Ekonomi

Penjelasan MUI Perihal Kerudung Bersertifikat Halal

Thursday, 04 Februari 2016 | View : 1061
Tags : Mui

BANDUNG-SBN.

Selain makanan dan produk kecantikan, kerudung pun kini bisa diberi legitimasi soal kehalalannya. Baru-baru ini dunia fashion dihebohkan dengan munculnya pernyataan sebuah brand hijab yang mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Seperti yang dikeluarkan oleh brand ternama busana muslim Zoya. Brand ternama busana muslim, Zoya, mengumumkan bahwa semua produk kerudung koleksi Zoya telah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Label lokal di bawah naungan PT. Shafco ini baru saja menyatakan telah mendapatkan sertifikat halal untuk koleksi kerudungnya. Sertifikasi halal yang didapat perusahaan busana Muslim ini berasal dari MUI Jawa Barat.

Polemik jilbab halal ala Zoya menjadi perbincangan di media sosial sepekan terakhir ini. Launching produk kerudung halal oleh Zoya membuat heboh media sosial, baru-baru ini. Pengguna media sosial dibikin heboh oleh iklan salah satu merek pakaian Zoya. Hal tersebut diketahui dari postingan pihak brand Zoya di media sosial. Hal ini dipicu akun Facebook Zoya Lovers, yang pada Kamis (7/1/2016), memposting poster bertuliskan 'Zoya sebagai merek pertama yang menjual kerudung bersertifikat halal di Indonesia'.

Dalam promo itu, pihak Zoya juga menjelaskan adanya produk kerudung yang haram. Zoya membeberkan perbedaan jilbab halal dan tidak halal dari bahan dan proses pembuatannya sebagaimana makanan. Sehingga kain jilbab tersebut halal atau haram. Jika produk kerudung menggunakan emulsifer tumbuhan maka halal dan yang menggunakan emulsifer gelatin babi divonis haram. Zoya mengklaim pihaknya adalah produsen kerudung pertama yang bersertfifikat halal dari MUI, sedangkan produsen lain belum ada sertifikasi halalnya.

“Yang membedakan antara kain yang halal dan haram adalah penggunaan emulsifier-nya pada saat pencucian kain tersebut, untuk produk halal bahan pembuatan emulsifier-nya menggunakan tumbuhan sedangkan untuk yang tidak halal emulsifiernya menggunakan gelatin babi,” demikian menurut pernyataan isi iklan Zoya kerudung bersertifikat halal pertama di Indonesia yang beredar di media sosial seperti diunggah akun Istagram @zoyalovers.

Zoya juga mengunggah sertifikat halal dari MUI dengan foto Laudya Chynthia Bella sebagai brand ambassador-nya. Lewat Instagram, brand di bawah naungan PT Shafco tersebut mengunggah foto yang menampilkan tulisan dengan judul 'Kerudung Bersertifikat Halal Pertama di Indonesia' dan Laudya Chynthia Bella sebagai brand ambassador-nya. Zoya bahkan memajang logo sertifikasi halal MUI ini dalam sebuah poster raksasa. Di caption fotonya, akun resmi Zoya bernama @zoyalovers itu menulis, “Alhamdulillah Zoya mendapatkan sertifikat dari MUI sebagai kerudung halal pertama di Indonesia. Zoya, cantik, nyaman, halal," tulis akun @zoyalovers beberapa waktu lalu.

Pernyataan tersebut ternyata mengundang sejumlah reaksi dari netter. Persoalan 'hijab halal' ini menimbulkan cukup banyak reaksi di media sosial. Klaim tentang kerudung halal ini banyak diperbincangkan di media sosial dengan banyak komentar antara lain yang mempertanyakan mengapa jilbab perlu dikategorikan halal atau tidak. Netter mempertanyakan tentang penyebab kerudung dianggap halal atau haram.

Lewat Twitter, tidak sedikit yang mempertanyakan apakah memakai jilbab yang mengantongi sertifikasi halal menjadi sebuah keharusan bagi muslimah yang berhijab.

"Kalau ada dikotomi hijab tidak halal maka akan merembet ke semua yang nempel di badan. Baju ampe bra. Islam ga serumit itu deh," komentar salah satu pengguna Twitter @falla_adinda.

