Hukum

Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Resmi Melapor Ke Polda Metro Jaya

Thursday, 17 Desember 2015 | View : 2605

JAKARTA-SBN.

Yusri Isnaeni (32), warga Jalan Mahoni di Gang I Blok A, Legoa, Jakarta Utara, berencana melaporkan Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. yang akrab disapa “Ahok ke Polda Metro Jaya (PMJ), Rabu (16/12/2015).

Yusri Isnaeni berencana menuntut mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta masa jabatan 15 Oktober 2012-16 Oktober 2014, Basuki Tjahaja Purnama setelah ia dimarahi terkait aduan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP) di DPRD DKI, beberapa waktu lalu. Ibu ini merasa tidak terima karena disebut maling oleh Basuki Tjahaja Purnama.

Yusri Isnaeni, 32, seorang warga yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama akhirnya menyambangi markas Polda Metro Jaya. Tujuan kedatangannya adalah untuk melaporkan Ahok, sapaan Basuki Thahja Purnama. Dia didampingi oleh Advokasi Pendidikan Jakarta Utara, Alexander Fahlevi dan Gerakan Masyarakat Peduli Anti Narkoba, Muhammad M. Nur.

Yusri Isnaeni merasa dirinya dilecehkan oleh perkataan Basuki Tjahaja Purnama saat hendak mempertanyakan perihal Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk anaknya. "Saat itu saya ingin mempertanyakan langsung kepada Ahok tentang KJP, kenapa saat saya ingin belanja seragam sekolah untuk saat anak saya dipersulit. Dengan alasan Bank DKI lagi Offline," beber Yusri Isnaeni di Mapolda Metro Jaya, Jl. Jenderal Sudirman Kav 55, Jakarta, Kamis (17/12/2015).

Tak hanya itu, Yusri Isnaeni dituding sebagai maling sambil ditunjuk-tunjuki oleh Basuki Tjahaja Purnama. Oleh karenanya Yusri Isnaeni juga melaporkan Basuki Tjahaja Purnama ke Komnas Perempuan dan Komnas HAM. Selain melapor ke Polda Metro Jaya (PMJ), Yusri Isnaeni juga akan melaporkan Basuki Tjahaja Purnama ke Komnas Perempuan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Yusri Isnaeni mengatakan, dirinya akan melaporkan Ahok ke Komnas HAM, Komnas Perempuan, KPAI, dan Polda Metro Jaya besok hari, Rabu (16/12/2015). Laporan ke KPAI dilakukan karena anaknya menjadi bahan omongan dan olokan dari teman-temannya. "Makanya saya mau melapor ke KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), Rabu saya urus semua. Saya juga mau melapor ke LBH, Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan Polda," tegas Yusri Isnaeni.

Tak hanya itu, Yusri Isnaeni (32 tahun) juga akan mengajukan gugatan Rp 100 miliar kepada mantan Bupati Belitung Timur ke-1 masa jabatan 3 Agustus 2005-22 Desember 2006.

Yusri Isnaeni, seorang ibu rumah tangga, berniat untuk menggugat Gubernur DKI‎ Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sebesar Rp 100 miliar. Yusri Isnaeni berencana menggugat mantan Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta masa jabatan 1 Juni 2014-22 Juli 2014, Basuki Tjahaja Purnama hingga Rp 100 miliar. Bahkan, lanjut dia, nilai itu tidak sebanding dengan harga dirinya yang telah direndahkan oleh sang Gubernur. Menurut dia, gugatan Rp 100 miliar itu tidak sebanding dengan perlakuan yang dia terima.

Yusri Isnaeni tak bisa menahan kekesalannya setelah dimarahi oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada Jumat (11/12/2015) lalu. Ia mengaku sakit hati dengan ucapan yang disampaikan Ahok, sapaan Basuki Tjahaja Purnama. ‎"Iya saya gugat Rp 100 miliar," kata Yusri Isnaeni saat dihubungi, Selasa (15/12/2015).

