia di babak adu penalti dengan skor 6-5. Jerman pun melaju ke babak semifinal Euro 2016.

Kiper Bayern Muenchen itu berhasil menggagalkan dua tendangan pemain Italia, Leandro Bonucci dan Matteo Darmian, yang menjadi penendang urutan lima dan sembilan.

Lawan Manuel Neuer di timnas Italia, Gianluigi Buffon, juga melakukan penyelamatan penalti namun aksinya tidak mampu membawa Italia menang atas Jerman.

Manuel Neuer dan Gianluigi Buffon pun saling berjabat tangan dan berpelukan singkat usai babak adu penalti, namun Manuel Neuer disambut tim dengan wajah girang sementara Gianluigi Buffon meninggalkan lapangan dengan wajah tertunduk.

Jerman akan menghadapi pemenang laga antara Prancis dan Islandia pada babak semifinal yang digelar di Stade Velodrome pada 8 juli 2016.

Bek Jerman, Mats Hummels, mengaku dirinya "terluka" oleh kartu kuning yang didapatkannya saat melawan Italia di perempat final Piala Eropa 2016, Sabtu (2/7/2016) atau Minggu (3/7/2016) dini hari, di Bordeaux. Akibat kartu kuning yang dilayangkan wasit Vikto Kassai, Mats Hummels pun harus absen di partai semifinal melawan pemenang Prancis vs Islandia. Ini merupakan kartu kuning kedua yang didapat pemain yang baru pindah ke Bayern Muenchen tersebut di kejuaraan ini. Kartu kuning pertama didapatnya saat menang 3-0 atas Slovakia di babak 16 besar. "Kartu kuning kedua saya itu menyakitkan karena saya harus absen di pertandingan berikutnya," kata pemain berusia 27 tahun ini. "Namun ini membuat saya bisa beristirahat dua atau tiga hari lebih banyak," papar mantan pemain Borussia Dortmund ini.

Dengan absennya Mats Hummels saat semifinal nanti, pelatih Jerman, Joachim Loew tentu harus memutar otak untuk mencari penggantinya. Namun kemungkinan besar yang akan ditunjuknya untuk berduet dengan Jerome Boateng di jantung pertahanan adalah Skhodran Mustafi. Pemain Jerman keturunan Albania ini tampil sebagai starter dalam laga pertama Jerman di kejuaraan yang digelar di Prancis ini. Dalam pertandingan melawan Ukraina tersebut, Skhodran Mustafi bahkan mencetak gol pembuka kemenangan 2-0 yang dipetik Jerman.

Pelatih Tim Nasional Italia Antonio Conte mengaku dirinya akan beristirahat sepekan sebelum memulai tugas barunya sebagai pelatih Chelsea. Mantan pelatih Juventus itu mengungkapkan dirinya sebenarnya ingin tetap menangani Gli Azzuri, namun akhirnya memutuskan pergi karena merasa tak seorang pun yang mendukungnya.

Timnas Ialia asuhan Conte tersingkir dari Piala Eropa 2016 setelah kalah adu penalti melawan Jerman. "Saya memutuskan pergi sejak beberapa waktu lalu," kata mantan pelatih Bari ini.

"Saya tak membantah jika ada suatu momen saat saya ingin tetap meneruskan kesempatan ini (menangani Italia) namun saya menghadapi masalah tertentu yang tak bisa saya abaikan," kata pelatih berusia 46 tahun ini.

"Sejujurnya saya merasa tak didukung siapa pun saat itu bahkan juga para wartawan. Hanya ada saya yang berperang melawan semua orang. Saya selalu bekerja untuk tim bukan untuk diri saya sendiri," kata pelatih yang juga pernah menjadi pemain Timnas Italia ini.

"Beberapa orang suka membuat masalah dan mendapatkan nama. Saya tak pernah merasa mendapat dukungan. Ada Presiden FIGC yang selalu dekat namun hanya dalam beberapa hal," imbuhnya.

"Saya ambil keputusan ini dan saya kecewa. Saya berharap apa yang sudah kami lakukan (di Timnas Italia) akan menjadi fondasi tim berikutnya," ujarnya lagi.

"Saat saya sudah mengambil keputusan untuk berhenti (sebagai pelatih Timnas) dan setelah itu muncul tawaran dari Chelsea, jadi saya menerimanya," kata pelatih Antonio Conte.

"Dalam beberapa hari mendatang musim baru dimulai dan saya memilih untuk tak mengambil liburan jika langkah Italia tak berlanjut di Piala Eropa," ujarnya.

"Kini saya akan mengambil jeda sepekan untuk menghapus kekecewaan ini dan memulai petualangan baru. Saya tahu ini akan sulit, namun saya suka tantangan ini," kata pelatih Antonio Conte.

Pelatih Italia Antonio Conte menegaskan kekalahan mereka saat menghadapi juara dunia Jerman dalam perempat final Piala Eropa 2016 bukanlah hal memalukan. Dia mengaku bangga atas perjuangan pasukannya.

Italia harus pulang setelah menyerah 5-6 lewat adu penalti di Stadion Bordeaux setelah dalam 90 menit dan babak tambahan skor imbang 1-1.

