Hukum

Gelar Perkara Kasus Pembunuhan Mirna Dibatalkan

Wednesday, 09 Maret 2016 | View : 10900

JAKARTA-SBN.

Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta dikabarkan mengembalikan berkas perkara Jessica Kumala Wongso (27 tahun) kepada Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H. membenarkan kabar tersebut.

Menurut mantan Kapolres Jakarta Utara pada tahun 2012 itu, Kombes Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H. berkas tersebut dikembalikan karena dinilai belum lengkap. Namun, mantan WaKapolresta Dumai Polda Riau pada tahun 2003 itu, Kombes Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H. menuturkan tak ada yang perlu dikhawatirkan terkait pengembalian berkas tersebut.

Mantan Kapolres Sidoarjo pada tahun 2009 itu, Kombes Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H. menjelaskan bahwa kejadian semacam itu sudah biasa terjadi. "Itu biasa buat kami," papar mantan Koorspri Kapolda Riau pada tahun 2004 tersebut, Kombes Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H. di Mapolda Metro Jaya, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 55, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (25/2/2016).

Saat ini kepolisian mengaku tengah fokus untuk melengkapi berkas itu.

Mantan WaKapolwiltabes Surabaya pada tahun 2010 itu, Kombes Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H. mengungkapkan pihaknya akan berusaha untuk segera memenuhi kekurangan sehingga bisa diajukan kembali.

"Berkas J tentu kami akan terima, dikembalikan itu tentu dengan petunjuk," beber mantan Kapolres Gresik (Jatim) pada tahun 2008 ini, Kombes Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H.

"Kami akan penuhi petunjuk itu dan kekurangannya. Kemudian teman-teman JPU pasti akan memeriksa lagi, kalau ada yang kurang dikembalikan," tambah mantan Kasat Lantas Polwiltabes Surabaya pada tahun 2007 tersebut.

Namun, saat ditanya apa kekurangan yang diminta oleh Kejaksaan Tinggi, mantan Koorspri Kapolda Jatim pada tahun 2005 itu, Kombes Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H. memilih bungkam. "Nggak bisa, itu materi," tandas mantan Kapala SPN Polda Metro Jaya pada tahun 2011 tersebut.

Sebelumnya, mantan Guru Muda I Pusdik Lantas Polri Serpong, Tangerang pada tahun 1996 itu menerangkan BAP sedang dalam penyempurnaan oleh penyidik dan secepatnya dilimpahkan ke JPU.

"Penyidik masih penguatan komprehensif alat bukti agar bisa meyakinkan JPU tentang analisis kami sehingga tidak perlu bolak balik. Kalau hasilnya P-19 (berkas belum sempurna), kami terima untuk perbaikan," pungkas Kombes Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H.

Jaksa peneliti di Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menyatakan bahwa hasil penyidikan polisi terhadap tersangka Jessica Kumala Wongso (27) belum lengkap. Maka, Jaksa akan mengembalikan berkas perkara pembunuhan Wayan Mirna Salihin itu ke polisi.

Kepala Humas Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Waluyo, mengatakan, Jaksa peneliti sudah menerbitkan formulir P-18 terkait berkas Jessica Kumala Wongso yang dikirim polisi ke Kejati DKI Jakarta. "Sudah P-18, hasil penyelidikan belum lengkap," kata Waluyo ketika dihubungi awak media, Kamis (25/2/2016).

Dengan terbitnya formulir P-18, selanjutnya Jaksa akan membuat formulir P-19 dan mengirimkan kembali berkas ke penyidik polisi untuk dilengkapi.

Sebelumnya, Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Sudung Situmorang menegaskan bahwa pihaknya tak akan memproses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) apabila polisi belum bisa menunjukkan minimal 2 alat bukti.

Pengembalian berkas ini bisa diartikan polisi belum memiliki 2 alat bukti yang diinginkan Jaksa.

Menurut Sudung Situmorang, kepolisian berencana menjerat tersangka dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Maka penyidik pun harus mampu menjelaskan di mana unsur perencanaan, sesuai pasal pidana yang akan diterapkan.

Belum lagi, sejauh ini penyidik belum memperoleh bukti materiil tentang perjalanan racun sianida yang menjadi alat pembunuh Wayan Mirna Salihin serta siapa pemiliknya.

Sebelum pada akhirnya menyatakan berkas belum lengkap, Jaksa peneliti telah memeriksa berkas Jessica Kumala Wongso selama 6 hari. Berkas itu diserahkan oleh penyidik polisi ke Jaksa peneliti pada Jumat (19/2/2016) lalu.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta Sudung Situmorang menegaskan pihaknya tidak akan memproses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, 27 tahun, apabila penyidik kepolisian ternyata tidak mampu menunjukan minimal dua alat bukti.

