Ekonomi

Vietnam Paling Ditakuti Menteri Perdagangan

Thursday, 28 Januari 2016 | View : 4610

JAKARTA-SBN.

Di antara negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN)/PERBARA atau Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara yakni sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi yang didirikan oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada tanggal 8 Agustus 1967 di Kota Bangkok, Ibu Kota Negari Gajah Putih Thailand, dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengembangkan kebudayaan Negara-negara anggotanya, menjaga stabilitas dan perdamaian serta memberikan kesempatan kepada anggota-anggotanya untuk membahas perbedaan dengan damai, Menteri Perdagangan (Mendag) Republik Indonesia (RI) yang menjabat sejak 12 Agustus 2015, menggantikan Rahmat Gobel, Thomas Trikasih Lembong mengaku paling takut dengan Vietnam.

Negara tersebut, Vietnam, anggota ASEAN bergabung pada tanggal 28 Juli 1995 yang beberapa tahun lalu masih di belakang Indonesia, saat ini sudah jauh menyalip di depan.

"Saya paling takut dengan Vietnam. Mereka sudah punya perjanjian kerja sama dengan Amerika Serikat di Trans Pacific Partnership (TPP) dan juga Comprehensif Economuc Partnership Agreement (CEPA) dengan Eropa. Dari itu saja produk kita sudah kalah tarif 12-17 persen dari mereka," ungkap Menteri Perdagangan ke-34, Thomas Trikasih Lembong atau lebih dikenal Tom Lembong yang kerap disapa Tom itu pada acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perdagangan di Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Dengan keunggulan itu, barang-barang Vietnam akan jauh lebih berdaya saing dibanding produk Indonesia saat memasuki kedua pasar tersebut. Kondisi ini tentunya akan sangat merugikan produk ekspor Indonesia yang tidak bisa bersaing dari sisi harga.

"Produsen biasanya hanya mengambil marjin keuntungan sekitar 8-10 persen. Tetapi ini belum apa-apa kita sudah kalah 12-17 persen, jadi mau tidak mau kita harus ikuti pola yang sama," beber Tom yang pernah bekerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) selama 2 tahun sebagai Senior Vice President and Division Head.

Pria yang menikah dengan Franciska Wihardja pada tahun 2002 dan dikaruniai sepasang puteri dan putera, Tom menambahkan, Indonesia tidak punya pilihan lain selain ikut bergabung ke TPP dan CEPA Eropa. Meski demikian, perjanjian tersebut masih butuh 2-3 tahun untuk diteken, sementara Vietnam sudah punya keunggulan tarif.

"Makanya saya akan menyiasatinya dengan menjalin kerja sama baru dengan Turki dan 4 negara Eropa seperti Swiss, Norwegia, Islandia, dan Leichtenstein untuk masuk ke pasar Eropa. Tahun ini juga saya targetkan kerja sama bilateral dengan Australia," pungkas Tom yang pernah bekerja di Deutsche Bank dan Morgan Stanley.

See Also

Bursa Nikkei Dibuka Menguat
Menteri Perindustrian Bertemu Menteri Ekonomi Pendidikan Riset Swiss, Bahas Kerja Sama Dua Negara
Presiden Joko Widodo Terima Kunjungan Menteri Ekonomi Pendidikan Riset Swiss
Babinsa Pendampingan Nyemprot Tanaman Padi
7,23 Juta Wajib Pajak Yang Sudah Lapor SPT
Koperasi Kodim 0716/Demak Ikuti Pasar Murah
Babinsa Koramil 10/Kradenan Bersama Petani Panen Jagung
Babinsa Koramil 05/Cepu Bantu Petani Bajak Sawah
Persit Ranting 9/Kedungtuban Semangati Suami Tanam Padi
Babinsa Koramil 08/Kedungtuban Monitoring Pendistribusian Pupuk Subsidi
Babinsa Koramil 09/Randublatung Bersama Petani Panen Padi
Danramil 07/Gajah Terus Berupaya Supaya Bulog Membeli Gabah Petani
Babinsa Desa Babat Belajar Mesin Perontok Padi
Koperasi Primer Kodim 0716/Demak Gelar RAT Ke-48
Menteri Pertanian RI Panen Raya Padi Di Blora
Wall Sreet Menguat Jelang Pelantikan Donald Trump
Bukittinggi Targetkan 600 Ribu Wisatawan Pada 2017
Donald Trump Ancam Toyota Motor Corporation
Saham Wall Street Melemah
Vice President Lotte Gantung Diri Di Pohon
Dandim 0716/Demak Hadiri Demak Expo 2016
Kodim 0716/Demak Siap Dukung Sergap Demi Kedaulatan Pangan
Saham Hang Seng Berakhir Lebih Rendah
Dandim 0716/Demak Tinjau Lokasi Panen Yang Akan Dihadiri Mentan RI
21 Trayek Baru Transjakarta Jabodetabek
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.114.015 Since: 05.03.13 | 0.2618 sec