"Para pemain kami sudah mengerahkan segalanya melawan tim yang sangat kuat," ujar Conte kepada Rai Sport. "Kalah oleh Jerman lewat adu penalti bukanlah hal yang memalukan karena kami masih bisa terus melihat ke depan. Saya bangga atas perjuangan tim saya," kata mantan pelatih Juventus itu.

"Penyesalan? Hanya penaltinya bukan upaya yang sudah dilakukan. Saya senang mereka telah menunjukkan dirinya pantas mengenakan kostum itu. Para pemain ini telah membuktikan semuanya dan mengerahkan segenap kemampuan mereka," paparnya.

Pelatih timnas Italia tersebut, Antonio Conte juga menegaskan dirinya tak suka melakukan evaluasi. "Saya lebih suka orang lain yang melakukannya. Hal penting bagi saya adalah saya mendapat pengalaman luar biasa bekerja sama dengan para pemain ini, membuat publik Italia respek, dan tim kami disegani semua lawan," paparnya.

"Ini bukan goodbye, ini arrivederci," pungkas Antonio Conte.

Lima pertandingan terakhir Jerman:

04/06/16 Jerman 2 - 0 Hungaria

13/06/16 Jerman 2 - 0 Ukraina

17/06/16 Jerman 0 - 0 Polandia

21/06/16 Irlandia Utara 0 - 1 Jerman

26/06/16 Jerman 3 - 0 Slovakia

Lima pertandingan terakhir Italia:

07/06/16 Italia 2 - 0 Finlandia

14/06/16 Belgia 0 - 2 Italia

17/06/16 Italia 1 - 0 Swedia

23/06/16 Italia 0 - 1 Republik Irlandia

27/06/16 Italia 2 - 0 Spanyol

Lima pertemuan terakhir:

30/03/16 Jerman 4 - 1 Italia

16/11/13 Italia 1 - 1 Jerman

29/06/12 Jerman 1 - 2 Italia

10/02/11 Jerman 1 - 1 Italia

05/07/06 Jerman 0 - 2 Italia

Susunan Pemain:

Jerman (4-2-3-1):

Manuel Neuer, Jonas Hector, Benedikt Howedes, Mats Hummels, Sami Khedira (Bastian Schweinsteiger), Mesut Ozil, Thomas Muller, Jerome Boateng, Toni Kroos, Joshua Kimmich, Mario Gomez (71 Julian Draxler).

Pelatih: Joachim Loew.

Italia (3-5-2):

Gianluigi Buffon, Mattia De Sciglio, Giorgio Chiellini, Alessandro Florenzi (86 Matteo Darmian), Graziano Pelle, Stefano Sturaro, Andrea Barzagli, Eder, Marco Parolo, Leonardo Bonucci, Emanuele Giachherini.

Pelatih: Antonio Conte.

Wasit: Viktor Kassai (Hungaria).

(uefa/reuters/jos)

See Also

SEA Games 2017, Indonesia-Thailand Imbang 1-1
Tumbuhkan Kebersamaan, Dandim 0716/Demak Ikuti Jalan Sehat
Pos Koramil 02/Bogorejo Gelar Senam Bersama Forkopimcam
Pos Koramil 02/Bogorejo Gelar Senam Bersama Forkopimcam
Hermansyah Pelatih Kiper Baru Madura United FC
Pelatihan Dayung, Babinsa Koramil 01/Kota Kodim 0721/Blora Instruktur Pelatih
Koramil 14/Todanan Besama Muspika Gelar Senam Bersama
Personel Koramil 13/Kunduran Melaksanakan Pembinaan Fisik
Koramil 07/Sambong Gelar Senam Bersama Muspika
Jaga Kebugaran Tubuh, Persit Kodim 0721/Blora Gelar Senam Aerobic
Owi/Butet Selamatkan Muka Indonesia Dengan Raih Emas Olimpiade Rio 2016
Eko Yuli Irawan Raih Perak Kedua Bagi Indonesia
Posisi Rio Haryanto Di Manor Racing Digantikan Esteban Ocon
Michael Phelps Sabet Emas Ke-21
Mahasiswi Universitas Bhayangkara Sri Wahyuni Rebut Medali Perak Olimpiade
Victoria Fyodorovna Azarenka Umumkan Dirinya Sedang Hamil
Setelah Lebaran Kodim 0716/Demak Gelar Latihan Yongmoodo
Portugal Lolos Ke Final Setelah Tundukkan Wales 2-0
Prancis Ke Semi Final Setelah Kalahkan Islandia 5-2
Piala Eropa 2016, Wales-Belgia 3-1
Zinedine Zidane Tak Yakin Bertahan Di Real Madrid
Nico Rosberg Juara GP F1 Rusia
Valentino Rossi Juara MotoGP Spanyol
Mahasiswa UMK Raih Perunggu Di Kejuaraan Internasional PSHT
Nico Rosberg Menang GP F1 Shanghai Samai Rekor Michael Schumacher
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.955.588 Since: 05.03.13 | 2.1404 sec