Hal ini berawal pada saat Yusri Isnaeni menanyakan sulitnya pencairan dana Kartu Jakarta Pintar milik anaknya, Anggun Hanna Dwi Renjani.

Basuki Tjahaja Purnama menuding Yusri Isnaeni sebagai seorang maling karena diduga telah menyelewengkan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP).

"Saya tidak terima dikatakan maling, kalau maling itu kan mengambil hak milik orang lain. Ini kan KJP atas nama anak saya kok, saya maling apanya," tandas Yusri Isnaeni.

Yusri Isnaeni mengungkapkan, gugatan sebesar Rp 100 miliar tidak sebanding dengan hinaan terhadap dirinya. "Saya sudah dihina sama beliau (Ahok)," ucapnya.

Adapun Yusri Isnaeni berniat melaporkan mantan anggota Partai PPIB (2004-2008) dengan tuduhan pencemaran nama baik, Rabu (16/12/2015). Pencemaran nama baik terhadap Yusri Isnaeni saat Basuki Tjahaja Purnama mengatakan bahwa dirinya adalah maling.

Basuki Tjahaja Purnama diduga melanggar Pasal 310 KUHP terkait pencemaran nama baik dan Pasal 311 KUHP terkait fitnah.

"Besok saya rencananya mau lapor ke Kapolda. Saya masih bicarakan dulu dengan teman-teman saya," tukas Yusri Isnaeni.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tidak akan minta maaf kepada Yusri Isnaeni yang melaporkan dirinya ke Polda Metro Jaya (PMJ) terkait pencemaran nama baik.

Yusri Isnaeni merupakan ibu yang dimarahi Ahok, sapaan Basuki Tjahaja Purnama, saat hendak melaporkan pencairan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP). "Ngapain saya minta maaf sama orang yang mencuri uang rakyat," cetus Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat, Kamis (17/12/2015). 

Mantan Bupati Belitung Timur ini mengatakan, Yusri Isnaeni telah melakukan kecurangan terkait penggunaan KJP. Dalam Peraturan Gubernur (PerGub) yang mengatur KJP, tidak bisa ditarik menggunakan uang kontan. Namun, Yusri Isnaeni mengaku mengambil uang kontan.

"Kalau kamu mengambil uang kontan itu pelanggaran. Makanya saya bilang mencuri uang. Saya harus menjaga uang rakyat supaya tidak dicuri. Kalau Anda mau menguangkan, berarti Anda mengambil uang yang bukan hak Anda, itu mencuri," ucap Basuki Tjahaja Purnama.

Alexander Fahlevi perwakilan dari Advokasi Pendidikan Jakarta Utara menuntut Basuki Tjahaja Purnama sebesar Rp 100 Miliar sebagai ganti rugi. 

Sebab, karena dituding maling oleh Basuki Tjahaja Purnama, para tetangganya Yusri Isnaeni ikut mencemooh Yusri Isnaeni dengan meneriaki maling.

"Anaknya pun terkena dampak psikologis karena diejek disekolah sampai tidak mau sekolah, untung dibujuk ibunya akhirnya mau sekolah lagi," tegas Alexander Fahlevi.

Alexander Fahlevi juga menuntut Basuki Tjahaja Purnama agar meminta maaf secara terbuka dan dihadapan media. Dengan begitu, nama citra Yusri Isnaeni di mata masyarakat bisa baik kembali.

Cerita berawal ketika Yusri Isnaeni hendak membelanjakan peralatan untuk sekolah anaknya di Pasar Koja, Jakarta Utara. Saat itu, rupanya dana KJP milik anaknya tak dapat digunakan karena para pedagang di sana mengatakan sistem saat itu sedang offline.

Yusri Isnaeni mengaku sudah mencoba empat kali di beberapa toko yang ada di sana. Namun, ia merasa dipersulit karena toko yang ia sambangi mengaku sistem dengan Bank DKI sedang offline.

"Kemudian ada saran dari pedagang di toko sebelumnya, katanya bisa dicairin dananya dulu di salah satu toko. Akhirnya saya cairkan di toko kelima," kata Yusri Isnaeni, saat dihubungi awak media, Selasa (15/12/2015).

