Redaksi

Kekerasan Pada Ibu Dan Anak

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Tuesday, 22 Desember 2015 | View : 320

SBN.

Saya diwawancarai radio El Shinta pagi ini 22 Desember 2015. Setelah saya ngalor ngidul membahas defisit feminitas lalu ada pemirsa perempuan yang bertanya:”Bagaimana dengan kekerasan pada perempuan?”. Pertanyaan cerdas di konteks pembahasan saya. Sebenarnya yang lebih tepat adalah kekerasan pada ibu karena yang mengalami terbanyak ibu yang belum berdaya.

Kekerasan pada ibu satu paket dengan kekerasan pada anak. Anak yang menyaksikan adegan kekerasan telah terpapar kekerasan. Belum lagi urusan kelekatan anak dan ibu sebelum anak dewasa. Kekerasan yang dialami ibu secara otomatis terjadi pada anak.

Itulah bukti pada ada yang salah dalam sistem yang beroperasi. Kembali biang kerok yang saya tuduhkan adalah ketidakseimbangan nilai yang kita berikan. Kita memberi nilai begitu tinggi pada kerja publik yang mendapat imbalan uang dan tidak memberi penghargaan dan perlindungan yang pantas pada pekerjaaan domestik yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan.

Biang kerok kedua adalah sistem patriarki yang memberi kekuasaan pada laki-laki untuk melindungi dan mengendalikan perempuan. Tenyata terbukti bahwa manusia siapapun (baik perempuan maupun laki-laki) kalau diberi kekuasaan kalau tidak ada yang mengontrol maka akan terjadi penyelewengan.

Penyalahgunaan kekusaaan oleh laki-laki yang diberikan oleh budaya berdampak pada kekerasan pada ibu dan anak. Karena itu kekuasaan itu dibatasi oleh hak asasi yang berpandangan non diskriminasi terhadap manusia.

Jadi mendukung pengoperasionalan hak asasi perempuan dan kerja caring di ruang domestik maupun publik dibutuhkan untuk mengembangkan peradaban. Rasio tidak lagi utama. Rasio dan hati harus dipakai secara seimbang. Perempuan dan laki-laki bisa saling mendukung karena bahasa rasio dan hati yang dipakai. Feminitas yang melahirkan caring jangan dikorupsi. Hasilnya adalah manusia yang berubah menjadi "binatang". Caring yang baik akan menjaga manusia berproses menjadi manusia mulia. Itu yang kita butuhkan. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.648.054 Since: 05.03.13 | 0.1479 sec