Redaksi

Saya Murid Dari Seorang Pejuang

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Thursday, 17 Desember 2015 | View : 365

SBN.

Rabu (16/12/2015) di Pakuwon Trade Center (PTC), Jl. Puncak Indah Lontar Barat (Lontar) 2, Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Jatim) akhirnya saya bertemu dengan Meriana Rungkat, suami dan anak perempuannya yang cantik. Pertemuan seperti ini diberi nama olehnya kopdar (kopi darat).

Seharian saya menjadi juri Campus Sosial Responsible (CSR) Dinas Sosial dengan harian pagi Jawa Pos. Inginnya memeluk erat namun ada 2 persoalan yang saya hadapi. Pertama saya belum mandi. Kedua saya takut memberi kuman akibat dari belum mandi. Karena itu saya terlihat kaku.

Cantik sekali dengan kulit yang bersih sekali. Sungguh nampak sangat hidup. Tidak ada yang bisa saya berikan kecuali saya menyediakan telinga saya. Saya mendapatkan ceritanya. Dimulai dari energi yang menurun yang dikira karena sakit biasa. Tetapi ternyata masalah yang dihadapi di luar dugaan sama sekali. Dia didiagnosis kanker darah jenis yang ganas dengan stadium 4.

Saya baru tahu kalau penderita kanker darah treatmentnya lebih berat dari jenis kanker yang lain. Dalam hitungan jam saja hidup Meriana Rungkat berubah seratus delapan puluh derajat. Dua anaknya segera dipindah ke Surabaya dari Manado. Suami menyusul Meriana Rungkat ke Singapore. Tinggal di sana berbulan-bulan untuk berobat. Dinyatakan bersih dari kanker lalu kambuh lagi.

Saya membayangkan berapa banyak energi yang dikeluarkan untuk menghadapi semua itu. Luar biasa besar. Tak dikatakan namun saya tahu kalau yang dihadapi sungguh tidak mudah. Ketika saya tanya siapa yang bisa mendukungmu? Jawabnya hanya Tuhan. Dia bersyukur punya suami dan keluarga yang luar biasa. Pada akhirnya urusannya adalah dia dengan Sang Pemberi Hidup.

Katanya pasien kanker itu hanya ingin didengarkan. Tidak perlu dinasehati. Toh yang menasehati kebanyakan belum pernah kena kanker. Dari mana mereka tahu apa yang terjadi di hati penderita kalau tidak punya pengalaman. Hanya dengarkan saja. Mengapa orang kena kanker? Pertama karena genetis. Kedua karena masalah metabolisme tubuh dan ketiga karena tidak beruntung. Dia menduga dia kena kanker karena di masa lalu menjalani hidup yang tidak sehat ketika dia meraih Sarjana Theologi (S.Th.) di Manado.

Meriana Rungkat pernah koma. Setelah dia bangun kembali terjadi transformasi. Dia mendapatkan misi yakni mendampingi orang-orang penderita kanker. Lalu dia bangkit dari ranjang dan mendatangi pasien satu persatu. Tindakannya ini mengubah suasana hati orang-orang yang didampingi. Mula-mula paramedis di Singapore protes namun kemudian dia malah sengaja ditempatkan sebagai pendamping. Saya yakin pengaruh yang ditimbulkan sangat luar biasa karena persamaan pengalaman yang terjadi.

Sungguh luar biasa tindakannya ini. Pada umumnya orang menghindari terlibat pada masalah yang ingin dihindari. Namun Meriana Rungkat berani dan memberi kontribusi luar biasa pada orang-orang yang mendapat sentuhannya.

Sungguh hati saya ingin menghibur dia. Namun saya sadar sekali bahwa kata-kata saya sama sekali tidak ada maknanya. Yang bisa saya lakukan adalah mendoakannya. Menurut saya ini WILAYAH MISTERIUS yang saya sama sekali tidak terkait. Hanya Meriana Rungkat yang bisa mencari jawaban atas misteri tersebut.

Saya juga punya misteri sendiri. Namun jenisnya berbeda. Misteri terbesar saya adalah soal relasi. Saya berjuang keras untuk bisa memahami arti berelasi dengan orang lain. Pertanyaannya relasi dalam hidup saya itu berjenjang atau tidak perlu ada jenjang? Yang jelas adalah relasi itu digerakkan oleh kepedulian. Saya ingin berubah menjadi orang yang bisa memberikan kepedulian secara efektif.

Meriana Rungkat saya speechless. Saya tersanjung bisa bertemu dengan Anda dan keluarga. Saya ingin belajar banyak dari kehidupanmu. Kau guru saya dalam memberi kepedulian pada orang-orang yang mengalami masalah seperti yang kau hadapi. Doa dengan luapan cinta dari saya semoga membantu. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.609.060 Since: 05.03.13 | 0.1187 sec