Dirinya melanjutkan, ia berhasil mencairkan Rp 300.000 uang KJP di toko tersebut. Namun, pada struk penarikan ternyata dana yang terpotong Rp 330.000. Adanya potongan Rp 30.000 itu yang hendak ia konfirmasi ke Gubernur DKI Jakarta dengan sapaan Ahok itu.

"Potongan Rp 30.000 itu yang saya mau tanyakan apakah peraturan pemerintah atau bagaimana. Tapi Pak Ahok malah marah-marah sama saya, bilang ke saya, 'Ibu maling... ibu maling', sampai tiga kali. Terus sambil nunjuk-nunjuk ke saya, mukanya juga merah. Dia minta stafnya catat saya. Saya jadi malu waktu itu," terang Yusri Isnaeni.

Padahal, Yusri Isnaeni berharap Basuki Tjahaja Purnama sebagai sosok pemimpin DKI menerima aduannya, atau mengajaknya berbicara mengenai masalah tersebut.

Yusri Isnaeni juga tak tahu kalau mencairkan dana KJP adalah melanggar. Sebab, ia hanya mengikuti saran dari pedagang di Pasar Koja.

"Waktu itu toko sebelumnya (pencairan) yang kasih saran. Saya cuma ikut saja. Saya juga enggak tahu (mencairkan dilarang)," jelas Yusri Isnaeni.

Dirinya tak ingat nama toko tempat ia dapat mencairkan dana KJP. Pada struk penarikan pun nama toko sudah dihilangkan dengan cara disobek pedagang di toko tempatnya mencairkan dana.

Sementara di sisi lain, Yusri Isnaeni hanya berniat mengadu serta mempertanyakan mekanisme penggunaan KJP. Akibat tudingan dan bentakan Basuki Tjahaja Purnama itu, Yusri Isnaeni mengaku menerima banyak cercaan pada dirinya. 

"Saya ini seorang ibu. Seandainya anak saya yang ibunya dikatakan maling, pasti dia benar-benar kesal kan ya. Coba lihat di YouTube, kok kayaknya rendah banget harga diri seorang wanita," kata Yusri Isnaeni saat dihubungi wartawan, di Balai Kota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat, Selasa (15/12/2015).

"Saya seorang ibu. Seandainya ibunya dia dikatakan maling pasti dia kesal ya. Kayaknya rendah banget harga diri seorang wanita," ungkap Yusri Isnaeni.

Tak hanya itu, lanjut dia, sang anak yang juga siswi di SD Al Khairiyah, Jakarta Utara, diolok-olok oleh temannya. Anaknya menjadi bahan pergunjingan di sekolah serta lingkungan rumahnya.

Karena itu, ia meminta Basuki Tjahaja Purnama untuk meminta maaf di publik. Selain itu, Yusri Isnaeni juga meminta Basuki Tjahaja Purnama agar menyampaikan permintaan maaf kepada dirinya ke publik dan ganti rugi sebesar Rp 100 miliar.

Yusri Isnaeni meminta Basuki Tjahaja Purnama untuk tidak selalu meremehkan rakyat kecil. Yusri Isnaeni meminta Basuki Tjahaja Purnama supaya tidak meremehkan rakyat kecil. ‎Selain itu, suami Veronica Tan itu juga harus menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

"Tolong atas nama anak saya, jangan dicabut KJP-nya. Kalau dicabut kok keterlaluan banget, ini namanya Pak Gubernur mau menang sendiri. Karena Pak Gubernur enggak melihat rakyatnya yang kesulitan," kata Yusri Isnaeni.

Yusri Isnaeni mengatakan, permasalahan penggunaan KJP juga dirasakan oleh wali murid lainnya. Jika ingin belanja kebutuhan sekolah di toko, sang pemilik toko selalu mengatakan bahwa proses pembayaran melalui KJP tengah offline.

