Opini

Sjahrir Dan Kisah Cintanya

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Monday, 18 April 2016 | View : 423

SBN.

Majalah Tempo dan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menerbitkan serangkaian kisah pendiri Republik Indonesia. Kita terlalu banyak mendapatkan versi tentang Presiden Soekarno. Yang lain minim publikasi. Padahal perannya sejajar.

Beberapa buku telah saya baca. Baru saja selesai saya baca adalah kisah Bung Kecil, SJAHRIR (5 Maret 1909-9 April 1966). Sutan Sjahrir adalah satu dari tokoh "Tiga Serangkai" pergerakan nasional dan Bapak Bangsa yaitu Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir

Terima kasih banyak Tempo dan KPG menuliskan buku ini. Melalui buku ini saya menjadi jauh mengenal Sjahrir dan ini penting bagi saya. Proyek idealis yang mendapatkan sambutan karena buku ini telah dicetak yang keempat.

Sutan Sjahrir adalah pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI). Kalau ditelusuri asal ide berasal dari Bernstein dari Jerman. Bernstein mengusulkan melepaskan diri dari ajaran Karl Marx. Ini termasuk revisionis ajaran Karl Marx. Revisi yang dilakukan adalah memasukkan elemen manusia/individu. Karena itu PSI secara langsung mau tidak langsung mendukung demokrasi.

Sjahrir bukan penganut nasionalis buta. Baginya nasionalisme harus tunduk pada humanisme kalau tidak maka nasionalisme bisa menjadi totalitarianisme. Karena itu Sjahrir anti fasis dan komunisme. Dia tidak anti asing dan modal sejauh itu untuk kesejahteraan masyarakat.

Sjahrir adalah a man of paradox dalam berbagai arti. Tubuhnya kecil dengan tinggi tidak mencapai satu setengah meter, 145 sentimeter, dan berat badan hanya 45,5 kilogram. Namun di sana tersimpan energi dahsyat. Inteligensinya mengagumkan.

Sjahrir adalah sebuah kekecualian bagi zamannya. Pemikirannya melalui jamannya. Andai saja pemikirannya mendapat ruang sekarang ini, saya yakin berkontribusi pada perbaikan struktur dan sistem yang ada. Dengan demikian kemajuan yang kita raih akan cepat terealisir. Sayang ide sosialis di Indonesia terluka parah. Seharusnya ada jalan untuk ke sana bersama ide kebebasan, persamaan dan kemanusiaan.

M. Chatib Basri menyatakan: ”Sutan Sjahrir seperti sebuah kekecualian bagi zamannya. Mungkin ia terlalu di depan bagi masanya. Ketika nasionalisme adalah tungku yang memanggang anak-anak muda dalam elan kemerdekaan, Sjahrir justru datang dengan sesuatu yang mendinginkan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional tidak final. Tujuan akhir dari perjuangan politiknya adalah terbukanya ruang bagi rakyat untuk merealisasi dirinya, untuk memunculkan bakatnya dalam kebebasan. Tanpa halangan. Bagi Sjahrir, kemerdekaan adalah sebuah jalan menuju cita-cita itu. Itu sebabnya Sjahrir menganggap nasionalisme harus tunduk kepada kepentingan demokrasi.”

Sutan Sjahrir adalah eksponen utama garis ideologis yang dapat disebut perpaduan antara tradisi sosial demokrasi dan liberalisme. Sebagai sosial demokrat, ia merupakan tokoh gerakan buruh yang andal pada 1930-an, dan menaruh perhatian amat besar terhadap masalah pendidikan rakyat. Liberalismenya terlihat antara lain dalam perhatiannya yang besar pula terhadap masalah perlindungan hak-hak individu dari tirani negara. Tak mengherankan bila ia menjadi musuh besar fasisme, baik yang berasal dari luar maupun dalam negeri.

