HAM

Polisi Tetapkan 4 Tersangka Eksploitasi Anak Di Blok M

Friday, 25 Maret 2016 | View : 836

JAKARTA-SBN.

Polisi mengungkap fakta baru pada kasus eksploitasi anak di Jakarta Selatan. Polisi terus mendalami kasus eksploitasi terhadap anak di Jakarta Selatan.

Polisi membekuk dua tersangka dan tiga anak yang menjadi korban eksploitasi di Blok M, Jakarta Selatan. Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Selatan (Jaksel) pada Kamis (25/32016), membekuk dua orang tersangka yang menyewakan dan mengeksploitasi anak di bawah umur. Selain menyewakan, para tersangka juga mengekploitasi anak untuk mengamen, mengemis dan joki 3 in 1.

Polisi menduga kuat masih banyak korban maupun pelaku lain dari kasus itu. "Dimungkinkan ada banyak korban lain, makanya kita dalami. Karena kan yang melakukan praktik seperti ini kan bukan satu dua orang," ungkap Kasat Reskrim Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Selatan (Jaksel), Ajun Komisari Besar Polisi (AKBP) Yulius Audie Sonny Latuheru saat dihubungi awak media, Jumat (25/3/2016).

Selain masih banyak korban lain, lanjut mantan Kanit III Subdit Umum Polda Metro Jaya dan Kanit II Jatanras Direktorat Reserse Umum  Polda Metro Jaya itu, AKBP Yulius Audie Sonny Latuheru, polisi juga tengah memburu pelaku-pelaku lain selain dua tersangka yang kini telah ditahan.

"Iya, betul, kita dalami pelaku yang lain lagi," tukas pria kelahiran Merauke, Papua yang sudah terjun sebanyak 1012 kali itu yang juga adalah mantan Kepala Subdit IV Cyber Crime Polda Metro Jaya untuk penanganan masalah kejahatan dunia maya tersebut.

Kedua tersangka pelaku itu adalah I alias Tia alias Mama Wiwit (35) warga Jalan Antasari, Jakarta Selatan dan NH (43) warga Pinang Ranti, Makassar, Jakarta Timur. Dua tersangka berjenis kelamin perempuan itu juga berprofesi sebagai joki 3 in 1.

Setelah menangkap keduanya, polisi kemudian menggelar operasi di wilayah Jakarta Selatan Kamis (24/3/2016) sore tadi.

Tersangka kasus itu kini bertambah menjadi 4 orang. Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan empat orang berinisial IR, MR, ER, dan SM sebagai ersangka perdagangan dan eksploitasi anak setelah mereka memaksa beberapa anak dan bayi menjadi pengemis di Jakarta. "Perkembangan hari ini tersangka jadi 4 orang, korban yang kita dapat ada 4 orang juga," ujar Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H. saat menggelar jumpa pers di kantornya, Jalan Wijaya II No.42, RT02/RW01, Pulo, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat (24/3/2016). "Inisial 4 tersangka, masing-masing adalah IR, MR, ER, SM," bebernya.

Dalam kesempatan itu, hadir juga Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi, Sekjen KPAI Erlinda, perwakilan Kementerian Sosial dan Kementerian PPA, serta dari Asosiasi Psikologi Forensik.

Mantan Kapolres Metro Bekasi tahun 2011 ini, Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H. menjelaskan, penambahan tersangka dan korban itu diperoleh dari 17 anak dan 8 orang dewasa yang terjaring dalam operasi polisi di sejumlah titik di wilayah Jakarta Selatan seperti Blok M dan lainnya.

"Dari hasil pengembangan dan melakukan razia di wilayah Jakarta Selatan polisi menemukan 17 anak dan delapan orang dewasa yang mengamen," tutur Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H.

"Kami tadi sore lakukan operasi di beberapa titik di pertigaan dan perempatan, kemudian kita dapat 17 anak, nanti diinventarisir sama 8 orang dewasa, sedang diinventarisir," ucapnya.

"Anak itu usia 5 sampai 6 tahun. Kesehariannya dipaksa untuk mengamen, mengemis," kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H.

Satu anak disewakan hingga ratusan ribu per hari. Para tersangka memiliki modus menyewakan anak-anak untuk dibawa mengemis dengan harga sewa anak Rp 200 ribu per hari.

Mantan Kasgatwil Jabar Den 88 tersebut, Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H. menjelaskan, para korban disewakan dengan harga Rp 200 ribu per hari. "Dalam satu hari, satu anak Rp 200 ribu," kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H. saat menggelar jumpa pers di kantornya, Jalan Wijaya II No.42, RT02/RW01, Pulo, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan (Jaksel), Kamis (24/3/2016).

Selain menyewakan, para tersangka juga mengekploitasi anak untuk mengamen. Selain itu, mereka juga dipaksa mengemis dan jadi joki 3 in 1. Para pelaku juga menyiksa anak jika tak mau mau menuruti kemauan pelaku.