Dengan begitu, toko tersebut meminta wali murid untuk mencairkan dana KJP terlebih dahulu untuk bisa membeli perlengkapan sekolah.

"Toko di Pasar Koja itu yang bilang, kalau mau belanja seragam sekolah harus dicairkan dulu uangnya. Saya dapat KJP sudah dipotong 10 persen dan ini terjadi di semua wali murid. Terus tokonya minta uang juga," kata Yusri Isnaeni.

Seperti dikabarkan sebelumnya, seusai mengikuti rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dicegat dua wanita paruh baya. Perempuan itu mencegat Basuki Tjahaja Purnama yang baru mengikuti rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI. Mereka mengadu perihal pencairan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Basuki Tjahaja Purnama menerima aduan kedua wanita berjilbab tersebut. Sekitar dua menit meladeni laporan itu, Basuki Tjahaja Purnama menjawab dengan nada meninggi. Basuki Tjahaja Purnama memarahi perempuan bernama Yusri Isnaeni itu. Dia menuding ibu itu termasuk oknum penyeleweng KJP.

"Ibu kenapa cairin duit KJP di toko? Ini bukan tokonya yang salah, melainkan ibu yang salah," tukas Basuki Tjahaja Purnama.

"Bukan cuma toko yang maling. Ibu juga maling. Catat namanya, periksa, penjarain saja dia," kata Basuki Tjahaja Purnama ketus sambil terus menunjuk-nunjuk dua wanita itu, Yusri Isnaeni dan seorang rekannya.

Ia kemudian menginstruksikan ajudannya untuk mencatat nama wanita pelapor KJP tersebut.

Muka Basuki Tjahaja Purnama terlihat memerah ketika memarahi mereka. Tindakan Basuki Tjahaja Purnama itu sempat menarik perhatian para Pegawai Negeri Sipil (PNS) DKI dan anggota DPRD DKI yang berseliweran di Gedung DPRD.

Muka kedua wanita itu terlihat terus menunduk dan kebingungan akibat diancam serta dimarahi Basuki Tjahaja Purnama. Kemudian, ajudan Basuki Tjahaja Purnama mencatat data pelapor KJP.

Setelah mendengar aduan sang ibu, ajudan Basuki Tjahaja Purnama mengimbau agar mengadu di Balai Kota saja, bukan di Gedung DPRD.

"Nanti kalau mau mengadu lagi, di Balai Kota saja, Bu. Kalau di sini enggak enak, susah bicaranya juga," kata ajudan itu. 

Kemudian, salah seorang wanita yang bernama Yusri Isnaeni mengaku hanya berniat bertanya kepada Basuki Tjahaja Purnama perihal pencairan dana KJP. Kini, dana KJP sudah tidak bisa ditarik tunai, tetapi melalui sistem non-tunai.

"Saya bingung, Pak Gubernur malah menyalahkan saya. Mungkin Pak Gubernur malu kali ya kenapa saya cerita di umum, harusnya kalau beliau datang ke kantor, ngomong secara lisan dan tidak dibuka untuk umum. Saya ingin ada perubahan mekanisme penggunaan KJP, jangan dipersulit," jelas Yusri Isnaeni.

Gubernur DKI Jakarta Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. yang akrab disapa "Ahok" tidak mempersoalkan rencana Yusri Isnaeni yang ingin menggugatnya sebesar Rp 100 miliar. "Santai saja," ungkap mantan Bupati Belitung Timur ini.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akan menggugat balik Yusri Isnaeni yang melaporkan dirinya ke Polda Metro Jaya terkait pencemaran nama baik.

Yusri Isnaeni merupakan ibu yang dimarahi Ahok, sapaan Basuki Tjahaja Purnama, saat hendak melaporkan pencairan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP). Basuki Tjahaja Purnama mengungkapkan, dirinya bisa menggugat Yusri Isnaeni karena telah menyalahgunakan KJP. 