"Untuk apa kita terima BAP itu kalau sekurangnya dua alat bukti tidak ada. Kita tunggu saja apakah permintaan alat bukti yang diminta jaksa dapat dipenuhi atau tidak," kata Sudung Situmorang, Jumat (19/2/2016) malam.

Kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan tersangka Jessica Kumala Wongso, 27, saat ini masih dalam proses penguatan alat bukti oleh penyidik Subdirektorat Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Hingga kini BAP tersebut belum dinyatakan P-21 (sempurna).

Dalam perkara itu, lanjut Sudung Situmorang, kepolisian berencana menjerat tersangka dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Penyidik pun diminta harus mampu menjelaskan di mana unsur perencanaan sesuai pasal pidana yang akan diterapkan.

Ia menambahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi DKI pun belum menerima pelimpahan tahap satu berupa BAP kasus Wayan Mirna Salihin dari penyidik. Jika pelimpahan tahap satu tidak terkendala, selanjutnya penyidik akan melakukan pelimpahan tahap dua yang meliputi penyerahan barang bukti dan tersangka.

"Tapi, kita tidak bisa begitu saja langsung menerima tahap satu atau menyetujuinya. Perlu dianalisis dan dibahas apakah kasus pembunuhan dan alat buktinya memenuhi unsur atau tidak. Jika terbukti tidak ada, ya terpaksa kita kembalikan," terang Sudung Situmorang.

Sejauh ini penyidik belum memperoleh bukti materiil tentang perjalanan racun sianida yang menjadi alat pembunuh Wayan Mirna Salihin serta siapa pemiliknya. Sudung Situmorang pun hanya tersenyum saat disinggung apakah Jaksa akan tetap membawa perkara ke meja hijau tanpa bukti materiil tersebut.

Seperti diberitakan juga sebelumnya, Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta memastikan hanya akan menerima satu Berkas Acara Perkara (BAP) di kasus Wayan Mirna Salihin alias Mirna (27 tahun) yang dibuat oleh penyidik Kepolisian.

“Bukan dari tersangka. Ya berdasarkan hasil fakta yang dicari polisi, dari keterangan saksi-saksi,” ujar Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Waluyo pada wartawan di Jakarta, Senin (8/2/2016)

Menurutnya Waluyo, Jessica Kumala Wongso (27) boleh saja mengingkari BAP dan rekonstruksi versi polisi. Namun, dalam kenyataanya, versi kedua itulah yang dianggap objektif lantaran adanya kesesuaian fakta, saksi, dan alat bukti.

Sedang versi Jessica Kumala Wongso (27) lebih subjektif dan tak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Kami tidak harus ada pengakuan tersangka. Ada alat bukti, ada surat, ada petunjuk, dan saksi itu sudah cukup. Tersangka tak mengaku tak apa-apa, kan nanti dibuktikan,” terangnya.

Sebelumnya, kuasa hukum Jessica Kumala Wongso (27), Yudi Wibowo Sukinto menerangkan, ogah mengikuti rekonstruksi versi polisi lantaran dia dan kliennya itu belum melihat rekaman CCTV.

Menurutnya, jika Jessica Kumala Wongso (27) tak menolak dengan rekonstruksi versi polisi dan ikut memeragakan adegan seperti yang ada di CCTV itu, sama saja dengan Jessica Kumala Wongso (27) mengakui perbuatan yang tak dilakukannya.

Guru Besar dan mengajar di Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono kembali mendatangi kantor Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya), Jl. Jenderal Sudirman Kav. 55, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (7/3/2016).

Alih-alih membahas gelar perkara kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin alias Mirna (27 tahun), Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono yang melanjutkan pendidikannya ke Edinburg University, Skotlandia pada tahun 1973 itu justru membahas hal-hal yang sifatnya umum dalam kasus itu. Batalnya rencana gelar perkara ini terkait dengan pengembalian berkas P19 dari Kejaksaan.

"Tadi undangannya kan gelar perkara, tapi kenyataannya enggak, diskusi aja. Sharing istilah, pertanyaan Jaksa saya jawab satu-satu," beber pakar psikologi tersebut, Sarlito Wirawan Sarwono di kantor Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya), Jl. Jenderal Sudirman Kav. 55, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Selain masih menyamakan persepsi, pembahasan tersebut juga membahas tentang istilah hukum antara pihak Kepolisian dengan Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) tersebut, Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono.

"Keterangan-keterangan yang masih kurang cocok disama-samain gitu. Kata satu demi satu aja harus diluruskan. Jaksa itu mempermasalahkan sekali soal perbedaan kalimat walaupun tafsirnya sama," ungkap Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono yang pernah menjadi fellow di East West Center di Hawaii, Amerika Serikat tahun 1982, 1986 yang kajiannya mencakup masalah Keluarga Berencana (KB), anak jalanan, pemukiman, lalu lintas hingga tentang terorisme (2006-2009).