Menurut Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H., anak-anak ini harus mengalami kekerasan jika tidak menuruti kehendak para tersangka menjadi pengemis. "Apabila tidak mengikuti perintah, maka dipukul, digaplok," ujarnya.

Bayi berusia 6 bulan menjadi salah satu korban eksploitasi dengan dibawa saat mengemis. Bayi berusia 6 bulan berinisial B menjadi korban eksploitasi anak di Jakarta Selatan. "Dengan korban empat orang anak, yang paling kecil seorang bayi berumur enam bulan," kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombespol Wahyu Hadiningrat di Jakarta, Jumat (25/3/2016). "Dari pendataan dan pemeriksaan didapat 1 korban bayi usia 6 bulan," tambah Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H. saat menggelar jumpa pers di kantornya, Jalan Wijaya II No.42, RT02/RW01, Pulo, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat (25/3/2016).

Mantan Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H. menjelaskan, bayi berinisial B itu merupakan hasil operasi yang dilakukan polisi Kamis (24/3/2016) sore kemarin. 17 anak dan 8 orang dewasa terjaring dalam operasi itu.

Bayi itu dibawa oleh dua orang (laki-laki dan perempuan) yang mengaku pasangan yakni IR dan MR. IR dan MR mengaku pasangan suami istri, namun tidak memiliki surat nikah. Keduanya juga telah ditetapkan sebagai tersangka.

"Saat ini masih didalami apakah anak ini adalah anak orang yang ditetapkan jadi tersangka. Tersangka terakhir adalah pasangan, tapi tak ada surat nikah dan ada bayi. Ini perlu kita pastikan dulu," lanjutnya.

Pelaku memberi B obat penenang agar tidak rewel saat dibawa mengemis. "1 korban bayi usia 6 bulan di mana pada saat praktik di jalan oleh orang yang membawa itu diberi obat penenang supaya dia tenang," kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H. saat menggelar jumpa pers di kantornya, Jalan Wijaya II No.42, RT02/RW01, Pulo, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat (25/3/2016). "Bayi yang berumur enam bulan tersebut saat dibawa pengemis sebelumnya diberi obat penenang di mana satu obat penenang digunakan untuk dua hari. Satu hari diberi dua kali,  pagi dan siang, biar tidak rewel anaknya," terang Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H.

"Obat penenang supaya tenang sehingga enggak rewel saat melakukan pekerjaannya," imbuhnya.

"Bayi itu dibawa oleh pasangan yang tidak bisa menunjukkan surat nikah. Obat penenang itu adalah Riklona Clonazepam," sebut Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H.

"Obat itu (satu butir) dibagi 4, dikasih pagi dan sore. Jadi 1 butir untuk 2 hari," ujar dia.

"Bayi itu di RSPP sekarang dalam pemeriksaan kesehatan dan selanjutnya akan diambil alih Dinsos," sambung Kapolres.

Sementara itu, tentang tiga anak lainnya, dua anak kini berada di Rumah Anak Dinsos di Bambu Apus, Jakarta Timur. Sedangkan satu anak sudah dikembalikan ke orangtuanya. Satu dari empat anak umur 5-6 tahun yang ditemukan itu sudah dipulangkan kepada orang tuanya, dua anak ditaruh di rumah aman di Bambu Apus, dan satu bayi umur enam bulan masih dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.

17 anak dan 8 orang dewasa dibawa ke Mapolres Jakarta Selatan untuk didalami dan didata. Para anak itu diduga juga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Akibat perbuatannya, polisi menjerat para tersangka dengan dua pasal yakni Undang-undang Pasal 2 Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun.

"Kami masih kembangkan kasus ini bagaimana jaringannya. Nanti kita sampaikan kalau ada perkembangan," tandas Kombes Pol. Drs. Wahyu Hadiningrat, S.I.K., M.H.

Seorang bayi usia 6 bulan berinisial B diberi obat bernama Riklona atau Clonazepam oleh pelaku eksploitasi anak, agar tak rewel saat dibawa mengemis.

"Obat yang dipergunakan adalah obat penenang yang menurunkan fungsi syarat dan gerakan anak. Itu obat dosis tinggi dan tak boleh dipergunakan sembarangan," kata Psikolog Klinis dari Asosiasi psikologi forensik, Kasandra Putranto, dalam jumpa pers di Mapolres Jakarta Selatan, Jalan Wijaya II No.42, RT02/RW01, Pulo, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan (Jaksel), Jumat (24/3/2016).

Kasandra Putranto mengatakan, semua jenis obat psikiatri merupakan obat keras dan harus seizin dokter. Obat tersebut menurutnya juga tak dijual bebas di apotek.

"Obat keras, semua obat psikiatri itu termasuk obat keras, ini obat psikiatri, dokter umum saja nggak boleh (mengeluarkan obat ini). Seharusnya di apotek juga nggak ada," sambungnya.

Kasandra Putranto menjelaskan, Clonazepam terbagi menjadi dua kategori, yakni generik dan non generik. Dua-duanya tidak boleh dijual umum dan harus pakai resep dokter.

