Keluarga

Perempuan Rentan Alami Kekerasan Seksual Di Media Sosial

Saturday, 23 April 2016 | View : 419

SBN.

Kekerasan secara dalam jaringan (daring) Internet, terutama melalui media sosial bisa saja terjadi pada semua orang, namun menurut pendiri PurpleCode, Dyhta Caturani (41 tahun), perempuan lebih rentan mengalami kekerasan seksual.

"Laki-laki yang diserang ide atau statement di mana kita bisa berdebat dengan argumentasi yang sama masuk akal. Sementara perempuan sangat berbeda, yang diserang personal, tubuh," kata aktivis perempuan tersebut dalam kampanye #PositionOfStrength, di Jakarta, Sabtu (23/4/2016).

Sayangnya, Dyhta Caturani mengatakan, hingga kini kekerasan di Internet terhadap perempuan memiliki klasifikasi dan kategorisasi.

Selain itu, Dyhta Caturani mengungkapkan bahwa istilah daring (online) dalam kekerasan perempuan sering tidak diperhatikan. Pasalnya, banyak orang lebih memprioritaskan kasus langsung (offline).

Namun, menurut perempuan asal Surabaya ini, Dyhta Caturani, kekerasan tersebut tidak sekedar kekerasan online atau kekerasan dunia maya atau siber (cyber), melainkan merupakan perpanjangan dari kekerasan yang sudah ada.

"Banyak yang berpendapat 'ngapain ngurusin online? Offline juga banyak'. Tapi, keduanya punya akar yang sama," terang Dytha Caturani yang pada masa Sekolah Menengah Atas (SMA) mengirim surat dukungan kepada mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pada awal 1990-an itu sering berorasi menentang Pemerintahan rezim Soeharto.

"Karena, kehidupan online merupakan representasi kehidupan mereka di offline. Ketika berjuang di offline harus dibawa ke online juga," papar Dytha Caturani yang semasa di bangku kuliah, menyalurkan hasrat perlawanannya lewat komunitas diskusi Tegak Lima.

Jenis-jenis kekerasan di ranah online, Dyhta Caturani menjelaskan, antara lain Doxing (mempublikasikan data personal orang lain), Cyber Stalking (akan mencapai tahap mengerikan ketika mengetahui aktivitas offline). dan Revenge Porn (Penyebaran foto/video dengan tujuan balas dendam dibarengi intimidasi/ pemerasan).

Tujuan kekerasan tersebut, ditambahkan perempuan yang pernah ikut dalam demonstrasi besar-besaran 1998 itu, antara lain pemerasaan, pembungkaman dan eksploitasi seksual yang berdampak menimbulkan rasa takut yang dapat berpotensi pada kekerasan fisik secara offline.

Perempuan rentan mengalami kekerasan di ranah dalam jaringan (daring) atau online di Internet, sehingga pendiri PurpleCode, Dyhta Caturani, memiliki sejumlah strategi untuk menghadapinya.

Ia mengemukakan, salah satu tantangan menghadapi kasus kekerasan seksual daring adalah tidak adanya hukum yang saat ini ampuh menjangkaunya.

Oleh karena itu, ia menilai, kekerasan seksual terhadap perempuan di Internet lebih sering tidak dianggap sebagai masalah, apalagi kejahatan. Korban pun tidak mendapat perlindungan hukum yang memadai.

Meski demikian, ia menegaskan, potensi kekerasan di dunia maya dapat diminimalisir, dan dapat ditindak lanjuti saat hal itu terjadi.

Dalam kampanye #PositionOfStrength bersama Twitter, Dyhta Caturani berbagi strategi dalam menghadapi kejahatan di media sosial sebagai berikut:

1. Dokumentasikan setiap pelecehan (harassment)/ancaman. Jangan dihapus, melainkan simpan sebagai bukti.

2. Laporkan dan blokir (report and block) pihak yang melecehkan.

3. Abaikan.

4. Anonimitas.

5. Pelajari fungsi pengaturan rahasia pribadi (privacy setting) setiap platform media sosial dan aplikasi berbagi foto (photo sharing) yang digunakan.

6. Jangan pernah memposkan informasi data pribadi yang sensitif di Internet.

7. Perlakukan semua informasi data pribadi secara hati-hati, memilah mana yang boleh dan mana yang tidak boleh diposkan ke Internet.

8. Gunakan fungsi laporan posisi (geotagging) dan lokasi (geolocation) secara bijak.

9. Pelajari perangkat keamanan digital, contoh jangan pernah membagikan kata kunci (password) kepada siapapun.

10. Bergabunglah dalam kegiatan kampanye anti-kekerasan terkait teknologi terhadap perempuan. (ant)

See Also

UMK Buka Prodi Teknik Industri
Penularan HIV/AIDS Melalui Hubungan Seksual Di Iran Meroket
Tekan Angka Kematian Bayi Akibat Hipotermia, Mahasiswa UMK Rancang Pup Baby
Perlu Ada Pelatihan Membuat Manisan Belimbing Dan Jambu
Mahasiswa UMK Amati Produksi Kretek
Friend Peace Team Asia West Pacific-USA Berbagai Pengalaman Dengan Mahasiswa UMK
Manfaat Besar Bawang Putih Bagi Kesehatan
Konsumsi 7 Makanan Hadapi Kanker
Lagu Iwan Fals Menggema Di Arena Musywil Muhammadiyah Dan Aisyiyah Ke-47
Segera Ada Sosis Anti-kanker Usus
Kudapan Indonesia Laris Di Farmers Market Praha
Deteksi Dini Mencegah Diabetes Melitus
Tiga Kuliner Jadi Andalan Indonesia Di MEA
Turunkan Kolesterol Dengan Cuka Apel
Diam-diam 7 Penyakit Ini Tanpa Disadari Mengakibatkan Kematian
Makanan Sehat Bunuh Sel Kanker
Hoax, Facebook Kenakan Tarif Bagi Penggunanya
KPI Sebut Lima Acara TV Yang Berbahaya Bagi Anak-anak
Wanita Yang Pernah Berhubungan Badan Wajib Lakukan Pap Smear
Lima Penyebab Utama Kanker
Kenaikan Harga Rokok Di Australia Mahal Di Dunia
Perempuan Memburu 12 Hal Terhadap Diri Lelaki
Finalis American Idol Michael Johns Meninggal Di Usia Ke-35
Lima Kebiasaan Penyebab Kanker
Tiga Gaya Hidup Cegah Kanker
jQuery Slider
Arsip :2016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.113.759 Since: 05.03.13 | 0.2393 sec