Iklan itu pun memantik komentar beragam. Iklan kerudung halal tersebut justru mendapat sindiran dari pengguna media sosial. Bahkan tidak sedikit pula mereka yang mencibir dan melontarkan kritikan. Mereka merasa bingung dengan adanya kategori kerudung halal dan haram.

"Plis deh. Jilbab halal. Segala aja dihalalin. Nanti yang bukan zoya Haram, gitu? Ckck," komentar seorang netter. "Emang ada yang nggak halal," ujar netter lain.

“Koq kesannya “menyudutkan” busana muslim yang lain bahwa busana muslim.yang lain adalah haram karena ga ada sertifikasi halal dari MUI,” kata akun @mrsmerri16.

Akun atas nama @azzukhruuf melalui Twitter yang menulis, "Ini apa banget sih... Hahahaha.. berlebihan amat.. Sampe jilbab dipertanyakan halal-haramnya.. Islam memang sangat menjaga tentang halal-haram. Tapi gak gini juga kan yak? Jangan menyusahkan umat."

"Ternyata hijab yang digunakan dari sejak berabad-abad yang lalu di seluruh dunia bisa jadi haram semuanya. Setelah sekian ratus abad, akhirnya ditemukan hijab halal, yakni hijab yang dicap oleh MUI. Bagi para perempuan di kampung, desa dan lain-lain yang ekonominya kurang beruntung, silakan nabung untuk membeli merek ini, memang tidak murah buat anda, tapi apa boleh buat, daripada pakai jilbab tidak halal; lupakan dulu bayar SPP sekolah. Bagi yang sudah terlanjur semenjak lama menggunakan hijab tak halal, belum terlambat, pakailah hijab bercap MUI, dosa anda akan diampuni. Bersama MUI, surga ada di tangan anda," sindir akun Hendra Hendarin dikutip awak media, Selasa (2/2/2016).

Akhmad Sahal @sahaL_AS menulis, "Bisnis jilbab sah-sah aja, tapi...kalo mengklaim sebagai satu-satunya yang "halal" karena disahkan MUI. Penentu halal-haram itu Allah, bukan MUI!"

"Oh begini caranya melakukan monopoli dalam hal perdagangan? Dagang dan menjalankan usaha menjahit hijab kalau tidak ada pengesahan dari lembaga dan merek ini berati tidak halal? Sifat kapitalis yang sudah merasuk nih," kata akun Pakyungan.

Akun Twitter lainnya, @pemudamerah juga menulis, "Hijab pertama yang mendapat sertifikasi Halal dari MUI. Baru tau, ternyata ada hijab HARAM."

Sementara di akun Instagram @zoyalovers, beberapa followers juga menuliskan pendapatnya di kolom komentar. "Emang ada yang nggak halal," tulis pemilik akun @budiruswanti.

Menanggapi hal ini, baik pihak Zoya maupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun memberikan penjelasan.

Perusahaan busana Muslim Zoya yang memiliki sertifikasi halal ini mengatakan langkah tersebut diambil untuk memenuhi permintaan beberapa konsumen.

"Beberapa orang bertanya apakah produk kami halal, dan kami melanjutkannya ke (mereka di bagian) proses produksi. Ini pada proses pewarnaan dan pencucian (pada sabun) yang biasanya memakai gelatin yang biasanya ada komponen babinya," kata Agung Hidayatullah dari perusahaan PT. Shafco yang memproduksi Zoya.

Saat dihubungi awak media pada Selasa (2/2/2016), Creative Director PT. Shafco Sigit Endroyono menjelaskan bahwa proses untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI sudah dilakukan tahun lalu. Prosesnya dimulai dengan mengajukan pendaftaran terlebih dahulu lalu dilakukan pemeriksaan terhadap bahan tekstil yang dipakai Zoya.

Setelah pemeriksaan selesai, komite fatwa MUI melakukan rapat untuk menentukan apakah materialnya tidak mengandung hal-hal yang diharamkan dalam Islam. Baru kemudian sertifikat tersebut diterbitkan.

Sertifikat tersebut resmi diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelah melakukan pemeriksaan sejak 2015 lalu.

