Hukum

Misteri Pembunuhan Sisca Yofie Mulai Terkuak

BANDUNG-SBN.

Misteri tragis kematian manajer cabang Bandung perusahaan leasing, gadis cantik bernama Franceisca Yofie alias Sisca yang tewas di Jalan Cipedes RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) lalu perlahan mulai terkuak dan mendapat titik terang.

Polrestabes Bandung menemukan informasi baru terkait pembunuhan eks model cantik Sisca Yofie. Selain diduga dibunuh penjambret, pihak polrestabes Bandung menemukan ada keterkaitan antara anggota Polda Jawa Barat, Komisaris Polisi (Kompol) Albertus Eko Budi (AEB) dan Sisca Yofie. Tim penyelidik polrestabes Bandung mengarah kepada surat, di situ anggota Polri bernama Kompol AEB yang bertugas di Polda Jawa Barat, diduga Sisca Yofie memiliki hubungan khusus dengan Kompol AEB. Setelah memeriksa Kompol AEB, perwira polisi yang pernah dekat dengan Sisca Yofie, terungkaplah awal mula caci maki Bandung branch manager PT. Verena Multi Finance Tbk. itu di Facebook.

Polrestabes Bandung kini tengah menelusuri hubungan khusus wanita 34 tahun itu dengan anggota Polda Jawa Barat berinisial AEB. Meski demikian, Polri menyatakan kasus pembunuhan itu tetap ditangani Polda Jawa Barat. Sedangkan kasus pelanggaran kode etik ditangani Divisi Propam Polri. “Proses penyidikan kasus meninggalnya korban Sisca tetap ditangani Polda Jabar khususnya Polrestabes Bandung. Hanya kasus berkaitan dengan keterlibatan anggota Polri yang kemungkinan akan di back up Divisi Propam Polri. Tergantung koordinasi Kapolda Jabar dengan Kadivpropam Polri,” kata Kepala Divisi (Kadiv) Hubungan Masyarakat (Humas) Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Irjen. Pol. Drs. Ronny Franky Sompie, S.H., M.H.

Kepala Bidang Provos dan Pengamanan (Kabid Propam) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat (Jabar) Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Drs. Sudrajat membenarkan jajarannya telah memanggil dan memeriksa Komisaris Polisi (Kompol) Albertus Eko Budi, terkait kasus terbunuhnya Sisca Yofie, 34 tahun. Pemeriksaan dilakukan dua kali di kantor Propam Kepolisian Resor Kota Besar Bandung. "Yang periksa Propam Polda. Saya ikut saat dia diperiksa pas malam Lebaran sampai semalaman,” papar Kombes Pol. Drs. Sudrajat.  Kepada Kabid Propam Polda Jabar, AEB mengakui memang pernah berselingkuh dengan Sisca Yofie pada tahun 2010 hingga tahun 2012. “Namun sejak hubungan mereka terputus, AEB tak pernah bertemu Sisca Yofie,” sambung Kombes Pol. Drs. Sudrajat. Hanya, lanjut Kombes Pol. Drs. Sudrajat, AEB sempat melayat dan ‘nyekar’ ke pusara Tan Hay Kim, tak lama setelah ibu Sisca Yofie itu meninggal pada April 2013 lalu. “AEB juga menemui kakak  Sisca Yofie di rumah keluarga itu di Pagarsih. Tapi Sisca Yofie rupanya tidak suka (kedatangan Eko ke makam ibunya). Jadi muncul seperti (tulisan caci-maki) yang ada di Facebook Sisca Yofie itu. Dia (Albertus Eko Budi) tidak tahu kenapa Sisca marah,” imbuh Kabid Propam Polda Jabar.

