Opini

Perempuan Jangan Tanggung Meraih Prestasi: Dobraklah

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Wednesday, 23 Maret 2016 | View : 283

SBN.

Saya lagi mau meluncurkan misi saya terkait dengan perempuan. Lalu ada satu kata yang selalu muncul di pikiran saya yakni “glass ceiling”. Konsep ini ditemukan oleh Gay Bryant di artikelnya di Adweek tahun 1984. Lalu istilah ini menjadi begitu terkenal di Amerika Serikat dan ditanggapi serius oleh Kementerian Tenaga Kerja AS dengan membentuk suatu badan kajian pada tahun 1991.

Glass ceiling adalah metafora yang melukiskan kendala bagi wanita dalam berkarier : dia boleh menapak anak tangga sambil memandang setinggi-tingginya, tetapi baru sampai di plafon (ceiling) sudah terhambat oleh dinding kaca. Dia bisa melihat menembus langit-langit kaca itu, tapi tak mungkin mencapai tempat yang tinggi itu (mengutip dari Gustaaf Kusno-Kompasiana).

Istilah ini kemudian menuntun saya untuk melakukan refleksi. Secara sosiologi pola yang ada adalah anak perempuan selalu lebih berprestasi ketika kecil. Setelah menginjak remaja dan pemuda prestasinya menurun. Kemudian posisi diambil oleh laki-laki. Penjelasan fenomena ini berbasis biologi atau psikologi atau spiritual?

Sebelum ada penelitian lebih lanjut maka saya akan berargumentasi. Prestasi perempuan menurun setelah mengenal laki-laki. Saat itulah perempuan masuk ke dalam dunia hati dengan tanpa sadar mempersiapkan diri untuk menjadi perawat/pemeliharaan keluarga dan pendamping laki-laki. Karena itu sadar atau tidak sadar barangkali anak perempuan kemudian merem dirinya sendiri untuk tidak berambisi menjadi nomer satu. Mereka masuk ke dunia baru yang memang tidak logis tetapi menentukan peradaban. Sedangkan anak laki-laki masuk ke dalam dunia logika/rasio dengan sadar bahwa dia akan menjadi kepala keluarga dan pelindung perempuan.

Proses ini lebih dikendalikan oleh sosial dan budaya dengan agen pendidikan seperti orangtua, pemuka agama dan guru di sekolah sebagai pelaku utama. Memang mereka membuat rem untuk perempuan agar tidak meninggalkan dunia domestik dan tetap melakukan pekerjaan utamanya di bidang pemeliharaan rumah dan keluarga.

Itulah mengapa perempuan pada umumnya tidak bisa meraih prestasi tertinggi. Dunia publik dengan prestasi-prestasi yang mendapat harga bukan milik perempuan. Nah ini yang mau saya katakan bahwa ketika perempuan masuk ke dalam dunia yang sah dan direstui secara sosial dan budaya termasuk agama, pertanyaannya mengapa prestasinya juga tanggung.

Banyak muncul ketidakpuasan, keluhan dan merasa salah pilih. Hasilnya apa yang dilakukan tidak menghasilkan prestasi maksimal. Inilah mengapa saya berkampanye bahwa JANGAN TANGGUNG JADI PEREMPUAN. Kalau mau berprestasi di dunia publik dobraklah ceiling yang diciptakan oleh sosial, budaya dan agama. Namun kalau sudah memutuskan berkarier di dunia domestik maka dobraklah ceiling yang diciptakan oleh diri sendiri.

Apapun pilihan perempuan tetap harus mendobrak ceiling tersebut. Jangan tanggung meraih prestasi. Dengan ditemukannya bahwa ada begitu banyak kecerdasan. Kecerdasan fisik maka akan menonjol di bidang olah raga. Kecerdasan kognitif maka akan menonjol di bidang prestasi akademik. Kecerdasan emosi maka akan menonjol dalam hubungan antar manusia. Kecerdasan hati maka akan menonjol di bidang kebijaksanaan. Kecerdasan kemauan maka akan menonjol di bidang tekat. Menurut saya Mahatma Gandhi jenius di bidang tekat. Dan masih banyak lagi.

Jadi kita jangan masuk dan atau memasukkan anak ke dalam gerombolan besar ide untuk meraih yang terbaik. Begitu banyak tempat kosong yang bisa diisi dengan kesempatan mengembangkan diri semaksimal mungkin. Ingat saja laju pertambahan penduduk. Begitu banyak manusia yang ada di dunia sehingga logika pengaturannya tidak bisa pakai logika jaman sebelum penduduk meledak seperti sekarang ini.

Doakan saya berhasil mendorong perempuan termasuk perempuan yang menjadi ibu untuk memiliki misi. Perempuan bisa berhasil meraih yang terbaik untuk dirinya dan dunianya. Yang terbaik adalah hak setiap orang yang meraihnya segenap hati, usaha dan tindakan. (esh)

See Also

Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Autis Dan UN Habitat
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Sjahrir Dan Kisah Cintanya
Cinta Oksitosin Dan Cinta Komitmen
Nasehat Bagi Yang Memutuskan Mempertahankan Pernikahan
Berjudi Mempertaruhkan Kebahagiaan Hidup
Mati Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik
Jadilah Pemenang
jQuery Slider
Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.835.853 Since: 05.03.13 | 0.3143 sec