Agama & Masyarakat

Indonesianis Benedict Anderson Meninggal Dunia

Sunday, 13 Desember 2015 | View : 866

MALANG-SBN.

Pemikir, pengamat, peneliti Indonesia, dan ahli kajian Indonesia asal Amerika Serikat (AS), Benedict Richard O'Gorman Anderson atau yang lebih dikenal dengan Benedict Anderson menutup mata dalam usia 79 tahun di kota administratif Batu, Wilayah Metropolitan Malang, Provinsi Jawa Timur (Jatim), Sabtu (12/12/2015) pukul 11.30 WIB.

Benedict Richard O'Gorman Anderson yang lahir di Kunming, China pada 26 Agustus 1936; umur 79 tahun adalah Aaron L. Binenkorb Profesor Emeritus of International Studies, Government & Asian Studies dalam bidang Studi Internasional di Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat (AS).

Kabar tutup usianya Benedict Anderson pada umur 79 tahun itu diperoleh dari akun Twitter dan Facebook resmi penerbit Marjin Kiri yang akan meluncurkan buku Benedict Anderson di Indonesia berjudul "Di Bawah Tiga Bendera".

"Meninggal waktu subuh di Batu," kata Ronny Agustinus, editor Marjin Kiri, Minggu (13/122015).

Kedatangan ahli Indonesia dari Cornell University, Amerika Serikat (AS), Benedict Anderson ke Indonesia dalam rangka menghadiri peluncuran buku tersebut.

Ben sapaan akrab Benedict Anderson wafat di Batu, Jawa Timur, setelah mengisi kuliah umum bertema "Anarkisme dan Nasionalisme" di kampus Universitas Indonesia (UI) pada Kamis (10/12/20150 lalu. Pada Kamis (10/12/2015) lalu, Benedict Anderson ke Indonesia juga baru untuk memberi kuliah umum di kampus Universitas Indonesia (UI), Depok tentang "Anarkisme dan Nasionalisme". Kegiatan ini diselenggarakan penerbit Marjin Kiri, Program Studi Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan majalah Loka.

Dalam akun Facebooknya, penerbit Marjin Kiri, mengatakan bahwa Benedict Anderson meninggal dunia (Sabtu) dini hari tadi di sebuah hotel di daerah Batu, Malang, saat beristirahat sehabis berjalan-jalan

Anak angkat Ben Anderson, Wahyu Yudistira mengatakan, Benedict Anderson tak memiliki penyakit khusus saat meninggal.

"Usianya sudah lanjut, capek saja, kelelahan," kata Wahyu Yudistira.

Menurut Wahyu Yudistira, Benedict Anderson berada di Jawa Timur untuk berjalan-jalan, bernostalgia di tempat-tempat yang pernah dia kunjungi sebelumnya, seperti Museum Mpu Tantular di Sidoarjo atau Candi Belahan di Mojokerto.

Minggu (13/12/2015) pagi, sekarang jenazah pria 79 tahun yang lebih dikenal dengan Benedict Anderson itu akan dibawa ke Surabaya dari Malang untuk disemayamkan. Jenazah kini disemayamkan di Rumah Duka Adi Jasa, Jl. Demak No.90-92, Gundih, Surabaya, Jawa Timur.

Ronny Agustinus mengatakan jenazah Ben sekarang dalam perjalanan ke Surabaya. "Teman-teman sedang berusaha menghubungi keluarga beliau di Amerika," beber Ronny Agustinus. Ronny Agustinus adalah penerjemah buku Ben, yaitu Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial.

Informasi yang dihimpun di rumah persemayaman Adi Jasa, Surabaya, penghormatan terakhir penulis buku berjudul Imagined Communities itu akan digelar pada Selasa (15/12/2015) lusa. "Jenazahnya tiba pukul 11.00 WIB tadi. Sekarang masih di cold storage (ruang pendingin). Pemakamannya Selasa lusa, sekitar pukul 9.00 WIB," ungkap salah satu petugas Adi Jasa, Hari, Minggu (13/12/2015).

Meski hanya sebentar, dua kerabat Benedict Anderson dan seorang sopir juga terlihat saat proses pemulasaran di ruang pendingin Adi Jasa. Namun, mereka tak bisa memberi keterangan apapun soal kematian sang Maestro. "Maaf, saya masih belum kuat," kata salah satu kerabat perempuan Benedict Anderson singkat.

Perempuan berkacamata inipun lalu meninggalkan lokasi, bersama kerabatnya yang lain.

Dan, sesuai permintaannya, Benedict Anderson ingin jasadnya dikremasi dan abunya disebarkan di Laut Jawa.

"Keluarga sudah diberitahu. (Mereka) Diusahakan secepatnya ke Indonesia. Saya dan keluarga kami sedang mengurus keperluan untuk kremasi," kata Wahyu Yudistira.

Informasi yang dihimpun awak media dari sejumlah kolega Benedict Anderson, Minggu (13/12/2015), penulis buku Imagined Communities itu berada di Batu usai melakukan perjalanan ke Jolotundo dari Surabaya. Benedict Anderson yang ditemani seorang sopir dan koleganya kemudian beristirahat di salah satu hotel di kawasan Batu, Malang.

Benedict Anderson sempat terbangun untuk ke kamar kecil dan kemudian melanjutkan tidurnya. Namun suara ngoroknya yang tidak biasa membuat sopir dan rekannya curiga yang membuat mereka berusaha membangunkan. Benedict Anderson tidak kunjung bangun. Keduanya mengira dia tidur terlalu lelap sampai kemudian ada yang tidak beres saat badannya kemudian mulai membiru.