Sebelumnya, Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Polisi Drs. Sutarno menduga hubungan antara perwira menengah polisi dari Polda Jabar itu, Kompol AEB dengan Sisca Yofie bukanlah pertemanan biasa. Kepala Polrestabes Bandung Komisaris Besar Polisi Drs. Sutarno menuturkan hubungan Sisca Yofie dengan Kompol AEB terungkap saat polisi menelusuri motif pembunuhan sadis itu. Ketika memeriksa laman Facebook dan barang pribadi korban, muncul nama AEB. “Di rumah kos, ada catatan harian dan surat-surat hubungan pribadi almarhum dengan oknum anggota Polri,” ujar Kombes Pol. Drs. Sutarno di kantornya, Senin (12/8/2013) lalu.

Dalam penyelidikan, ditemukan indikasi Sisca Yofie berkeluh kesah karena merasa diperlakukan tak baik oleh Kompol AEB. Terlebih, Kompol AEB. juga telah mempunyai anak dan istri. Hal itu terungkap dalam surat yang ditemukan di rumah kos Sisca Yofie yang juga kerap berpindah kos-kosan. “Surat menyurat antara korban dengan Kompol AEB yang kami temukan berakhir pada bulan Juni 2012. Sepertinya Sisca kesal dengan perilaku AEB dan korban memilih menghindar, hingga tiga kali pindah kos,” papar Kapolrestabes Bandung Kombes Pol. Drs. Sutarno di Bandung, Selasa (13/8/2013). Menurut Kombes Pol. Drs. Sutarno, Sisca terakhir melakukan kontak dengan Kompol AEB pada Juni 2012 lalu. Mereka berpisah dan Sisca menaruh dendam pada Kompol AEB. Dalam surat itu, Sisca Yofie berkeluh kesah merasa diperlakukan tak baik oleh Kompol AEB. “Ada kata-kata almarhumah marah kepada oknum itu. Dan almarhumah ingin menjauh dari oknum itu, tapi oknum itu terus mengejarnya," ungkap Kombes Pol. Drs. Sutarno. Mereka berpisah setahun lalu. Walau begitu, Kompol AEB masih terus mengejar Sisca Yofie. "Korban kesal selalu dikejar-kejar oleh Kompol AEB. Mungkin korban punya alasan tersendiri untuk menghindari Kompol AEB," kata Kombes Pol. Drs. Sutarno. Menurut Kombes Pol. Drs. Sutarno, pihaknya masih mendalami alasan Kompol AEB mengejar Sisca Yofie hingga korban mesti berpindah-pindah tempat tinggal. Apalagi diketahui Kompol AEB sudah memiliki istri.

“Dengan mempelajari surat-surat almarhumah (Sisca Yofie) ditambah foto-foto bersangkutan (Kompol AEB), patut menduga yang bersangkutan melakukan hubungan dengan korban melewati batas kewajaran, di luar normal," ujar Kombes Pol. Drs. Sutarno di Polresta Bandung, Selasa (13/8/2013). Padahal, lanjut Kapolrestabes Bandung, Kompol AEB merupakan pria yang sudah beristri. Kombes Pol. Drs. Sutarno melanjutkan, untuk itu, pihaknya memberikan sanksi pelanggaran disiplin kepada Kompol AEB. “Kompol AEB ini sudah berkeluarga dan tinggal di Cimahi,” tutur Kapolrestabes Bandung Kombes Pol. Drs. Sutarno saat jumpa pers, Selasa (13/8/2013). "Kita tahu yang bersangkutan sudah beristri. Bila ada anggota Polri melakukan upaya seperti itu (berselingkuh) dikenakan pelanggaran disiplin,” tukas Kombes Pol. Drs. Sutarno. “Hubungan Sisca Yofie dengan Kompol AEB. terungkap saat polisi menggeledah rumah kos Sisca Yofie. Di rumah itu ditemukan surat-surat dari Sisca untuk Kompol AEB.,” imbuh Kombes Pol. Drs. Sutarno.