Sumbangannya untuk Republik Indonesia adalah diplomasi yang dilakukan ke dunia Internasional. Hasilnya adalah pengakuan kedaulatan Indonesia. Jasanya ini seperti kurang disosialisasikan. Saya baru ngeh ketika membaca buku ini.

Banyak intelektual Indonesia menjadi pengikutnya. Untung saja dia meninggalkan pemikirannya melalui 2 buku yang ditulis. Pemikirannya tetap hidup di kalangan intelektual Indonesia masa kini. Semoga ada jalan kembali oleh penerus yang berserakan saat ini.

Berakhir di penjara oleh Presiden Soekarno dan stroke 2 kali. Meninggal di Swiss ketika berobat. Sebelum meninggal Sjahrir menonton televisi yang memberitakan kekuasaan Soekarno yang diganti oleh Soeharto. Setelah mendengar berita ini mengalami pendarahan otak dan koma selama seminggu lalu meninggal. Jasadnya kembali dengan disambut massa pendukungnya dan langsung dinyatakan sebagai pahlawan nasional oleh Soekarno.

Sjahrir menikah dua kali. Pertama dengan orang Belanda Prancis bernama Maria Duchateau (1932-1948). Punya anak laki tetapi meninggal ketika dilahirkan. Maria Duchateau menemani Sjahrir dari jarak jauh melalui hubungan surat menyurat. Dalam kesendirian Sjahrir, Maria Duchateau hadir sebagai pendukung. Surat menyurat sebanyak 287 buah surat yang ditulis 1931-1940 telah dibukukan oleh Kees Snoek.

Lalu ketika dia menjadi Perdana Menteri tertarik dan kemudian menikah dengan perempuan yang dipanggil POPPY atau Siti Wahjunah Saleh (1951-1966). Poppy adalah kakak dari Dr. Soedjatmoko Mangoendiningrat juga dikenal dengan nama panggilan Bung Koko (10 Januari 1922-21 Desember 1989), intelektual, diplomat, dan politikus Indonesia, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat serta Rektor Universitas PBB di Tokyo. Jadi dia dari kalangan keluarga intelektual nasionalis Indonesia yang tersohor. Saudaranya yang lain adalah Prof. Miriam Budiardjo (20 November 1923-8 Januari 2007), pakar Ilmu Politik Indonesia, pendiri FSIP UI, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) periode 1974-1979 serta mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas Ham) periode 1993-1998 dan Nugroho Wisnumurti, Duta Besar Tetap Indonesia di PBB/Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York City (1992-1997), Wakil Tetap Indonesia untuk PBB dan Organisasi Internasional lainnya di Jenewa, Swiss dari tahun 2000-2004, Duta Besar Indonesia untuk PBB periode 1992-1997, dan pernah juga menjabat sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB (1995-1996).

Poppy sendiri adalah sarjana hukum di jaman Belanda dan lulusan Belanda dan Inggris. Dia terpelajar seperti saudaranya yang lain. Berkarir sebagai sekretaris Sjahrir dan penggagum berat Sjahrir. Hidupnya didedikasikan untuk suaminya. Dia mengatasi kesendirian ditinggal suami dengan menatap wajah suami yang dibentuk dari gips. Gips wajah Sjahrir dibuat di Swiss ketika berobat.

Sjahrir dengan Poppy mempunyai 2 anak (laki dan perempuan) bernama Siti Rabyah (Upik) dan kakaknya Kriya Arsjah Sjahrir (Buyung). Kedua anaknya menyaksikan cinta bundanya pada bapaknya. Luar biasa. Menyentuh. (esh)

See Also

Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Autis Dan UN Habitat
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Cinta Oksitosin Dan Cinta Komitmen
Nasehat Bagi Yang Memutuskan Mempertahankan Pernikahan
Berjudi Mempertaruhkan Kebahagiaan Hidup
Mati Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik
Jadilah Pemenang
Perempuan Jangan Tanggung Meraih Prestasi: Dobraklah
jQuery Slider
Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.952.441 Since: 05.03.13 | 0.1697 sec