Menurut alumnus jurusan Diploma in Community Development dan program Doktor di Leiden University pada tahun 1976 tersebut, Sarlito Wirawan Sarwono, banyak istilah hukum Jaksa yang harus dimengerti, sehingga langkah untuk membawa perkara pembunuhan di kedai kopi Olivier yang melibatkan tersangka Jessica Kumala Wongso tersebut belum kunjung lengkap. Dia sendiri beranggapan berkas tersebut sudah lengkap untuk bisa maju ke meja sidang.

"Menurut Jaksa ya (belum lengkap), kalau menurut saya sudah sangat memenuhi bukti. Kalau menurut saya, polisi udah bagus lah. Kalau mau tanya kenapa belum memenuhi ya tanya sama Jaksa," kata Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono yang mendapatkan gelar Doktornya pada tahun 1978 dengan disertasinya yang berjudul "Perbedaan Antara Pemimpin Dan Aktivitas Dalam Gerakan Protes Mahasiswa".

Pertemuan mantan Dekan Fakultas Psikologi UI pada tahun 1997-2004 itu, Sarlito Wirawan Sarwono dan penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya berlangsung kurang lebih tiga jam berakhir pukul 13.00 WIB.

Selain mantan Ketua Program Studi (Prodi) Ilmu Kepolisian UI dari tahun 2007 hingga tahun 2012 itu, Sarlito Wirawan Sarwono pertemuan dihadiri pula oleh ahli IT.

Pemberitaan sebelumnya, Wayan Mirna Salihin alias Mirna (27 tahun) tewas usai menyeruput es kopi Vietnamese berisi sianida yang dipesan Jessica Kumala Wongso di restoran Kafe Olivier di Grand Indonesia Shopping Town West Mall, Lobby Arjuna Lt.GF, Jl. M.H.Thamrin No.1, Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Rabu (6/1/2016). Tiga pekan berselang penyidik akhirnya menetapkan Jessica Kumala Wongso, sahabat korban, sebagai tersangka.

Pemberitaan sebelumnya, Mirna tewas usai menyeruput es kopi vietnamese berisi sianida yang dipesan Jessica di Kafe Olivier, Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (6/1). Tiga pekan berselang penyidik akhirnya menetapkan Jessica, sahabat korban, sebagai tersangka. - See more at: http://www.mediaindonesia.com/news/read/29726/kejati-dki-akan-tolak-berkas-jessica-jika-minim-bukti/2016-02-20#sthash.EcgB27B2.dpuf

See Also

Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 506 Gram Narkoba
Keppres Pilkada Serentak 27 Juni 2018 Sebagai Hari Libur Nasional
Jennifer Dunn Divonis 4 Tahun Penjara
Jaksa KPK Tuntut Rita Widyasari Dihukum 15 Tahun Penjara
Densus 88 Antiteror Sergap Terduga Teroris JAD Di Cirebon
Anggota DPRD Kota Bogor Diamankan Polresta Bogor Kota
Densus 88 Antiteror Lumpuhkan Dua Terduga Teroris Di Depok
Polisi Siaga Jaga Sidang Vonis Aman Abdurrahman
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati
Polres Manggarai Barat Bekuk Pemerkosa 2 Turis Mancanegara
Babinsa Kodim 0716/Demak Evakuasi Sosok Mayat Berhelm Yang Gantung Diri
Kapolres Bogor Larang Anggotanya Ambil Jatah Libur
Buku Penerbit Yang Di Black List Pemerintah Malah Dibagikan Ke Sekolah-sekolah Di Jombang
4 Pegawai Bank Jatim Sudah Jadi Terdakwa
BPOM Minta Importir Tarik Sarden Kaleng Terindikasi Mengandung Cacing
Pasangan Kekasih Cikupa Yang Ditelanjangi Sudah Bertunangan Dan Akan Menikah
Polisi Dalami Aliran Dana Jamaah First Travel
Polisi Tetapkan Komisaris First Travel Jadi Tersangka
Bareskrim Polri Geledah Rumah Mewah Bos First Travel Di Sentul
Perampok Tewaskan Italia Chandra Kirana Putri Menyerah Ke Polisi
Gatot Brajamusti Divonis 8 Tahun Terkait Kepemilikan Sabu
PK Ditolak, Pembunuh Sisca Yofie Tetap Dihukum Mati
jQuery Slider

Comments

Arsip :201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.885.578 Since: 05.03.13 | 0.1794 sec