Redaksi

Inner Power Dan Psikologi Positif

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Monday, 14 Desember 2015 | View : 420

SBN.

Saya bersyukur karena menemui banyak kebetulan yang memudahkan pencapaian misi hidup. Karena saya berjaringan dengan teman-teman yang jadi dosen di Fakultas Psikologi Widya Mandala Surabaya maka saya dapat akses program mereka. Salah satu pengembangan diri yang dengan sengaja saya lakukan adalah mengikuti dan atau presentasi di conferece dan lokakarya tingkat nasional maupun internasional.

Fakultas Psikologi Widya Mandala dalam lustrum ke-17 mengadakan lokakarya dan conference nasional. Rencana saya mau ikuti semua termasuk mau jadi pemakalah. Sayang saya hanya bisa ikut conference hari Sabtu 12 Desember 2015 dan tidak punya waktu membuat abstrak dan naskah.

Di conference saya bertemu dengan cerita pendirian psikologi positif yang dimotori Seligman dan coleganya dari Universitas Pennsylvania Amerika yang pada saat itu menjadi presiden dari American Psychology Association. Informasi ini disampaikan oleh key note speaker dari Fakultas Psikologi Widya Mandala, Ibu Nurlaila.

Psikologi positif bermula dari cerita anak Seligman berusia 6 tahun yang bermain daun kering. Lalu Seligman memarahi anak ini. Anak ini marah lalu masuk kamar selama 1 jam. Setelah itu dia keluar dari kamar dan mengajak dialog Bapaknya. Dialog inilah yang membangkitkan insight/kesadaran Seligman tentang ilmu psikologi. Anak berkata:”Daddy saya tidak lagi bertelanjang setelah berusia 5 tahun karena SAYALAH YANG MEMUTUSKAN bukan karena Daddy yang meminta. Karena itu mengapa Daddy tidak MEMUTUSKAN mengubah perilaku Daddy yang suka marah dan suka cemberut”. Kata-kata anaknya itu langsung membangkitkan kesadarannya tentang praktek psikologi yang dipimpinnya itu.

Setelah perang dunia ke-2 psikologi fokus pada menyembuhkan gangguan kesehatan mental. Tujuan ilmu psikologi yang lain yakni mengidentifikasi dan memelihara bakat, potensi dan mengembangkan kekuatan manusia dan yang kedua adalah membantu manusia untuk hidup lebih produktif dan bermakna nyaris tidak dilakukan. Seligman sadar psikologi terlalu fokus pada ingin memperbaiki kerusakan setelah perang dunia ke-2.

Berkat kesadarannya itulah lalu dia mengembangkan 2 aspek ilmu psikologi yang dinamakan PSIKOLOGI POSITIF. Lalu dia mengajak rekan yang lain yang juga siap untuk memasuki paradigma baru karena juga pengalaman pribadinya. Psikologi positif didirikan pada tahun 2002 bersama rekan-rekannya yang mendukung. Dengan pesat banyak penelitian telah dihasilkan. Jurnal pertama tentang psikologi positif tahun 2006. Lalu didirikan Asosiasi Psikologi Positif di mana-mana. Ilmunya berkembang pesat. Ternyata terbukti lebih praktis dan operasional ketimbang psikologi humanistik (yang memiliki kemiripan).

Conference di Widya Mandala membangkitkan semangat untuk mendirikan Asosiasi Psikologi Positif Indonesia. Kajian psikologi positif tentang antara lain flow, happiness, subjective well being, psychological well being, emotional well being/flourishing, engagement, work-life balance, psychological capital, positive organizational scholarship, positive organization behavior, PERMA (positive emotion, engagement, relationship, meaning, accomplishment.

Topik-topik tersebut terkait dengan ide inner power yang saya gagas. Karena itu saya mau masuk ke dalam rumah PSIKOLOGI POSITIF sebagai sumber pengembangan ilmu dan dasar berpraktek saya. Namun dasar operasional kerja saya tidak hanya psikologi positif. Ada dasar dari sosiologi, pendidikan, religiositas. Dalam waktu dekat ini saya dengan orang yang menekuni psikologi positif ini hendak melakukan penelitian dengan berbasiskan kerangka kerja psikologi positif.

Dunia memang sedang membutuhkan pikiran, emosi dan spirit positif untuk bisa bertahan dan berkembang. Psikologi positif mendapat sambutan meriah dan telah berkembang ke seluruh dunia. Mereka mentargetkan membahagiakan manusia di dunia. Tidak ada salahnya menjadi bagian dari proses ini.

Cerita yang saya dapatkan sekali lagi meneguhkan insight saya tentang manusia. Bahwa manusia itu sangat komplek dan multi dimensi. Pendekatan parsial yang begitu dominan selama ini terbukti gagal.

Psikologi ilmu yang masih muda. Jasa dari perang dunia ke-2 terhadap ilmu psikologi adalah ditemukannya 14 macam gangguan jiwa melalui dana yang dicurahkan untuk isu memperbaiki gangguan mental. Di psikiatri gangguan jiwa ini telah memiliki standar operasional untuk menentukan diagnosis, prognosis dan treatment.

Jadi masih banyak spekulasi dan masih mencari penemuan yang akurat. Hidup berlanjut terus, karena itu yang paling murah dan meriah adalah KEMBALI PADA SUMBER KEKUATAN YANG ADA DI DALAM DIRI KITA. Hati adalah guru terbaik kita. Karena itu jagalah hati agar bisa berfungsi maksimal. Dialah yang akan menuntun kita untuk menemukan kebenaran. Kebenaran yang sedang di cari di luar juga merupakan isu yang penting yang harus kita dukung. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.600.958 Since: 05.03.13 | 0.1231 sec