Redaksi

Program Kembali Ke Sekolah Dinas Sosial, Kampus, Dan Jawa Pos

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Monday, 14 Desember 2015 | View : 419

SBN.

Kembali saya, Dra. Esthi Susanti Hudiono, M.Si. dari Yayasan Hotline Surabaya jadi juri untuk menentukan mahasiswa terbaik yang ikut program Campus Social Responsibility yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Kota Surabaya bekerja sama dengan 21 perguruan tinggi di Surabaya dan harian pagi Jawa Pos. Juri yang dipilih adalah saya Dra. Esthi Susanti Hudiono, M.Si. dari Yayasan Hotline Surabaya, Diyan Wahyuningsih dan Firzan Syahroni.

Saya sangat menikmati presentasi mahasiswa yang berhadapan tidak hanya anak-anak yang putus sekolah tetapi juga masalah-masalah besar yang dihadapi manusia yang tinggal di kota Surabaya. Dinas Sosial Kota Surabaya mengadakan program Campus Social Responsibility dengan tujuan mencari dan mendampingi anak-anak yang putus sekolah yang memiliki masalah penyandang kesejahteraan sosial.

Mahasiswa yang terseleksi didampingi satgas dari Dinas Sosial mendampingi anak-anak putus sekolah agar termotivasi kembali sekolah. Ternyata banyak anak-anak dampingan mereka memiliki masalah berat. Salah satunya adalah anak dari penjaja seks yang tidak diakui ibunya. Dia dipelihara seorang nenek yang keluarganya tidak setuju anak tersebut masuk ke dalam Kartu Keluarga. Anak ini didampingi oleh Imma dari Universitas dr. Soetomo, Jl. Semmolowaru No.84, Surabaya, Jawa Timur. Anak tersebut dengan bantuan lurah setempat berhasil sekolah SMP 8.

Contoh lainnya adalah anak epilepsi yang diasuh single parent. Ibunya malu memiliki anak epilepsi. Anak ini baru menikmati bangku sekolah kelas 1 SD lalu keluar. Anak penderita epilepsi tidak boleh capai dan stress. Merupakan tantangan tersendiri menyekolahkan anak seperti ini. Anak ini didampingi Nurlayliya dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Jalan Ahmad Yani No.117, Surabaya, Jawa Timur. Masalah tidak hanya urusan sekolah tetapi kesehatan.

Saya mengapresiasi program ini karena memberi ruang ke mahasiswa untuk membangkitkan jiwa sosial. Ada mahasiswa dari Magetan terkejut sekali melihat ada rumah petak 4X4 berderetan dengan penghuni sekeluarga 8 orang. Banyak dari mereka yang merelakan uang sakunya untuk menutup biaya pendaftaran atau uang baku.

Cerita mereka memberi gambaran denyut nadi masyarakat yang berhadapan dengan masalah di tingkat kebutuhan dasar. Semoga program kolaborasi pemerintah dengan perguruan tinggi bisa menjadi cara jitu untuk mengatasi rantai kemiskinan dan kebodohan. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.611.327 Since: 05.03.13 | 0.1245 sec