Menurut Basuki Tjahaja Purnama, Yusri Isnaeni seharusnya mendampingi anaknya untuk membeli keperluan sekolah. "Ya sudah kamu gugat, kami juga akan penjarain kamu (Yusri). Sudah jelas kamu mencuri KJP, tapi tidak terima dibilang mencuri," tegas Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat, Kamis (17/12/2015).

Mantan Bupati Belitung Timur ini mempunyai bukti terkait kecurangan yang dilakukan Yusri Isnaeni. "Saya ada Pergub (Peraturan Gubernur) yang mengatur KJP enggak bisa ditarik uang kontan. Sekarang ibu itu mengaku mengambil uang kontan," tutur Basuki Tjahaja Purnama.

Ia menjelaskan, Yusri Isnaeni seharusnya mendampingi anaknya untuk membeli perlengkapan sekolah dengan menggunakan KJP. "Ya sudah kamu gugat, saya gugat. Kita proses aja," ungkap Basuki Tjahaja Purnama. 

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjelaskan alasannya membentak seorang ibu yang mengadu perihal Kartu Jakarta Pintar (KJP) pada Kamis (10/12/2015) lalu.

"Kami lagi cek. Prinsipnya dia sudah mengakui kalau dia menarik kontan KJP," terang Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat, Senin (14/12/2015).

Padahal, lanjut dia, kini KJP sudah tidak bisa ditarik tunai lagi. KJP hanya dapat digunakan secara non-tunai atau tap melalui alat Electronic Data Capture (EDC).

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akan melaporkan toko yang mencairkan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP) di Pasar Koja, Jakarta Utara, ke Kepolisian.

Hal ini terkait laporan Yusri Isnaeni, yang mengaku mencairkan dana KJP di sebuah toko di Pasar Koja. Ketika itu Basuki Tjahaja Purnama saat itu membentak Yusri Isnaeni dan menuding perempuan itu mencuri.

"Kami lagi cek toko yang mana, kami akan proses ke Polda. Ini tuh penyimpangan," tegas Basuki Tjahaja Purnama, di Balai Kota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka Selatan No.8-9, Jakarta Pusat, Selasa (15/12/2015).

Menurut Basuki Tjahaja Purnama, toko yang mencairkan dana KJP juga bermain sehingga Basuki Tjahaja Purnama mengatakan bakal mengkaji masalah itu lebih lanjut.

"Kalau perlu, kami lapor sekali. Jadi, banyak sekali toko itu jualan duit lebih untung dibanding jualan barang," kata Basuki Tjahaja Purnama.

Sebab, sambung dia, ibu itu juga memberi "komisi" sebesar 10 persen untuk toko tersebut. "Toko ini jualan duit dapat 10 persen, itu kejahatan. Yang main-main kayak gitu, kami akan coret (KJP-nya)," kata Basuki Tjahaja Purnama.

Mantan anggota Partai Golongan Karya/Golkar (2008-2012), Basuki Tjahaja Purnama menegaskan, sebagai pejabat publik ia harus melindungi KJP agar tidak diselewengkan.

Namun menurut Basuki Tjahaja Purnama yang dilakukan Yusri Isnaeni sudah salah karena mencairkan dana KJP dan memberi komisi sebesar 10 persen kepada toko.

"Kamu bagi hasil bareng toko, itu pencurian loh. Sebagai pejabat publik, saya sebut itu pencurian. Karena di dalam UU Perbankan, ATM enggak boleh dipakai orang lain," kata mantan anggota Partai Gerakan Indonesia Raya/Gerindra (2012-2014), Basuki Tjahaja Purnama.

Perubahan sistem penggunaan KJP dari tarik tunai menjadi non tunai, tambah dia, membuat banyak pihak protes. Saat ini, masih ada sekitar 3-4 persen penyalahgunaan KJP.

"Tapi apakah dengan 4 persen penyalahgunaan KJP, terus saya hentikan KJP di Jakarta? Enggak bisa, karena masih ada 40 persen siswa yang membutuhkan itu," pungkas mantan anggota Komisi II DPR RI asal Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar), Basuki Tjahaja Purnama. (kom/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.501.638 Since: 05.03.13 | 0.1233 sec