Redaksi

Wisata Darat Di Tomia Wakatobi

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Friday, 25 Maret 2016 | View : 548

SBN.

Wakatobi menjadi obyek wisata yang mendunia berkat para jiwa entrepreneur pemerintah maupun swasta. Materi dasarnya dasyat banget. Hanya tinggal siapa yang mau bertindak sebagai pionir untuk mengubah kedasyatan yang ada menjadi layak dikunjungi. Dalam waktu singkat Wakatobi telah berbenah sehingga bisa dikunjungi oleh berbagai jenis wisatawan (darat berupa budaya, alam, makanan maupun wisata bawah berupa berbagai jenis terumbu karang dan ikan).

Wisatawan tanpa persiapan seperti saya bisa bergembira luar biasa, saya kira salah satu faktor penyebabnya adalah lokasinya sudah bisa terima orang seperti saya yang condong “borjuis” untuk makanan dan tempat tidur. Jadi siapa saja yang mau ke Wakatobi bisa dipenuhi kebutuhannya. Memang yang dipromosikan adalah wisata bawah laut yang paling top di dunia.

Hari kedua di Tomia dengan berkendaraan sepeda motor yang dikendarai oleh Supriyono (mantan guru SD orang Buton. Dinamai Supriyono karena orangtuanya mengagumi orang Jawa). Obyek wisata yang saya kunjungi adalah Resort Onemobaa yang dikelola oleh Orang Swiss dan istrinya orang Toraja. Lalu kami pergi ke benteng Patua.

Resort berada di Pulau Tolandono di desa Lamanggu. Untuk ke tempat ini naik perahu sebentar. Desa orang Bajo. Ada SD dan SMP . Pulau Tomia dekat sekali dengan 5 pulau kecil lainnya. Yang berpenghuni hanya Tolandono dan Rundumah. Rundumah adalah pulau dengan banyak penyu.

Untuk bisa ke resort harus ijin ke pemilik. Supriyono mengenal salah satu pengawai di sana. Melalui pegawai itulah kami bisa mendapatkan akses masuk ke resortnya. Resort dengan pengelolaan yang sungguh baik. Ada dermaga dengan air bening berwarna hijau. Kami ke dermaga ini. Di sana ada banyak ikan warna warni yang bisa dilihat mata telanjang. Sayang saya tidak membawa roti sebagai pemancing. Di tempat ini saya kira sering dijadikan tempat duduk santai sambil makan. Sungguh sempurna berada di sana di saat sinar matahari tidak lagi terik. Lokasi ini adalah spot untuk masuk ke dalam laut bagi yang mau melakukan diving dan snorkeling. Juga tempat ideal untuk berenang.

Saya tidak lama di sana lalu beranjak menuju ke benteng Patua. Benteng Patua didirikan oleh kerajaan Buton. Sudah tidak ada lagi bangunan. Terletak di atas tanah berkarang dan terletak di puncak sehingga bisa melihat Tomia dari ketinggian. Sebelum masuk ke benteng ada pelataran yang sekarang digunakan untuk melakukan event budaya. Sering digunakan untuk sholat Idulfitri maupun Adha.

Salah satu monumen kebesaran kerajaan Buton adalah benteng ini. Oleh Pak Oki geolog yang melakukan inventarisasi alam Indonesia yang berada di Tomia dalam waktu yang bersamaan dengan saya, dikatakan bahwa Patua adalah salah satu megalitik/budaya pra sejarah yang ada di Tomia. Oleh penduduk lokal dinamakan benteng. Bagaimana kebenarannya, ya harus dicari. Yang jelas lokasi ini meninggalkan jejak penting
peradaban yang ada di Tomia. Di tempat ini saya menjumpai jenis laba-laba unik dengan garis lurus putih.

Mengapa saya mengatakan lokasi ini penting. Bapak Supriyono sering membawa dia ketika kecil dengan cerita tentang kebesaran kerajaan Buton dan bagaimana agama Islam disebarkan oleh orang Buton ini.

Target mengunjungi wisata darat di Tomia tercapai. Hari masih tersisa. Lalu saya baca brosur tentang wisata bawah laut. Timbullah keinginan untuk mencicipi wisata bawah laut. Di Tomia terkenal dengan site Marimabuk. Bagi yang tidak bisa berenang, tidak pernah diving maupun snorkeling dimungkinkan untuk melihat taman laut. Ikuti saja petunjuk instrukturnya. Saya pernah melakukan sekali di Bunaken Menado.

Lalu saya menghubungi dokter PTT yang punya pekerjaan sampingan sebagai pendamping diving dan snorkeling agar bisa bergabung dengan timnya. Sekalipun hanya perlu waktu setengah jam dengan biaya Rp 600.000,- untuk orang awam sama sekali seperti saya, nampaknya keberuntungan tidak berpihak pada saya. Rombongan sudah berada di laut dari pagi. Saya tidak bisa melihat taman laut Tomia. Hal ini tidak tercapai karena keinginan yang timbul mendadak yang tidak keluar dari hati terdalam saya. Yang pada dasarnya menghindari terik matahari. Takut cepat keriput. He he he.

Malamnya keinginan melihat taman laut terobati oleh gambar foto maupun vidio yang berhasil direkam oleh rombongan Jakarta. Salah satu dari mereka merekam mutiara hitam yang besar. Ketika saya tanya:”Mengapa tidak diambil?. Nampaknya ada larangan mengambil sesuatu dari sana. Baguslah. (esh)

See Also

Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
Kolaborasi Masyarakat Sipil Dengan Kota Surabaya Untuk Anak
Pernikahan Anak Sartiah Yusran Di Kendari Dan Menulis Tentang Suami Yang Luar Biasa
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.113.732 Since: 05.03.13 | 0.2169 sec