Redaksi

Memilih Anak Atau Suami Atau Dirinya Adalah Dilema Tersembunyi Perempuan

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Wednesday, 30 Desember 2015 | View : 510

SBN.

Saya ingat cerita tentang almarhum Nancy Reagen istri presiden Amerika yang saya baca di media. Kalau tidak salah anak-anaknya kecewa berat padanya karena ibunya lebih memilih melayani dan mendampingi ayahnya ketimbang anak-anaknya. Saya kira banyak perempuan yang menjadi ibu memiliki dilema: mengutamakan anak-anaknya atau suaminya. Betapa sulitnya perempuan seorang ibu menjadi dirinya sendiri. Harga yang dibayar untuk mempertahankan rumah tangganya begitu besar.

Banyak yang memilih anak-anak tetapi tidak kurang juga yang memilih mengutamakan melayani suami. Untuk bisa mengikat suami kekuatan terbesarnya adalah pada pelayanan dan pendampingan yang dilakukan terus menerus. Masalah ini barangkali terjadi terutama pada keluarga kelas menengah dan atas. Kekuatan jabatan dan ekonomi suami membuat pasangannya harus ektra waspada. Kalau tidak maka suaminya akan bisa diambil orang lain yang menginginkan perlindungan finansial. Berapa banyak perempuan yang tidak peduli dengan status laki-laki mapan. Laki-laki mapan memiliki posisi tawar yang begitu besar sekalipun mereka telah beristri dan punya anak. Seksualitas laki-laki berkantong tebal banyak yang bermasalah dengan urusan cinta. Juga sepertinya tidak bisa membedakan cinta dengan seks.

Hal ini menjelaskan sikap dan tindakan dari Ibu Tien Soeharto yang mewajibkan istri selalu mendampingi suami ke manapun suami bertugas. Saya bisa mengerti perasaan istri yang begitu sibuk beakrobat agar keluarganya aman. Karena itu betapa sulitnya perempuan yang memiliki karir cemerlang untuk bisa sukses rumah tangganya. Ibu rumah tanggapun juga harus bersaing dengan perempuan atraktif yang tidak memiliki beban lain kecuali bermain dengan laki-laki yang diincar.

Fenomena ini terjadi di kalangan kelas menengah dan atas keluarga pengusaha. Banyak rumah tangga mereka berantakan karena sang suami tertarik perempuan bebas (barangkali penjaja seks) dari Tiongkok yang membanjir di Indonesia terutama Jakarta dan Surabaya. Kecantikan dan pelayanan seks yang diberikan menggoda para suami melupakan istri dan anak. Kalaupun tidak cerai, pasti heboh rumah tangganya. Dan sekali lagi yang jadi korban adalah mental dan masa depan anak-anaknya. Perempuan putus asa dan pengejar gaya hidup banyak yang tidak peduli kalau merusak rumah tangga orang.

Karena itu bisa dipahami para ibu-ibu kalau diminta membahas penjaja seks komersial maka sikap yang paling sering saya dapatkan adalah tidak suka sama sekali. Tidak ada perspektif melihat mereka sebagai korban. Ibu rumah tangga harus bersaing dengan kecantikan dan kemudaan perempuan lain jika punya suami berkantong tebal. Tidak heran dan heran mengapa bisnis kecantikan, pelangsingan dan kebugaran menjadi daya tarik luar biasa bagi perempuan. Itu juga menjelaskan mengapa perempuan sulit bersikap tepat jika kena kanker payudara dan memasuki masa menopause. Dunia kita begitu memanjakan laki-laki dan belum mengajarkan bagaimana bisa menghargai perempuan yang berkorban untuk dia.

Kepedulian saya terutama ke anak-anak yang dilahirkan selain bagaimana perempuan berhak berbahagia dan bisa menerima dirinya. Betapa hancur hati perempuan yang berjuang begitu keras menjaga rumah tangganya namun hasilnya adalah suaminya tertarik pada perempuan lain yang lebih muda dan segar. Alasan perpisahan yang disampaikan klasik yakni istrinya kurang perhatian. Bahkan konyol sekali, istri yang suka pakai daster bisa memberi alasan suami menceraikannya.

Jadi itulah mengapa saya menuliskan tentang sedikitnya hubungan laki dan perempuan yang terikat pernikahan bisa sukses berelasi dan mereka bisa bertumbuh bersama dalam relasi tersebut. Godaan dari dalam maupun luar diri begitu banyak. Lalu apa yang disebut cinta? Kalau cinta yang dipersonifikasikan dalam diri pasangan telah membuat diri babak belur.

Itulah misteri yang saya ingin ungkap. Bukan karena dorongan kebutuhan sadar yang menggerakkan. Yang menggerakkan adalah perintah kitab suci yang meletakkan cinta pada tempat yang tertinggi. Saya ingin tahu mengapa itu diperintahkan kitab suci dan saya percaya dengan ajarannya. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.596.519 Since: 05.03.13 | 0.1228 sec