"Jadi pertanyaannya, orang ini (pelaku) dapat dari mana, berarti ada jaringan lain yang harus diungkap polisi," sambungnya.

Ditambahkannya, obat itu biasanya digunakan untuk penanganan orang-orang yang punya gangguan berpikir, yang terlalu giat berpikir, orang-orang yang cemas dan paranoid. Lalu, apa efeknya jika obat itu diberikan ke bayi berusia 6 bulan?

"Yang paling cepat itu adalah lambung yang kena, kemudian sarafnya menjadi lambat, bayi itu jadi lemas," ucapnya.

Bahkan obat itu juga memiliki efek samping jika dikonsumsi oleh orang dewasa yang tidak mengidap paranoid atau pun gangguan lainnya.

"Letoy, matanya akan mengalami gangguan," tutupnya sambil memeragakan efek obat ke mata.

Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda memuji langkah Kapolres Jakarta Selatan yang berhasil mengungkap jaringan perdagangan dan eksploitasi anak.

"Apabila terbukti dari hasil verifikasi jika ditemukan anak-anak dieksploitasi secara ekonomi, agar ditindak tegas," kata Erlinda.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengapresiasi jajaran Polres Jakarta Selatan yang mengungkap kasus eksploitasi dan menyewakan anak di bawah umur. Polisi diminta menindak tegas pelaku.

"Ini pelanggaran hak anak yang harus diitindak tegas," tegas Dewan Pembina Komnas PA Seto Mulyadi di dalam perbincangan di Jakarta, Jumat (25/3/2016).

Seto Mulyadi menambahkan, pihaknya mengimbau masyarakat untuk peduli dan bisa melapor kepada kepolisian jika melihat kasus eksploitasi anak. Hal itu sebagai upaya untuk mencegah anak dari praktik eksploitas yang sudah banyak memakan korban.

"Dalam UU perlindungan anak ditegaskan, siapapun mengetahui ada tindak kekerasan terhadap anak diam saja, tak berusaha menolong atau melapor polisi sanksi pidana 5 tahun penjara. Mudah-mudahan ini menggerakkan hati masyarakat untuk berani melapor," bilang Seto Mulyadi.

Sebab, lanjut Seto Mulyadi, praktik eksploitasi memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak yang menjadi korban. Bahkan, korban bisa berpotensi menjadi pelaku kriminal di masa mendatang.

"Anak akan terganggu kemampuan berpikir, potensinya dan yang terjadi berbalik akan muncul perilaku agresif, ini bisa jadi calon kriminal di masa mendatang," ucapnya.

"Korban kekerasan biasa akan beberapa di antaranya menjadi pelaku kekerasan, selain juga berkurang potensi seorang anak " tutupnya.

See Also

Ridwan Kamil Tegaskan Organisasi Massa Dilarang Halangi Dan Hambat Ibadah
Ridwan Kamil Minta Maaf Soal Penghentian KKR Natal Stephen Tong
Menteri Agama Sayangkan Penghentian KKR Natal Stephen Tong Di Bandung
Teror Bom Di Gereja Katolik Medan
Tempat Ibadah Klenteng Harus Tertib Administrasi
Rumah Ibadah Tak Punya IMB, Bukan Alasan Untuk Dibakar
Ormas Islam Bekasi Tolak Pembangunan Gereja Katolik Santa Clara
Ormas Islam Protes Perayaan Paskah Digelar Di Stadion
Pemkot Bekasi Relokasi Jemaat Gereja Beribadat Di Kuburan
Wali Kota Bogor Tegaskan Tidak Ada Pembongkaran Gereja GKI Yasmin
Qaraqosh Kota Kristen Terbesar Irak Dikuasai ISIS
ISIS Singkirkan Salib Dan Bakar Ribuan Manuskrip Kuno
Menteri Agama Sebut Ideologi ISIS Berlawanan Dengan Pancasila
HMI Sebut WNI Pendukung ISIS Adalah Pengkhianat Bangsa
Menteri Agama Minta Muslim Indonesia Tak Terpengaruh ISIS
Lukman Hakim Saifuddin Tak Resmikan Bahai Sebagai Agama
Televisi Lebanon Pakai Huruf Nun Demi Solidaritas Warga Kristen Irak
Militan ISIS Ledakkan Makam Nabi Yunus
Pemerintah Kaji Agama Baru Bahai
Militan ISIS Di Irak Bakar Gereja Berusia 1.800 Tahun Di Mosul
Milisi ISIS Kuasai Gereja Tertua Di Irak
Diultimatum ISIS, Warga Kristen Irak Dipaksa Masuk Islam Atau Dibunuh
Bupati Wonosobo Kritisi Kemenag Soal Kebebasan Beragama
Kapolri Larang Ibadah Di Rumah
Tujuh Gereja Di Cianjur Diancam Ditutup Paksa
jQuery Slider

Comments

Arsip :2016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.165.911 Since: 05.03.13 | 0.1918 sec