Dalam berbagai iklan di media sosial, pihak Zoya mengatakan bahwa mereka telah mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.01171156041015. "Kerudung halal mulai dirilis pertamakali sejak Zoya berdiri namun baru tersertifikasi sekarang melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar (Jawa Barat) dengan nomor sertifikat 01171156041015. Zoya hanya fokus pada kehalalan dari produk untuk memastikan customer menggunakan produk yang sudah tersertifikasi kehalalannya," tutur Creative Director PT. Shafco, Sigit Endroyono.

"Tentu saja perlu sebagai umat muslim wajib menjauhi segala sesuatu yang mengandung unsur non-halal. Selain makanan yang kita konsumsi, pakaian serta hijab yang kita gunakan perlu diyakini apakah kita sudah menggunakan hijab yang halal? Tentu harus ada sertifikat jaminan halal yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang yaitu MUI," papar Sigit Endroyono selaku Creative Director PT. Shafco saat dihubungi awak media, Selasa (2/2/2016).

Sigit Endroyono menambahkan, kerudung yang halal ditentukan dari jenis kainnya, apakah mengandung gelatin babi atau tidak. Gelatin babi umumnya terdapat pada pengemulsi saat proses pencucian bahan tekstil. Rangkaian kerudung Zoya diklaim telah diuji coba dan hasilnya tidak mengandung babi sehingga ditetapkan halal menurut MUI.

"Kerudung halal adalah kerudung yang menggunakan fabric/kain halal dalam arti kain tersebut pada saat proses pencucian menggunakan bahan textile (emulsifier) dari bahan alami/ tumbuhan sedangkan untuk kain non halal menggunakan bahan textile (emulsifier) dari bahan non halal (gelatin babi)," jelas Sigit Endroyono.

Sementara itu, menanggapi sertifikat halal yang diakui Zoya telah dimilikinya, Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI Farid Mahmud, S.H., mengatakan akan mengeceknya terlebih dahulu karena kini sudah banyak perusahaan yang mengajukan permohonan untuk mematenkan kehalalannya.

Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI Farid Mahmud, S.H. juga menyebutkan hal senada dengan Sigit Endroyono.

Menurutnya, sertifikasi produk sebaiknya tidak hanya diberikan untuk jilbab namun juga barang-barang gunaan (selain pangan) lain.

"Tidak hanya makanan-minuman saja yang minta sertifikat halal tapi juga produk gunaan banyak yang menghasilkan sertifikat halal," cetus Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI Farid Mahmud, S.H.

Namun, Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI Farid Mahmud, S.H. mengatakan belum ada kewajiban untuk setiap produsen memiliki sertifikat halal. Hingga saat ini permohonan tersebut masih dilakukan berdasarkan permintaan produsen terkait.

"Pada dasarnya semua produk konsumsi Indonesia termasuk pangan belum ada kewajiban untuk mendapatkan sertifikat halal jadi mereka yang minta sertifikasi masih sukarela. Namun seiring dengan tuntutan konsumen maka tidak hanya makanan-minuman saja yang minta sertifikat halal tapi juga produk gunaan (selain pangan) banyak yang menghasilkan sertifikat halal," ungkap Farid Mahmud saat diwawancarai wartawan melalui telepon, Selasa (2/2/2016).

Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI Farid Mahmud, S.H. menilai pengajuan sertifikasi halal untuk produk selain makanan dan minuman sudah mulai marak sejak tiga hingga empat tahun belakangan. Banyak produsen yang mulai memperhatikan kehalalan produknya setelah mencuatnya isu sepatu berbahan kulit babi. Oleh sebab itu, produsen berusaha menghilangkan kekhawatiran konsumennya dengan mendapatkan sertifikat halal dari MUI.

"Konsumen hanya ingin memastikan bahwa meski tidak dimakan bahan-bahannya tidak terkontaminasi najis dan produsen menanggapi itu sebagai kewajiban sesuai Syariat Islam," tandas Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI Farid Mahmud, S.H.

Tidak hanya kerudung, Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI Farid Mahmud, S.H. juga mengungkapkan produsen sepatu, ikat pinggang, tisu, kertas, hingga perusahaan jasa telah mengajukan pendaftaran sertifikat halal ke MUI.