Selain itu, sambung Kombes Pol. Drs. Sutarno, juga ditemukan surat yang berisi tentang curhat Sisca Yofie yang merasa gerak-geriknya terus diawasi Kompol AEB. “Bahkan pernah almarhumah berurusan dengan polisi gara-gara oknum itu. Almarhumah merasa dipermalukan oknum itu,” beber Kombes Pol. Drs. Sutarno. Dari hasil pemeriksaan, Kompol AEB ternyata pernah memerintahkan anak buahnya untuk memata-matai Sisca Yofie. Padahal Sisca Yofie sudah tak mau menemui perwira polisi ini. “Sebelum kejadian sudah agak lama, Kompol AEB pernah menyuruh anggota Polri pangkat Bintara inisial E. Brigadir E ini diperintah untuk mengawasi aktivitas si Sisca,” ungkap Kapolrestabes Kombes Pol Drs. Sutarno saat menggelar jumpa pers, Selasa (13/8/2013). Jelas perbuatan Kompol AEB melanggar kode etik. Kompol AEB menggunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi. Kompol AEB dan Brigadir E pun diperiksa Propam Polda Jabar. Keduanya terancam hukuman. “Nanti sanksinya biar Kabid Humas yang umumkan,” tukas Kombes Pol. Drs. Sutarno.

Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Polisi Drs. Sutarno menjelaskan, saat kejadian diketahui cara pelaku menghabisi Sisca sangat sadis. Sehingga terbentuklah opini tentang pembunuhan sadis. Hal ini diperkuat dengan jumlah saksi yang minim, ada saksi yang melihat korban diseret dengan motor sebagaimana terekam di CCTV. Lalu, hasil olah TKP tidak ditemukan adanya tanda-tanda pencurian. Isi mobil yang dikendarai Sisca  Yofie masih utuh. “Kita analisa, olah TKP, ternyata di mobil ada tas yang masih utuh, sehingga kita berasumsi ini jangan-jangan dendam, karena barang-barang tidak ada yang hilang. Kalau curas ada barang yang hilang,” terang Kombes Pol. Drs. Sutarno, di Mapolrestabes Bandung, Senin (12/8/2013) malam. Dengan asumsi awal tentang pembunuhan sadis dengan motif dendam itu, tambah Kapolrestabes Bandung, polisi terus mengembangkan penyelidikan. Dugaan ini makin kuat ketika menggeledah kamar kos Sisca Yofie di Jalan Setra Indah Utara No.11, Sukagalih, Sukajadi, kota Bandung. Di kamar ini ditemukan bukti adanya hubungan antara Sisca Yofie dan seorang anggota Polri berupa surat-surat dan catatan buku harian Sisca. Dalam catatan tersebut, termasuk di Facebook, antara lain juga terdapat ungkapan rasa benci Sisca Yofie terhadap si oknum. “Ada catatan keluhan-keluhan almarhumah (Sisca Yofie) diperlakukan tidak baik oleh si oknum ini. Dan korban benci, marah, mencaci maki kepada si oknum Polri ini,” bilang Kombes Pol. Drs. Sutarno. Kombes Pol. Drs. Sutarno memastikan jajarannya sudah meminta keterangan sang oknum perwira. “Si oknum ini kini sedang diproses melakukan pelanggaran disiplin oleh Propam Polda,” imbuh dia.

