Redaksi

Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Friday, 22 April 2016 | View : 382

SBN.

Festival Kartini yang diorganisir oleh Aliansi Perempuan Indonesia Membangun Bangsa dengan Ketua Aliansi Perempuan Membangun Bangsa, Prof. Dr. Emy Susanti, M.A. dan Ketua Panitia Peringatan Hari Kartini 2016 "Perempuan Indonesia Dalam Karya, Citra, Dan Cita", Ibu Drg. Satiti Kuntari, M.S., Sp.KGA. dalam waktu kurang dari sebulan ternyata berhasil merealisir ide yang dinilai terlalu ambisius.

Peringatan Hari Kartini 2016 "Perempuan Indonesia Dalam Karya, Citra, Dan Cita", Kamis (21/4/2016) kemarin berhasil dari segi representasi peserta dan tamu kehormatan yang ada. Saya punya feeling kalau ide ini akan jalan. Waktu saya terbuang banyak mencari dan menemukan siapa yang menjadi penggeraknya. Kami bertiga sebagai penggagas awal tidak pernah bisa duduk bersama kembali dengan Ibu Ir. Titien Nursetyawati Wahono (64 tahun). Saya yang bolak balik ke satu-satu orang dan terbentur oleh traveling yang saya lakukan. Namun akhirnya event bisa diselenggarakan sesuai persis dengan konsep yang dibahas kecuali soal organizernya.

Tokoh penting yang hadir kemarin Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs. H. Syaifullah Yusuf atau yang akrab dipanggil Gus Ipul dan Ibu Fatma Syaifullah Yusuf. Juga istri pimpinan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Kepolisian. Sumbangan lagu dari SMP Negeri 6 dan Spetra menambah kemegahan acara kemarin.

Seminar dengan saya dan U.S. Consul General/Konsul Jenderal/Konjen dari Consulate/Konsulat Amerika Serikat (AS) di Surabaya, Ibu Heather C. Variava yang menggantikan Joaquin F. Monserrate, mengundang banyak inspirasi dan tukar ide.

Kami mengundang Forum Anak Kota Surabaya dan mereka berdua (dik Ajeng dan kawannya) mengajukan pertanyaan kritis. Ajeng bertanya: "Kalau perempuan diberdayakan lalu laki-lakinya bagaimana?”. Temannya bertanya: "Bahasa perjuangan dan nasionalisme yang dipakai orang dewasa tidak seksi untuk anak muda. Lalu bagaimana ini?”.

Pertanyaan 2 anak muda hebat tersebut mengiring diskusi yang ada. Kami harus mengakui bahwa telah terjadi kesalahan besar tidak menyertakan laki-laki. Masalah anak-anak saat ini salah satu penyebabnya adalah ketidakhadiran bapak dalam kehidupan mereka. Saya menyampaikan perlunya meredefinisikan konsep maskulinitas yang ada. Ide tentang memasukkan laki-laki dalam urusan perempuan ini diterima secara penuh oleh peserta.

Itulah lalu Pak Syaifullah Yusuf didaulat menjadi pembaca deklarator HE FOR SHE. Gerakan ini dimulai di Amerika Serikat (AS). Di Indonesia dimulai oleh Aliansi Perempuan Indonesia Membangun Bangsa kemarin. Pak Syaifullah Yusuf tidak mau sendirian ketika membacakan deklarasi ini. Dia ajak laki-laki yang lain. Sungguh keren.

Sekaligus Pak Wakil Gubernur mendeklarasikan 3 masalah kritis yang harus diatasi bangsa ini yakni:

1. Mengakhiri perdagangan manusia.

2. Mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak.

3. Mengakhiri kesenjangan ekonomi yang ada.

Ada suami istri yang hadir menyambut tawaran saya menjadi pendamping orangtua. Semoga aksi sudah bisa segera saya lakukan. Di antara sekian banyak perempuan di mana saya adalah satu pemegang tongkat estafet RA Kartini, sesuai dengan panggilan jaman sekarang ini maka saya menambahkan 2 nilai yang harus kita junjung tinggi untuk membangun peradaban Indonesia. Dua nilai tersebut adalah keberlangsungan generasi penerus dan tim work gender.

RA Kartini dengan tulisannya yang memungkinkan Indonesia menyongsong abad baru dengan nilai persamaan, keadilan dan pluralisme yang dijunjung. Lalu Eleanor Rosevelt istri Presiden Amerika Serikat (AS) ketika perang dunia kedua berjasa memperjuangkan hak asasi manusia yang diusung oleh PBB. Yang kemudian konsep Hak Asasi Manusia (HAM) termasuk hak anak dan perempuan menyebar ke Indonesia yang terbukti secara ampuh bisa melindungi anak dan perempuan. Dua perempuan dari Indonesia dan Amerika Serikat (AS) ini telah membangun fondasi untuk membangun peradaban. Tugas kita saat ini melanjutkan dengan menyesuaikan diri dengan panggilan jaman yang ada.

Acara kemarin ditutup dengan memberi Kartini Award kepada 3 pendekar antara lain Dr. dr. MQHC Sawitri Retno Hadiati, dan Sinta Yudisia Wisudanti, S.Psi., M.Psi, Psikolog.

Jumat (22/4/2016) hari ini Festival Kartini ditutup. Masih ada banyak event dan pameran yang bisa dilihat. Silahkan datang bagi yang belum melihat Festival Kartini yang dikelola oleh Perempuan Aliansi Indonesia Membangun Bangsa. (esh)

See Also

Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
Kolaborasi Masyarakat Sipil Dengan Kota Surabaya Untuk Anak
Pernikahan Anak Sartiah Yusran Di Kendari Dan Menulis Tentang Suami Yang Luar Biasa
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.113.737 Since: 05.03.13 | 0.3141 sec