Redaksi

Kehidupan Dan Penyelewengan Perempuan

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Thursday, 31 Desember 2015 | View : 324

SBN.

Rabu (30/12/2015) kemarin kawan merespon posting saya bahwa perempuan yang memiliki jabatan dan atau materi juga kelakuannya akan sama dengan laki-laki. Saya kira logikanya sama. Perempuan dan laki-laki dilahirkan sama sebagai manusia. Karena itu ketika dihadapkan pada kekuasaan dan pemilikan materi maka potensi penyelewengan juga akan dilakukan. Memang sekarang lagi berproses terjadi perubahan sifat perempuan sebagai dampak dari perubahan sistem dan struktur yang mulai ramah pada perempuan.

Begitulah dunia. Dulu pernah ada masa perempuan secara sosial memiliki kekuasaan yang lebih ketimbang laki-laki. Perempuan menjadi pendeta kuil yang bebas mengadakan persetubuhan dengan umat. Lalu kekuasaan secara sosiologis berpindah tangan karena gerakan yang ada selalu mencari keseimbangan. Setelah keseimbangan hilang maka muncul gerakan terus. Begitulah dunia.

Abad 18,19 dan 20 adalah abad yang mengembangkan sistem dan struktur yang tidak adil untuk perempuan. Perselingkuhan kapitalisme dan ajaran agama yang membangun fondasi berbagai bentuk kekerasan pada perempuan dan anak. Kekerasan menjadi bagian dari proses pembangunan yang dilakukan. Sayangnya sisi negatif dari pembangunan ini tidak disikapi dengan proposional. Karena itu wajar kalau muncul gerakan protes.

Hasil dari gerakan protes mulai nampak. Banyak perempuan berdaya muncul di publik. Puncaknya adalah pengakuan kepemimpinan perempuan. Perempuan yang muncul di publik tidak menggunakan istilah feminin tetapi asertif. Feminitas menjadi persoalan ketika perempuan muncul di publik. Laki-laki secara sosiologis muncul menunjukkan tanda-tanda tersudut. Karena itu muncul gerakan perubahan laki-laki agar bisa menyesuaikan diri dengan perubahan perempuan saat ini.

Karena itu di tingkat micro jika muncul tindakan perempuan yang patut dicela adalah wajar. Perempuan juga seperti laki-laki. Kalau ada niat yang bertemu dengan kesempatan maka akan muncul berbagai bentuk penyelewengan. Berapa banyak perempuan telah memiliki niat sengaja melakukan berbagai bentuk penyelewengan (moral, etika, finansial, kekuasaan, dan lain-lain)? Saya kira jumlahnya masih kecil sekali. Perempuan yang peduli dengan caring untuk keluarganya di Indonesia masih mayoritas. Jadi saya menulis dari sudut makro dengan menggunakan cara berpikir sosiologis.

Bentuk penyelewengan perempuan yang sekarang berproses muncul, ini menjadi keperdulian saya. Simbol kerahiman perempuan yang melahirkan kehidupan harus tetap dijaga. Dulu rahim dijaga dengan membangun mitos tentang keperawanan dan cerita keibuan yang muncul sebagai pahlawan. Perempuan sebagai ibu dipuja namun perempuan sebagai dirinya ditolak. Perempuan sebagai pelacur dinistakan namun sangat berfungsi menjaga sistem patriarki.

Efek dari hilangnya penghargaan terhadap rahim yang merupakan simbol tempat kehidupan dimulai, bagi saya adalah persoalan besar. INI YANG HARUS DIKEMBALIKAN. Tidak melalui mengembalikan peranan keperawanan dan bentuk perwujudan nilai yang lain. Mari kita cari idiom penggantinya lalu kita praktekkan.

Sebagai salah satu bentuk baru yang mewujud dalam ide yang saya laksanakan adalah saya membentuk diri berproses menjadi ibu spiritual yang akan melahirkan anak-anak spiritual yang menjunjung kehidupan. Tiadanya penghargaan pada rahim dan kehidupan yang dijaga maka kita akan menghadapi masalah besar. Ada rahim fisik, rahim psikologis dan rahim spiritual. Penghormatan pada kehidupan yang diungkapkan dalam bentuk kepedulian, tanggung jawab dan kasih sayang yang ingin dilindungi oleh para tokoh spiritual saat ini mewujud dalam kata COMPASSION. Mari kita mendukungnya. Dengan kita mendukungnya maka kita mendukung hidup kita sendiri. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.596.507 Since: 05.03.13 | 0.1204 sec