Keduanya sempat menelepon rumah sakit untuk meminta bantuan medis namun tidak ada rumah sakit yang menjawab. Sempat cukup lama tidak tertangani di Hotel, Benedict Anderson kemudian dibawa ke salah satu rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia.

Benedict Anderson merupakan pengamat dan ahli kajian Indonesia asal Negeri Paman Sam. Semasa hidupnya, Benedict Anderson adalah pengkaji Asia Tenggara paling terkemuka di dunia. Salah satu cendekiawan yang pemikirannya turut mempengaruhi teori-teori tentang Indonesia. Bukunya yang terkenal adalah Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Bukunya, "Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism" dianggap sebuah karya klasik dalam ilmu sosial dan ilmu politik. Pada buku tersebut, Benedict Anderson menggambarkan secara sistematis menggunakan pisau analisis Materialis Dialektika Historis-nya Karl Marx.

Beberapa karya Benedict Anderson lainnya menjadi rujukan para akademisi dan mahasiswa di Indonesia seperti termasuk Java in a Time of Revolution, Debating World Literature, dan Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia.

Perjalanan karirnya diawali tahun 1966 dan 1984 dengan menjadi Editor Jurnal Interdisipliner Indonesia. Selain di Indonesia, pada medio 1970, Benedict Anderson juga menjadi pakar untuk regional Asia Tenggara. Contohnya mengenai konflik militer antara Kamboja, Vietnam, dan China.

Pria kelahiran Kunming, China pada 26 Agustus 1936 itu pernah dicekal pada masa Orde Baru. Pemikirannya yang kritis sempat membuatnya dilarang untuk menginjakkan kaki di Indonesia pada era Presiden Soeharto. Analisis dan pandangan-pandangannya yang kritis menyebabkan selama bertahun-tahun Benedict Anderson dilarang masuk ke Indonesia oleh pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.

Tempo edisi 15 Agustus 1981, menceritakan pengalaman Ben Anderson ditolak masuk ke Indonesia oleh petugas imigrasi. Alasannya sederhana: ia dianggap terlalu sering mengecam Pemerintah Indonesia terutama soal Timor Timur (Timtim). Pada 2 Agustus, ketika ia menginjakkan kakinya di Halim Perdanakusuma, Benedict Anderson diminta untuk kembali terbang meninggalkan Indonesia. Menurut Kepala Humas Imigrasi saat itu, Subagio, ia diterbangkan kembali karena terlalu keras mengkritik Pemerintah Indonesia.

Padahal Benedict Anderson telah mengantongi izin visa dari pemerintah. Namun, karena dianggap masih terus 'menjelek-jelekkan' Indonesia, ia pun kembali dilarang masuk. Seorang perwira tinggi yang diwawancarai Tempo saat itu juga menganggap Benedict Anderson lebih layak disebut politikus dibandingkan ilmuwan.

Dia pernah dilarang masuk ke Indonesia pada zaman Soeharto gara-gara karya tulisnya soal gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965 yang disebut sebagai "Cornell Paper". Benedict Anderson bersama Ruth McVey termasuk di antara sekelompok sarjana yang menyusun suatu makalah yang terkenal sebagai "Cornell Paper". Makalah ini berisi analisis tentang peristiwa G30S, dan menyimpulkan bahwa G30S adalah persoalan internal Angkatan Darat (AD) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dianggap tidak terlibat.

Baru setelah Soeharto jatuh dari panggung kekuasaannya, Benedict Anderson dapat kembali lagi berkunjung ke Indonesia. Dia baru berkunjung lagi ke Indonesia setelah Soeharto jatuh. Dia baru boleh kembali ke mengunjungi Indonesia pada 1999.

Kita kehilangan lagi seorang Indonesianis yang pengetahuan dan kecintaannya pada Indonesia amat mendalam...

Selamat jalan Oom Ben...

(tem/jos)

See Also

Kapolri Sebut Teringat Insiden Sweeping Sabuga Bandung
MUI Bantah Buat Spanduk Tolak Natal Di Pangandaran
Lepas Santri Ke Luar Negeri Di Momentum Hari Santri
Pesan K. H. Aniq Muhammadun Dalam Halalbihalal UMK
Forkopimda Kabupaten Demak Gelar Halal Bi Halal
Mahasiswa UMK Kembangkan Kap Lampu Bertema Kebangsaan Dan Pluralisme
Danpos-Babinkamtibmas Kebonagung Bersinergi Amankan Perayaan Kebaktian
Dandim 0716/Demak Tarling Perdana Bersama Bupati
Kodim 0716/Demak Dan GP Ansor Milik Warga Demak
Tangkal Radikalisme, Babinsa Bangun Komunikasi Dengan GP Ansor
Menangkal Gerakan Radikal Teroris Kaum Perempuan: Belajar Dari Sunan Kudus
Kepedulian Babinsa Kodim 0716/Demak Terhadap Tokoh Agama
Ngalap Berkah, Dandim 0716/Demak Ruwahan Dan Kirab Budaya
Bersama Bupati, Dandim 0716/Demak Buka Acara Tradisi Megengan Guna Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Kasdim 0716/Demak Hadiri Musyawarah Tamir Masjid Agung Demak
Danramil 03/Wonosalam Komsos Dengan Toga, Tomas, Dan Toda
Nuansa Religius Warnai HUT Kabupaten Demak Yang Ke-515
Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
UGM Tolak Usul Penerimaan Mahasiswa Lewat Kemampuan Baca Kitab Suci
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
Anton Ferdian Rilis Kisahku
Marie Muhammad Berpulang
K.H. Sofiyan Hadi Sebut Setiap Anak Itu Spesial
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.609.484 Since: 05.03.13 | 0.114 sec