Redaksi

Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Wednesday, 23 Maret 2016 | View : 862

SBN.

Sebelum mengenal Mbak Sartiah, kota Kendari di luar peta kognisi saya. Sepertinya tidak ada daya tarik apa-apa. Ini terjadi karena Kendari barangkali kurang masuk media massa. Lalu saya bertekat suatu ketika mengunjungi Kendari. Pernikahan putri sulung Mbak Sartiah membuka jalan saya bisa ke Kendari.

Terkait dengan wisata saya sama sekali tidak melakukan persiapan apa-apa. Merespon in put spontan orang yang mengetahui kalau saya mau ke Kendari. Wakatobi masuk dalam hitungan dua hari sebelum berangkat karena in put teman. Buka google untuk lihat Wakatobi, woo begitu banyak pemandangan laut yang luar biasa. Lalu Wakatobi menjadi target utama. Kendari dan daerah sekitar adalah obyek wisata laut yang layak dikunjungi. Sungguh istimewa. Begitu banyaknya site maka harus memilih mana yang akan dikunjungi.

Soal makanan, kalau ke Kendari fokus saja makanan laut. Segar dan aneka jenis. Ikan ini biasa dicampur dengan bahan baku non beras. Pangan lokal Sikkato berbahan non beras yakni Sinonggi berbahan baku sagu, kasuami berbahan baku singkong, kambose berbahan baku jagung dan Kabuto berbahan baku ubi kayu. Selain itu Kendari terkenal dengan mentenya. Ada aneka jajan mente. Bahkan mereka memproduksi coklat mente sendiri. Mente menjadi makanan favorit untuk oleh-oleh.

Masuami dan Kambose telah saya coba di Tomia Wakatobi sedangkan Sinonggi (bahan baku sagu) saya makan di Kendari. Saya dibawa oleh sopir taksi ke warung pinggir sungai di jalan Amtero Hamra di Kompleks Pasar Bunga. Ada dua jenis Sinonggi yakni Pallumara atau Tawaoloho (sayuran atau ikan). Tangan sopir bernama Anto sangat trampil mengambil sagu dengan bambu seperti sumpit. Nampaknya menjadi ahli mengolah dan makan Sinonggi perlu waktu. Suatu ketika nanti saya mau belajar mengolahnya. Sungguh lezat sinonggi. Sagu panas dengan kuah sayur dan ikan dengan rasa kecut jeruk nipis dan sambel. Aduh nikmatnya.

Soal Suku, ternyata Kendari dihuni oleh berbagai suku seperti Bugis, Buton, Jawa, Mona, Tolaki. Pada awalnya terbanyak dihuni suku Tolaki. Mereka menyingkir ke pinggir. Katanya suku Tolaki perawakan dan wajahnya mirip orang Jepang. Perempuan Tolaki terkenal putih, mungil dan cantik. Ternyata begitu banyak suku di sana. Dulu tiap daerah dihuni oleh suku tertentu seperti Tolaki, Mona, Wawoni, Kabaina, Bombana. Kata Anto sopir bandara yang antar saya bahwa suku-suku itu tidak pernah ribut.

Nampaknya rasa kesukuan mereka tidak terlalu kental. Anto orang Kolaki tetapi dia mengkritik gubernurnya yang sesuku sebagai gubernur yang tidak mencetak prestasi. Dia puji gubernur terdahulu yang bersuku Buton sebagai pembangun Kendari antara lain membangun tugu persatuan ketika MTQ berlangsung tahun 2006. Ini bangunan tertinggi mirip Monas. Seharusnya bisa berfungsi seperti Monas: tempat berkumpul orang dengan segala kegiatan rekreatif. Namun sayang bangunan ini terlantar dan nampak dari jauh ada vandalisme di situ. Gubernur pengganti Ali Mazi yakni Nur Alam tidak melanjutkan pembangunan tugu persatuan ini.

Ternyata pantai di Sulawesi tipenya sama. Banyak kota berada di pinggir pantai. Yang menarik dari Kendari adalah pantai membentang sepanjang teluk (hampir membulat). Airnya tenang dan menarik untuk tempat bercengkrama. Di pinggirnya banyak cafe dan restoran. Rencana saya mau ke pantai Nambo sebelum ke airport. Tidak kesampaian karena waktunya tidak nutut.

Kain tradisional di Kendari dan sekitar bercorak sederhana. Seperti corak batik dulu sebagai penanda identitas seseorang. Orang Tolaki menggunakan warna merah dan orang Mona berwarna Kuning. Corak kain Buton juga sederhana: ada yang berkilat dengan corak garis saja dan ada garis berkilat dengan aneka warna. Katanya Kendari punya tambang Mas dan Nikel. Mas produksinya terkenal mutunya.

Kendari dan sekitar berpotensi besar menjadi obyek wisata internasional karena taman lautnya berserakan di mana-mana. Kota Kendari sendiri sepertinya belum memikirkan untuk mengembangkan kotanya sebagai daerah transit menuju ke Wakatobi. Ini nampak dari pelayanan hotel belum berorientasi pelayanan standar hotel yang ada. Ketika saya naik taksi dari Kendari ke bandara, argo baru dinyalakan di tengah jalan. Dalam waktu sepuluh menit angka yang tertera sebesar Rp 115.000,-. Ketika saya tanya orang di bandara berapa harga taksi dari kota ke bandara. Orang yang saya tanya menjawab sekitar Rp 120.000,-. Harga relatif sama namun dengan cara mendapatkannya yang memberi kesan menipu tentu efeknya ke kepuasan penumpang berbeda.

Mempersiapkan penduduk untuk menjadi bagian dari tourisme yang dikembangkan penting sekali. Manusia akan menjadi faktor penentu kemajuan tourisme yang dikembangkan. Kemajuan yang berhasil dicapai seharusnya bisa dinikmati seluruh penduduk yang ada. Semoga Kementerian Pariwisata memiliki misi yang jauh sehingga Indonesia nanti bisa hidup dari tourisme dengan aman, nyaman dan sejahtera nantinya. (esh).

See Also

Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Kolaborasi Masyarakat Sipil Dengan Kota Surabaya Untuk Anak
Pernikahan Anak Sartiah Yusran Di Kendari Dan Menulis Tentang Suami Yang Luar Biasa
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.113.836 Since: 05.03.13 | 0.464 sec