Hubungan antara kemarahan itu serta hubungannya dengan Komisaris Polisi AEB, kini ditelisik polrestabes Bandung. Namun, polisi tidak menemukan keterlibatan Kompol AEB dalam pembunuhan Sisca. Menurut Kombes Pol. Drs. Sutarno, tidak ada bukti yang mengaitkan AEB pada pembunuhan Sisca. “Surat-surat Kompol AEB pada Sisca pun tak ada yang berisi ancaman,” tegas Kombes Pol. Drs. Sutarno. Sejauh ini, Polrestabes Bandung menegaskan tidak ada bukti keterlibatan AEB dalam pembunuhan Sisca Yofie.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Barat (Jabar) Inspektur Jenderal Polisi Drs. Suhardi Alius, M.H. mengklaim sudah memberikan intruksi kepada Polrestabes Bandung agar segera mengungkap motif pembunuhan wanita cantik tersebut. Kapolda Jabar Inspektur Jenderal Polisi Drs. Suhardi Alius, M.H. mengaku sudah memerintahkan Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Bandung supaya transparan mengusut kasus pembunuhan terhadap korban yang bernama Franceisca Yofie (34) alias Sisca, tak terkecuali dengan munculnya nama seorang oknum perwira menengah polisi di seputar kasus itu. Kapolda Jabar Inspektur Jenderal Polisi Drs. Suhardi Alius, M.H. menyatakan tidak akan menutup-nutupi kasus pembunuhan Franceisca Yofie alias Sisca. Irjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. menyatakan telah menginstruksikan pada Kapolrestabes Bandung untuk membuka dan mengungkap jika memang benar ada keterlibatan oknum anggota polisi dalam kasus ini. “Saya bilang, ungkap semuanya, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Kalau memang ada keterlibatannya, sapu semuanya. Itu perintahnya,” tukas Irjen. Pol. Suhardi Alius. Hal itu disampaikan Irjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. saat ditemui selepas usai menghadiri acara Halal Bihalal di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, Selasa (13/8/2013).

Kapolda Jabar Irjen Pol. Suhardi Alius menegaskan ia sudah meminta Kapolrestabes Bandung menggelar ekspose kasus pembunuhan itu siang ini. "Siang ini Polrestabes Bandung akan ekspos. Saya minta pada Kapolrestabes untuk ungkap semuanya," ujar Suhardi. “Nanti siang, saya minta Kapolrestabes (untuk) ekspose, lengkap semuanya. Nanti boleh ditanya, jam 1 sama Pak Kapolrestabes,” tandasnya lagi. “Ekspose ini sangat penting, dengan begitu akan memudahkan penyidikan lebih lanjut. Kita jangan menduga-duga dan berasumsi,” tegas Irjen. Pol. Suhardi Alius, Selasa (13/8/2013).

Saat disinggung soal adanya dugaan hubungan Sisca dengan anggota polda Jawa Barat, Kompol AEB., Kapolda Jabar pun menyatakan tidak akan menutup-nutupi jika memang ada kaitannya. Irjen Pol Suhardi Alius pun menegaskan agar semua yang terlibat diusut. "Jika memang ada oknum yang terlibat, sapu semua tidak ada urusan," ujar Jenderal polisi bintang dua tersebut. "Soal itu nanti dijelaskan semuanya. Kita tidak bisa menduga-duga, tidak boleh berasumsi-asumsi. harus berdasarkan fakta. Itu yang saya minta. Saya bilang, ungkap semuanya, tidak boleh ditutup-tutupi," tuturnya. Kapolda Jabar Irjen Pol. Suhardi Alius juga membenarkan oknum perwira menengah yang bertugas di Polda Jawa Barat, yang disebut-sebut dalam kasus itu, telah menjalani pemeriksaan terkait kasus itu. "Iya, pokoknya semuanya, apa pun yang ada hubungannya sama itu saya periksa. Bikin terbuka semuanya, dan saya minta sama Pak Kapolrestabes, buka,” cetusnya.

Inspektur Jenderal Polisi Drs. Suhardi Alius, M.H. menambahkan, pihaknya sudah membentuk tim sendiri untuk mengungkap kasus tersebut. "Bahkan saya perbantukan dari Polda untuk mengungkap motif kasus tersebut. Kalau terlibat tidak ada urusan. Kalau terlibat ya, tapi kita tidak boleh berasumsi," tukas Jenderal polisi bintang dua tersebut. (det/tem/lip6)

See Also

Bareskrim Polri Tetap Usut Korupsi PD Sarana Jaya
KPK Perpanjang Penahanan Kadis PUPR Mojokerto
Bareskrim Polri Tahan 7 Tersangka Terkait Kasus Praktik Bank Gelap Hanson International
KPK Perpanjang Penahanan Dirut PT. CMI Teknologi Rahardjo Pratjihno
KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.383.292 Since: 05.03.13 | 0.2192 sec