Redaksi

Otonomi, Ibu Militan, Dan Peran Ganda

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Tuesday, 22 Desember 2015 | View : 260

SBN.

Saya tersentak dengan diskusi tentang hari perempuan bukan hari ibu di hari ibu saat ini. Memang sampai hari ini otonomi perempuan masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Menjadi perempuan di Indonesia masih ada dalam masa-masa sulit.

Otonomi perempuan di era Soekarno belum diterima. Yang diberikan dan didukung penuh oleh Soekarno adalah peran ibu yang ditempatkan sebagai pejuang bersama laki-laki merebut dan mengisi kemerdekaan. Karena itu di era Soekarno kekuatan perempuan di ruang publik adalah besar (dengan berbagai variasi). Bahkan pada saat itu banyak organisasi perempuan menolak secara terbuka poligami yang dilakukan oleh Presiden Soekarno ketika hendak menikahi Hartini. Kalau tidak salah Saskia W. Mendefinisikan era ini sebagai ibu militan. Soekarno menginginkan perempuan menjadi ibu yang militan.

Di masa Soeharto lebih parah. Perempuan benar-benar dikebiri di ranah domestik. Kalaupun mau ada di ruang publik maka harus menyelesaikan dan mengutamakan pekerjaan domestiknya terlebih dulu. Karena itu perempuan yang berpolitik kebanyakan telah berusia. Mereka berpolitik setelah anak-anak dewasa dan menikah.

Munculnya tulisan yang cemerlang tentang Ibuisme dari Julia Suryakusuma untuk menunjukkan pasungan era Soeharto ke perempuan. Di era ini pegangan yang dipakai perempuan untuk bergerak adalah peranan ganda. Peranan ganda bagi saya adalah salah satu bentuk kekerasan pada perempuan. Menempatkan perempuan sebagai super woman yang harus berhasil di ranah domestik dan publik. Sedangkan laki-laki hanya punya tanggung jawab di ranah publik.

Sekarang apakah otonomi perempuan sebagai dirinya telah mendapatkan pengakuan dan tempat terhormat? Ini yang perlu saya telusuri. Undang-undang perlindungan anak yang mendefinisikan anak sejak dalam kandungan, yang berimplikasi pada larangan untuk melakukan induksi haid, menunjukkan adanya masalah terhadap perempuan.

Saya mengagungkan ibu bukan dalam kerangka orde lama dan baru yang mereduksi peran perempuan ke dalam peran ibu semata. Dari dulu hingga sekarang saya memperjuangkan otonomi perempuan sebagai pribadi utuh. Memperlakukan perempuan setara dan adil adalah jiwa dari perjuangan saya. Memang otonomi perempuan adalah soal yang krusial sekali. Terima kasih atas diskusi yang muncul. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.600.976 Since: 05.03.13 | 0.1199 sec