"Ada laundry, dia menyediakan sabun cuci dan airnya terjamin (tidak mengandung) dari najis. Bahkan pabrik kertas terbesar di Indonesia juga mengajukan sertifikasi halal karena kertasnya digunakan untuk kertas Al-Quran," pungkas Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI Farid Mahmud, S.H.

Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika, Majelis Ulama Indonesia, menyatakan mereka jarang sekali mendapatkan permintaan sertifikasi untuk 'barang gunaan' seperti baju dan sepatu.

Wakil Direktur LPPOM MUI, Osmena Gunawan mengatakan jarang sekali produk barang yang meminta sertifikasi halal. "Jarang ada barang gunaan (yang meminta sertifikasi halal) dan yang banyak adalah pangan, obat dan kosmetika," kata Osmena Gunawan.

Saat dihubungi wartawan, Ketua Umum MUI Pusat, Dr. (HC) K.H. Ma'ruf Amin mengaku tak tahu apa itu Zoya.

"Yang mana ya? Saya belum pelajari," kata Ketua Umum MUI Pusat, Dr. (HC) K.H. Ma'ruf Amin pada awak media hari ini, Kamis (4/2/2016). Ketua Umum MUI Pusat, Dr. (HC) K.H. Ma'ruf Amin kemudian meminta awak media untuk bertanya pada Komisi Fatwa MUI.

Awak media pun menghubungi Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh. Tapi jawabannya hampir sama. "Saya pelajari dulu," ucap Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh.

MUI mengaku juga banyak mendapatkan pengaduan masyarakat terkait kebenaran informasi kerudung halal tersebut. MUI mengakui banyak masyarakat resah atas kabar kerudung bersertifikasi halal itu. Kebanyakan dari mereka heran karena selama ini tidak ada istilah kerudung halal atau kerudung haram.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari MUI apakah benar sertifikat halal telah diberikan pada Zoya. (woli/wk/kr/bril/bbc/rappl)

See Also

Ditunggu Warga, Pensertifikatan Tanah Massal Di TMMD Kalikondang
Bursa Asia Ditutup Bervariasi
Semangat Babinsa Koramil 09/Karangtengah Dampingi Panen Perdana MT I
Kontrol Hasil Panen, Babinsa 03/Wonosalam Lakukan Pengubinan Padi
Bersama Warga, Babinsa 06/Wedung Siap Sukseskan Swasembada Pangan
Mendesa Klaim Bank Dunia Contoh Indonesia Terkait Penganggaran Dana Desa
Mulai Hari Ini Harga Pertamina Dex, Dexlite, Pertamax, Pertalite Turun
Bursa Asia Dan AS Menguat
Menko Maritim Sebut Bandara Kulonprogo Mulai Layani Penerbangan April 2019
Kodim 0716/Demak Buka Stand Pasar Murah
Babinsa Kodim 0716/Demak Perkuat Alsintan Dengan Diklat
Mengoptimalkan LTT Dengan Pemanfaatan Alsintan
Awas Tamu Tak Diundang Di Saat Panen Tiba
Demak Panen Raya Perdana Jagung Hibrida
Dandim 0716/Demak Jamin Demplot Kodim Kualitas Dan Produktivitasnya Panen Bagus
Generasi Muda Didorong Untuk Kreatif
Bursa Nikkei Dibuka Menguat
Menteri Perindustrian Bertemu Menteri Ekonomi Pendidikan Riset Swiss, Bahas Kerja Sama Dua Negara
Presiden Joko Widodo Terima Kunjungan Menteri Ekonomi Pendidikan Riset Swiss
Babinsa Pendampingan Nyemprot Tanaman Padi
7,23 Juta Wajib Pajak Yang Sudah Lapor SPT
Koperasi Kodim 0716/Demak Ikuti Pasar Murah
Babinsa Koramil 10/Kradenan Bersama Petani Panen Jagung
Babinsa Koramil 05/Cepu Bantu Petani Bajak Sawah
Persit Ranting 9/Kedungtuban Semangati Suami Tanam Padi
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.444.045 Since: 05.03.13 | 0.1616 sec