Redaksi

Bertobat Untuk Kembali Menghargai Keperempuan Saya

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Tuesday, 22 Desember 2015 | View : 269

SBN.

Hari ini, Selasa (22/12/2015), perayaan dan penghargaan terhadap kerja ibu yang berproses tersingkirkan perlahan dan bersaing dengan maskulinitas. Perempuan tanpa sadar menjadi lebih maskulin dan tunduk pada pasar. Pasar telah merusak perempuan menjadi perempuan lemah. Kekuatannya mendukung manusia menjadi manusia, diganti dengan nafsu membeli barang dan mempercantik diri. Pasar yang hanya memberi harga pada uang dan materi telah mencuri banyak dari kerja domestik yang tidak dihargai. Mengapa kita tidak bertindak melawan proses penghancuran hidup manusia?

Feminitas sebagai pembangun peradaban sekarang mengalami krisis besar. Mari kita kembalikan kekuatan dari feminitas yang dilakukan oleh perempuan. Kekuatan perempuan terletak pada feminitasnya. Tidak perlu menjadi maskulin ketika menjadi pemimpin. Yang diperlukan adalah memperluas caring ke dalam kerja masyarakat.

Perjalanan saya dalam kaitannya dengan feminitas mencerminkan perjalanan masyarakat yang bersama-sama bergumul dengan suatu ide. Ada 3 fase yang saya lewati. Fase pertama bersama keluarga. Saya dibesarkan 3 perempuan luar biasa yang menjadi ibu yakni mama dan nenek dari kedua orangtua.

Mama membentuk saya menjadi perempuan menurut versinya. Dia yang mengajari saya menyulam, hampir setiap hari meneriaki saya agar bisa bangun pagi, terlibat pekerjaan dapur, menyiapkan perhiasaan yang dikumpul sedikit demi sedikit untuk saat saya menikah, dan lain-lain. Dia juga yang menasehati saya agar menikah dengan suku lain sesama Tionghoa agar saya tidak perlu bekerja keras. Hanya mama yang selalu hadir memberikan yang saya butuhkan sekalipun dia tidak setuju seperti melanjutkan ke perguruan tinggi, membeli banyak buku. Hutang saya pada pengorbanan dan kebaikan hatinya tidak pernah bisa terbayar. Nenek dari orangtua juga perempuan luar biasa. Feminitasnya begitu kuat. Bisa menanggung penderitaan untuk mendukung anak-anaknya melalui kecerdasan hati. Dari merekalah saya belajar inner power.

Kehebatan mereka tidak saya lihat ketika saya kuliah dan bekerja awal. Malah saya meremehkan dan mengubahnya. Bagi saya bahasa hati dan pengorbanan adalah kebodohan yang dilakukan oleh perempuan yang menjadi ibu. Saya jatuh cinta dengan ide persamaan dan keadilan yang digagas oleh para feminis. Wacana yang ada saat itu adalah mendekonstruksi feminitas dengan menolak stereotipe perempuan irrasional dan tidak bisa memimpin. Termasuk saya menolak pembagian kerja berdasarkan seksual versi budaya patriarki. Masa pembongkaran ide ini saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Ini periode kedua.

Dengan belajar dari Mahatma Gandhi saya mengggunakan diri saya sebagai laboratorium untuk membuktikan bahwa perempuan juga bisa rasional dan mampu bersaing dengan laki-laki. Saat itu ide Sinderela Compleks jadi bahasan utama. Karena itu saya menolak perempuan yang menggunakan sensualitas dan seksualitasnya untuk meraih ambisi jabatan maupun karier. Bagi saya ini merupakan persaingan tidak fair. Keadilan versi rasio yang paling penting bagi saya saat itu.

Entah apa yang jadi pemicunya lalu masuklah saya pada fase ketiga. Tiba-tiba ketika saya berusia 40 tahunan saya menyadari telah berjalan di jalan yang salah. Saya menindas dengan keras feminitas yang saya miliki. Padahal feminitas itu telah dicangkokkan ke dalam jiwa saya oleh 3 perempuan luar biasa. Hasilnya saya kesepian, menderita dan merasa diri menjadi terlalu keras. Saya terlalu keras ke diri sendiri dan orang lain.

Lalu secara perlahan saya mengangkat kembali feminitas saya ke dalam kesadaran. Berkiblat pada hati tidak lagi saya remehkan. Usaha inipun saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Saya lebih banyak belajar dari hati. Karena itu banyak ide orisinal muncul. Proses try and error terus menerus saya jalani. Hasilnya saya menemukan jalan dan keseimbangan yang bisa saya bagikan ke banyak orang.

Feminitas dengan fokus pada caring pada manusia harus dikembalikan pada tempatnya. Maskulinitas yang nafsunya bersaing dan menaklukkan telah merusak alam dan manusia terutama generasi muda. Anak-anak belajar untuk menjadi egois dan meremehkan kebersamaan. Itulah yang membuat saya terus menyuarakan tentang hati, cinta, kebersamaan, pelayanan dalam struktur yang adil, benar dan indah.

Saya telah menemukan keseimbangan dalam perubahan terus menerus. Saya bahagia menjadi perempuan feminin yang tangguh dan saya mendisiplinkan diri menjadi model bagi yang muda. Dengan cara inilah saya membayar kebaikan dan pengorbanan mama. Saya telah bertransformasi dengan karakter keibuan yang kuat. Semoga mama bangga dengan apa yang saya lakukan. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.600.720 Since: 05.03.13 | 0.128 sec