Ekonomi

BEM UMK Gelar Diskusi Membangun Kedaulatan Petani

Sunday, 03 April 2016 | View : 801

KUDUS-SBN.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar dialog publik pertanian di Ruang Seminar Lantai IV Gedung Redung Rektorat UMK, Jl. Jepara-Kudus, Gondangmanis, Bae, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (2/4/2016).

Dialog publik bertajuk “Membangun Kedaulatan Petani di NKRI” ini menghadirkan Dr. Suparnyo, S.H., M.S. (Rektor UMK), Handoko Wibowo (aktivis pergerakan sosial dan penerima Yap Thiam Hien Award 2015), dan Kunarto Marzuki (penulis buku “Perlawanan Petani Cikaso” dan analis Badan Narkotika Nasional/BNN) sebagai narasumber.

“Diskusi publik ini kami digelar sebagai bentuk keprihatinan kami para aktivis mahasiswa, di mana Indonesia sebagai negara agraris, namun pertanian semakin ditinggalkan,” ujar Presiden BEM UMK, Jamaluddin.

Handoko Wibowo, aktivis pergerakan dari Omah Tani Batang mengutarakan, serikat petani sangat penting untuk memartabatkan kehidupan petani.

“Kalau akan mau menghidupi petani, yang pertama berikan adalah berlatih berserikat,” ungkap aktivis demokrasi berlatar belakang etnis China.

Itu pula yang ia lakukan di Batang, yakni mengorganisasi petani dalam sebuah serikat petani yang kini dikenal sebagai Omah Tani. “Tahun 1998, saya masuk ke petani, bikin organisasi menyikapi lahan Hak Guna Usaha (HGU). Masyarakat saya sarankan tidak usah membayar atas tanah HGU yang digarap,” ujar pejuang petani dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah sejak 1998 silam tersebut.

Dalam melakukan pendidikan berorganisasi itu, terangnya, masyarakat dididik anti kekerasan, mendidik dengan seni dan budaya. “Namun dalam proses selanjutnya, muncul kesadaran bahwa untuk memperjuangkan lahan (tanah) yang tidak hanya berfungsi ekonomi, harus melalui kekuatan kekuatan politik dan budaya,” kata pendamping petani dari Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) tersebut.

Kekuatan politik itu pun dilakukan dengan mendukung petani menjadi pemimpin desa (Lurah). “Modal untuk mencalonkan petani sebagai kepala desa (Lurah), iuran dari petani-petani lain. Kita merebut tanah HGU tidak akan menang kalau kepala desanya pro pemodal” tegas penerima Yap Thiam Hien Award 2015 itu.

Terkait lahan Hak Guna Usaha (HGU), penerima Yap Thiam Hien Award 2015 ini menyebutkan, adalah lahan yang harus digarap sendiri. “Soal HGU, harus ditinjau ulang, karena banyak lahan yang ditelantarkan. Sebenarnya, aturan soal HGU sudah bagus, hanya saja diranah implementasi, mentah,” papar pengacara itu.

Dr. Suparnyo, S.H., M.S. mengemukakan, bahwa persoalan pertanian di Indonesia, tidak sekadar semakin berkurangnya lahan garapan, tetapi juga Sumber Daya Manusia (SDM) yang semakin berkurang pula. “Ini antara lain yang memicu Indonesia masih sering impor beras, karena belum mampu memenuhi kebutuhan pangan tanah air,” tutur Rektor UMK tersebut.

Harapan ke depan, bagaimana agar soal pertanian ini bisa menarik, sehingga banyak yang tertarik untuk terjun di dunia pertanian. “Perlu daya tarik kenapa seseorang harus bertani. Semoga ke depan petani bisa berdaulat, sehingga pemerintah tidak usah impor beras lagi,” ucapnya.

Rektor juga berharap, para pembuat kebijakan bisa benar-benar membuat kebijakan dengan mempertimbangkan kondisi sosio-kultural secara komprehensif. “Kebijakan yang baik harus mengintegrasikan antara tujuan, nilai-nilai dan praktik yang terarah. Ini harus diperhatikan dalam menyusun kebijakan. Tidak bisa membuat kebijakan hanya dari balik  meja,” tandasnya.

Kunarto Marzuki pada diskusi publik ini memaparkan mengenai konflik petani di Desa Cikaso, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat (Jabar).

“Tahun 2005 saya melakukan riset di Jawa Barat tentang konflik petani lokal di Cikaso. Ada konflik tanah yang dikenal dengan kasus 708, karena konfliknya mengenai tanah seluas 708 hektare,” jelasnya.

Namun menurutnya, masalah tanah, tidak pernah selesai. “Jika belajar pada kasus Cikaso, masyarakat melakukan pengorganisasian diri, jauh sebelum ada reformasi. Mereka melakukan perlawanan-perlawan kultural,” terangnya.

Kesadaran berorganisasi dan berserikat semakin meningkat, lanjut Kunarto Marzuki, ketika ada reformasi. “Pentingnya berorganisasi semakin disadari. Mereka bertani, berkelompok, antara lain forum petani Pasundan, yang menggelar aksi-aksi tidak cuma di Jawa Barat, bahkan sampai Jakarta, hingga akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil,” imbuh dia.

Sementara itu, usai diskusi publik, narasumber dan para peserta diskusi publik menandatangani gerakan dukungan membangun kedaulatan petani di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ini akan kami kirimkkan ke Presiden Republik Indonesia, dengan harapan sektor pertanian dan petani lebih diperhatikan agar lebih bermartabat dan berdaulat,” kata Presiden BEM UMK, Jamaluddin menambahkan.

See Also

Babinsa Pendampingan Nyemprot Tanaman Padi
7,23 Juta Wajib Pajak Yang Sudah Lapor SPT
Koperasi Kodim 0716/Demak Ikuti Pasar Murah
Babinsa Koramil 10/Kradenan Bersama Petani Panen Jagung
Babinsa Koramil 05/Cepu Bantu Petani Bajak Sawah
Persit Ranting 9/Kedungtuban Semangati Suami Tanam Padi
Babinsa Koramil 08/Kedungtuban Monitoring Pendistribusian Pupuk Subsidi
Babinsa Koramil 09/Randublatung Bersama Petani Panen Padi
Danramil 07/Gajah Terus Berupaya Supaya Bulog Membeli Gabah Petani
Babinsa Desa Babat Belajar Mesin Perontok Padi
Koperasi Primer Kodim 0716/Demak Gelar RAT Ke-48
Menteri Pertanian RI Panen Raya Padi Di Blora
Wall Sreet Menguat Jelang Pelantikan Donald Trump
Bukittinggi Targetkan 600 Ribu Wisatawan Pada 2017
Donald Trump Ancam Toyota Motor Corporation
Saham Wall Street Melemah
Vice President Lotte Gantung Diri Di Pohon
Dandim 0716/Demak Hadiri Demak Expo 2016
Kodim 0716/Demak Siap Dukung Sergap Demi Kedaulatan Pangan
Saham Hang Seng Berakhir Lebih Rendah
Dandim 0716/Demak Tinjau Lokasi Panen Yang Akan Dihadiri Mentan RI
21 Trayek Baru Transjakarta Jabodetabek
Menteri Perhubungan Minta Jaminan China Terkait Standar Teknologi KA Cepat
Tangerang Reklamasi Pantai Mutiara Seluas 9.000 Ha
Gubernur DKI Jakarta Ingin Ancol Berkelas Internasional
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.847.154 Since: 05.03.13 | 0.2445 sec