Redaksi

Pernikahan Anak Sartiah Yusran Di Kendari Dan Menulis Tentang Suami Yang Luar Biasa

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Saturday, 12 Maret 2016 | View : 4669

SBN.

Pernikahan anak pertama Mbak Sartiahlah memungkinkan saya ke Kendari Sulawesi Tenggara dan sekitarnya. Mbak Sartiah Yusran mau menikahkan anak pertamanya di Kendari. Perempuan luar biasa menikah dengan laki-laki luar biasa. Sartiah Yusran dan saya kenal ketika kami diutus INFID mewakili masyarakat sipil untuk status perempuan terkait dengan isu caregiver HIV di Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kami tinggal bersama kurang lebih 2 minggu minggu di New York dekat kantor PBB. Setiap hari sibuk diskusi lalu menulis hingga larut malam untuk diusulkan dan dipresentasikan di sidang umumnya. Selain itu kami masih harus berlobi ria. Situasi yang menegangkan. Kami sekamar dengan harga hotel yang begitu mahal (sehari beberapa ratus dollar) karena memang hotel dekat kantor PBB tidak ada yang murah. Barangkali itu bukan hotel bintang 5 meskipun fasilitas dan tempatnya begitu nyaman. Kalau tidak salah saat itu menjelang atau sesudah musim dingin.

Akhirnya pekerjaan kami selesai dan membuahkan hasil karena apa yang kami pikir dan usulkan masuk ke dalam draft yang ada. Dari Indonesia kami bertiga dengan Butar-Butar dari Papua. Kami merayakan keberhasilan pekerjaan dengan khusus menyediakan dua hari jalan-jalan di New York. Ternyata sistem pariwisawa New York begitu keren. Kami membeli paket tiket masuk beberapa daerah wisata (jumlahnya ada puluhan). Waktu harus diatur sedemikian rupa agar semuanya bisa didatangi. Lari dari satu tempat ke tempat lain dengan taksi maupun transportasi umum lainnya.

Akhirnya niat untuk mendatangi patung Liberty yang begitu saya sukai kesampaian. Perempuan dengan bawa obor dan menjadi simbol kebebasan dan kota New York. Saya suka sekali melihat patung ini. Kedatangan pertama saya ke New York untuk urusan yang sama yakni perwakilan Masyarakat Sipil untuk PBB namun bukan bagian status perempuan tetapi HIV-AIDS, tidak memungkinkan saya ke patung Liberty. Malah saya pulang duluan karena harus menjadi konsultan di Bali. Saat itu saya begitu sedih tidak bisa melihat patung Liberty. Akhirnya harapan saya terkabul di moment yang begitu sempurna.

Saya, Mbak Sartiah Yusran, dan Butar-Butar sempat foto bersama patung dari Barack Hussein Obama II di Madame Tussaud. New York meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Salah satu moment terbaik hidup saya.

Lalu saya dengan Mbak Sartiah Yusran tetap berhubungan karena kami berdua peduli dengan urusan perempuan. Disertasi dia dari Australia tentang pendidikan seksualitas remaja. Perempuan yang asertif dan mendapat suami yang luar biasa. Karena itu Mbak Sartiah Yusran merencanakan bersama Mbak Prof. Dr. Hj. Siti Musdah Mulia, M.A., Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Sekretaris Jenderal ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) adalah perempuan luar biasa lainnya untuk menulis tentang suami mereka.

Sungguh saya begitu bergairah mendengar rencana mereka kemarin. Menulis tentang laki-laki hebat yang bisa rasional, logis dan mencintai istri dan anak begitu penting untuk Indonesia yang banyak memiliki laki-laki yang irasional dan orientasinya mempertahankan kekuasaan yang diberikan agama dan budaya. Bisa-bisa agama menjadi kehilangan pengikutnya gara-gara orang yang tidak bisa melihat dan mendapatkan esensi agama yang harusnya berorientasi pada kebenaran dan keadilan.

Hari Rabu setengah hari lebih saya bersama Mbak Sartiah Yusran yang begitu sibuk mengurus pernikahan putri pertamanya. Saya menjadi mengerti betapa ribetnya mengurus pernikahan di daerah seperti Kendari. Juga saya merasa tersanjung ditemani terus dan bisa berkunjung ke rumah. Bertemu ibu-ibu yang membantu menyukseskan pernikahan di segi konsumsi. Saya jadi teringat masa kecil. Suasananya sama seperti jaman saya kecil dulu ketika keluarga dan kenalan menikah. Sekarang saya suka sekali melihat perkumpulan perempuan ini. Dulu saya menghindar kalau harus diletakkan di bagian dapur. Mau namun hati tidak tenang. Teringatlah tugas saya mengiris bawang merah yang membuat mata saya berair.

Lebih terharu lagi karena Mbak Sartiah Yusran menitikkan air matanya menyambut kedatangan saya. Air mata untuk kawan sesekali dalam pertemuan dalam perjalanan hidup. Saya merasa senang bersama kesenangan keluarganya karena kami pernah bersama berbuat hal yang baik dan menyenangkan bersama. Selamat Mbak Sartiah Yusran. Semoga lancar dan sukses malam ini. Pengalaman yang luar biasa. (esh)

See Also

Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
Kolaborasi Masyarakat Sipil Dengan Kota Surabaya Untuk Anak
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.113.740 Since: 05.03.13 | 0.1748 sec